ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label sinkronisasi editing film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinkronisasi editing film. Tampilkan semua postingan

REKAMAN GAMBAR SISTEM PLAY BACK LAGU

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Senin, 01 Desember 2008 0 komentar

Pengambilan gambar dengan sistem play back merupakan kebalikan sistem sistem dubbing. Pada metode ini suara film direkam dulu kemudian saat pengambilan gambar suara ini di play backan dan sang pemain film membuat gerakan lipsinc mulut agar sinkron dengan suara yang di play back lipsinchkan dari Nagra. Metode ini umumnya digunakan saat pengambilan gambar lagu ( video klip atau tari-tarian ).

Syarat agar lipsinch antara suara yang diplay back kan dengan gambar yang diambil dengan kamera film harus memenuhi syarat sinkronisasi antara kamera film dan perekam suara film yaitu Nagra. Secara teknis sebelum rekaman gambar play back suara, master suara dari Produser Kaset mengirimkan master suara penyanyi ini ke studio TV dan oleh juru suara pita master ini di transfer ke format 1/4 inchi yang sekaligus dibuatkan pilot sinkronizer pada pita itu.

Cara ini dapat diterangkan sebagai berikut. Pada waktu persiapan di studio hasil rekaman asli dari studio musik, baik berupa piringan hitam atau pita 1/4 inchi ditransfer melalui tape recorder T1 atau disc player D ke magnetocord M dengan sinkronisasi net power. Juga ditransfer ke pita 1/4 inchi oleh tape recorder T2. Sementara itu pada tape recorder T2 juga direkamkan pilot signal berasal dari net power. Pada saat shooting hasil rekaman T2 di playback pada T1 dan suaranya diperdengarkan pada loudspeaker. Syncronizer menerima pilot play back dari T1 dan dari kamera. Dengan membandingkan kedua signal, syncronizer menghasilkan signal pengaturan yang mengendalikan kecepatan T1 sehingga kedua signal pilot tadi sama frekwensi dan phasenya.

Selanjutnya tape recorder T2 dijalankan pada posisi record. T2 ini lalu merekam suara klaper melalui mikrophone dan pilot signal dari kamera film. Selain itu musik yang di play back melalui loudspeaker juga ikut direkamkan T2 melalui mikrophone. Ini berguna nantinya untuk pengerjaan sinkronisasi di editing film 16 mm. Selanjutnya hasil rekaman T2 ini ditransfer ke dalam cord tape 16 mm. Jadi pada saat shooting ini yang di play back kan adalah pita 1/4 inch pada Nagra. Penyanyi tinggal berakting menggerakkan bibirnya mengikuti irama lagu yang diperdengarkan melalui loudspeakers.

Sekitar tahun 1975 TVRI Jakarta menggunakan acara iklan penyanyi ini untuk progam acara musiknya. Simak saja Chicha Koeswoyo dengan Helly nya, Ira Maya Puspa dengan Cinderelanya serta Koes Plus dengan lagu hitnya Muda-mudi. Hampir semua penyanyi dibuatkan video klip nya dengan materi film sebagai gambarnya. Sangat sederhana shootingnya juga mudah editingnya. Berbeda dengan saat ini semua video klip menggunakan teknologi komputer dalam penyuntingan gambarnya. Semua gambar dapat dimanipulasi dengan komputer dengan cepat dan akurat. Sedangkan editing film saat itu sangat sederhana kerjanya. Pergantian gambar sebatas cut to cut tanpa efek transisi gambar yang njlimet. Namun hasilnya cukup baik dan layak disiarkan.

Nah barangkali Anda semua masih ingat penyanyi itu? Coba terka siapa saja, hayoo...

Read More..

MEREKAM GAMBAR DAN SUARA PADA FILM 16 MM.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Rabu, 26 November 2008 0 komentar

Pada saat rekaman gambar baik di studio atau lokasi film, pimpinan kerabat kerja produksi film dipegang oleh Sutradara atau Pengarah Acara. Sutradara mengarahkan pemain dan dibantu kerabat kerja teknik seperti juru kamera, suara, penata lampu, make up, pencatat adegan juga penata artistik. Mereka bekerja bersama-sama sebagai team work dan tentu saja didukung oleh para pemain atau artis yang membintangi jalannya shooting film televisi.

Film televisi saat itu menggunakan sistem pengambilan gambar direct recording, yaitu suara langsung direkam di lokasi kejadian. Juru kamera mengambil gambar mengunakan kamera Arri BL, ST, SR sedangkan juru suara merekam suara dengan peralatan Nagra. Metode kerja dalam rekaman gambar film televisi saat itu adalah double sistem, dimana gambar dan suara terpisah tempatnya. Film menggunakan ukuran 16 mm sedangkan pita suara ukuran 1/4 inchi yang nantinya saat akan editing di studio pita ini ditransfer ke format 16 mm.

