Smell
Dating, sebuah layanan jodoh New York, adalah cinta pada hirupan
pertama. Seniwati Tega Brain , yang mengajar di School of Poetic
Computation dan Sam Lavigne, seorang editor dan peneliti di New York
Universiby, menciptakan Smell Dating yang miturut mereka adalah sebuah
proyek seni. Masing-masing dari 100 klien pertama mereka menerima sebuah
t-shirt yang harus dipakai selama tiga hari tanpa mandi.
Klien
itu lalu mengirim balik t-shirt bau itu ke kantor Brain dan Lavigne di
NYW, di mana kaus itu dipotong kecil-kecil. Smell Dating lalu mengirim
campuran 10 potongan kaus kepada para klien untuk dibaui. Kecocokan akan
terjadi jika seorang klien menyukai bau klien lain yang juga menyukai
bau klien pertama.

- Jatuh cinta pada hirupan pertama, begitu kira-kira mata pelajaran pertama untuk siswa yang ingin tahu bau badan calon pasangannya. Para siswa diajarkan untuk membuat peka hidung dengan setiap kali hirupan napas atas jenis bau yang sedang menguar di sekitar mereka. Lebih jauh para siswa juga disuruh memakai t-shirt selama tiga hari dan tak boleh mandi. Setelah tiga hari t-shirt itu dicium berulang-ulang agar bau nya masuk ke alam bawah sadar setiap siswa.

- Setelah peka akan bau t-shirt yang tak dicuci selama tiga hari dan dipakai terus, para siswa mulai diajarkan mengenal bau lewat simulasi gambar di layar komputer. Dengan melihat gambar seseorang yang tak dikenalnya, siswa bisa mendeskripsikan, kira-kira bau apa yang ada pada tubuh si pemilik gambar.
Gagasannya
berdasarkan ilmu feromeon, zat kimiawi yang dibuat makhluk dan yang
digunakan binatang untuk menarik pasangan. Klien yang membayar 25 dollar
AS sekali saja, memilih kecocokan melalui bau, tanpa tahu usia, jenis
kelamin, dan orientasi seksual yang dibauinya. Pekan ini Smell Dating
yang ingin menyelidiki apakah bau badan bisa bikin jatuh cinta mulai
mengirim potongan kaus berbau badan itu.
Reuters / DI / .






0 komentar