Karena gambar dan suara menggunakan medium terpisah satu sama lain, maka haruslah antara keduanya terdapat cara yang menjamin tercapainya keserempakan (sinkronisasi) antara gerak gambar yang harus sinkron suaranya dengan gerakan gambar itu . Untuk mencapai sinkronisasi harus dipenuhi hal-hal berikut ini:

1. Adanya tanda yang merupakan awal yang bersamaan antara gambar dan
suara . Ketika shooting tanda awal ini diberikan oleh clapper board yang
memuat informasi berupa gambar (misal film 1 pita 1) dan clapper ini direkam
dulu sebelum pemain berakting. Dengan pedoman ini editor film dapat
mensinkronkan gerakan gambar dan suara berdasarkan lipsing mulut pemain.

2. Kecepatan antara medium yang merekam gambar (kamera) dengan kecepatan
pita suara harus sama. Untuk media televisi keserempakan gambar dan suara
mempunyai kecepatan 25 frame per second. Untuk rekaman suara double
sistem dapat digunakan pita licin yang diberi perforasi magnetis melalui
perekaman pilot signal ( signal yang mensinkronkan ) juga perforated audio
tape.

Dalam pengambilan gambar untuk sinkronisasi tidak hanya cukup jika gambar dan suara berjalan dengan kecepatan sama, tetapi juga saat permulaan pengambilan gambar. Lazimnya saat merekam gambar dan suara, klaper board dikatupkan lebih dulu yang menimbulkan bunyi klak, sebelum pemain berakting. Aba-aba sutradara memerintahkan juru suara dan juru kamera dengan perintah," sound siap...runing, kamera start...runing" dan clapor boy membacakan film 1 pita 1 ( sebagai contoh saja ) sequence 2 shot 3 lalu mengatupkan papan kleper tersebut dan berbunyi "klak".

Bunyi "klak" inilah nantinya dijadikan pedoman sinkronisasi di editing berapa frame suara atau gambar saling mendahului. Dengan memencet tombol sinkronisasi inilah didapat ketepatan antara gambar dan suara.

Untuk jelasnya urutan perintah Sutradara pada saat pengambilan gambar film adalah: 1. "Tape Start" lalu tape recorder dijalankan juru suara yang kemudian menjawab "tape running".
2. "Kamera Start" lalu kamera dijalankan juru kamera yang kemudian menjawab "Camera running".
3. "Claper" dipegang asisten kameramen atau pencatat adegan membacakan claper ini dan mengatupkannya satu sama lain sehingga terdengar bunyi klak.
4. "Action" maka pemain film mulai akting .
5. " Cut " yang menandakan pengambilan gambar selesai.
6. " Retake " bila pengambilan urutan di atas diulang kembali sebagai pilihan karena kesalahan pemain berakting atau untuk mendapatkan stok gambar lebih banyak lagi.

Dalam shooting ini mencakup paket acara drama ( sinetron ) juga paket dokumentasi. Dalam paket dokumentasi tata cara pengambilan gambar dan suara juga sama. Namun pemakaian klaper board tidak harus digunakan. Sebagai gantinya digunakan tepuk tangan yang diambil gambar dan suaranya di depan objek yang di shoot.

Anda tertarik menjadi pemain film ( sinetron ) atau ingin berprofesi sebagai juru kamera atau juru suara bahkan juga ingin belajar sebagai penyunting film, ada sekolahnya kok? Cukup kursus singkat kurang lebih 1 bulan Anda sudah bisa berpraktek mengoperasikan kamera atau menyunting film.

Itu dulu sebelum ada editing video dengan perangkat komputer, pekerjaan menyunting gambar film dilakukan manual, layaknya kita merangkai bunga melati. Namun justru dilakukan secara mekanis saat menyunting film, maka seni menyunting film sangat mengesankan. Apalagi kalau gambar yang disunting adalah gambar dokumentasi suku-suku pedalaman yang ada di Indonesia saat itu. Semua ini bisa dipelajari melalui pelatihan singkat yang menitik beratkan praktek...praktek...praktek selain teori.

Read More..

REKAMAN SUARA PADA FILM 16 MM

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Selasa, 25 November 2008 0 komentar


Ini adalah catatan yang tercecer yang pernah menjadi sejarah pembuatan film 16 mm di industri perfilman nasional khususnya di media Televisi Republik Indonesia di Senayan Jakarta. Perekaman suara film televisi saat itu mengenal 2 jenis perekaman suara single sistem dan double sistem. Televisi Republik Indonesia dekade 1962 hingga tahun 1997 dalam melaksanakan pembuatan mata acara siaran selalu menggunakan media seluloid 16 mm sekaligus perekaman suara film itu dalam format 1/4 inchi.

Dalam rekaman suara single sistem ini gambar dan suara direkam secara bersamaan oleh kamera film pada medium yang sama. Pada salah satu tepi film tersebut terdapat lapisan pita magnetik yang merupakan tempat suara direkam.Lapisan ini disebut magnetic strip berwarna coklat menempel di sisi film. Sedangkan camera film untuk merekam gambar sekaligus suara mempunyai record head di dalam bodi camera. Karena gambar yang direkam gerakannya terputus-putus (intermittent motion) sedangkan untuk suara diperlukan gerakan yang datar ( non intermittent atau flutter free motion ) maka harus ada jarak antara gambar dan suara sepanjang 28 frame yang merupakan jarak suara magnetis.

Suara mendahului gambar yang bersangkutan sebanyak 28 frame ini sesuai dengan jarak yang terdapat pada proyektor sehingga antara gambar dan suara tetap serentak. Dalam hal ini kameramen dibantu juru suara film atau asisten kameramen selain memperhatikan gambar yang direkam juga mengatur suara melalui head phone selain level meter untuk pengontrolan suara. Setelah perekaman gambar selesai film diproses di laboratorium film dan hasilnya saat itu juga langsung disiarkan tanpa mengalami editing lebih dulu. Umumnya rekaman gambar ini untuk news atau berita yang sifatnya aktual dan segera disiarkan. Bila memerlukan editing dipergunakan sistem perekaman gambar double sistem.

Sistem perekaman suara double sistem cara kerja di lapangan tetap sama dengan single sistem tetapi pengambilan suara dan gambar dilakukan terpisah. Terpisah karena kameraman merekam gambar menggunakan kamera sedangkan juru suara merekam suara menggunakan tape yang disebut Nagra. Antara Nagra dan Kamera dihubungkan dengan kabel sincronisasi sehingga pada saat editing film, Editior Film akan menyerempakkan gerakan gambar dan suara sehingga menjadi sinkron ( lypsinch ). Dengan perekaman double sistem ini tentunya diperlukan peralatan lebih banyak bila dibandingkan sistem single sistem.

Selesai perekaman gambar dan suara film lalu di proses di laboratorium film sedangkan suara ditransfer dari format 1/4 inchi ke ukuran 16 mm. Setelah proses ini selesai lalu tahap editing dimulai. Editor akan menyunting gambar sekaligus suara secara bersaman atau terpisah. Editor bekerja melipsingkan gerakan mulut pemain dengan suara yang diucapkannya. Dengan bantuan papan kleper proses sinkronisasi ini sedikit membantu. Namun bagi Editor yang sudah berpengalaman dia bisa membaca lipsinc gerakan mulut pemain apa yang dia ucapkan. Dengan bantuan sinkronisasi di mesin editing maka gambar dan suara yang sudah klop itu lalu diedit. Bagian mana yang perlu dibuang dan mana yang perlu disambung dengan gambar berikutnya.

Keuntungan antara single sistem dan double sistem:
Pada single sistem peralatan yang digunakan lebih sedikit. Hal ini berarti penghematan tenaga listrik, petugas serta perpindahan peralatan kerja lebih cepat. Hasil shooting dapat disiarkan lebih cepat. Selesai shooting tidak memerlukan proses suara karena pita suara sudah menyatu di film juga tidak memerlukan editing sehingga segera dapat disiarkan. Di samping itu juga tidak ada masalah penyerempakan gambar dan suara. Semua sudah menyatu di film.

Rekaman gambar menggunakan double sistem mutu suara lebih baik. Ini disebabkan karena material ( pita ) yang digunakan pada double sistem lebih baik dibanding magnetic stripe pada single sistem, termasuk pula peralatan rekaman suara yang digunakan ( nagra ). Demikian pula proses suara lebih lanjut di editing termasuk mixing dan dubbing. Editing akan leluasa memotong dan menyambung suara dan gambar baik sendiri-diri atau terpisah. Kunci berhasilnya merangkai gambar dan suara secara double sistem ini ditentukan oleh Editor. Karenanya seorang Editor Film bisa dikatakan Second Director in The Studio.

Apabila Anda saat ini sudah menjadi editor elektronik dengan menggunakan software Adobe Premier 6.0 atau 6.5 Anda akan melihat tampilan time line editing komputer tersebut persih dengan Editing 16 mm double sistem. Anda akan leluasa menaruh atau melepas shot-shot gambar dan suara di jalur video atau audio. Tertarik menjadi editor elektronik dengan mengunakan komputer sebagai peralatan kerja? Bagaimana dengan Anda?





Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.