Postingan kemaren sehat bersama waskita reiki menyinggung Sayur Sop Bu Wartini dengan menu utama pesanan saya yaitu sop jamur tiram yang sungguh aduhai rasanya selepas olahraga jalan kaki pagi. Racikan sayur sop yang biasa dibuat di rumah umumnya memakai kubis, kacang panjang, wortel, irisan kentang, daging ayam atau sapi, daun selada plus taburan bawang goreng coklat. Tapi menu sayur sop jamur tiram Bu Wartini tadi dibuat dengan cara merebus di atas panggang api dari arang hitam.
Bagi Anda.....sahabat sehat bersama waskita reiki tentu sudah akrab dengan istilah merebus ketika sedang bekerja di dapur. Perlu diketahui bahwa merebus adalah teknik memasak yang lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng, membakar atau memanggang. Hal ini disebabkan energi panas bukan dari kundalini tetapi dari panas bara api arang kayu bakar atau api biru gas dapat lebih meresap ke bahan makanan sehingga dapat melepaskan racun atau zat yang menjadi parasit pada makanan agar makanan aman dikonsumsi.
Dengan teknik merebus ini manusia purba menyadari bahwa beragam hewan dan tanaman lebih banyak bisa dikonsumsi sampai habis. Lihat saja tulang hewan misalnya belum tentu bisa dimakan jika hanya dibakar. Nah...merebus makanan ternyata juga dapat menciptakan sensasi rasa baru. Butiran sereal misalnya, jika direbus akan mengeluarkan butiran kanji sehingga menciptakan efek mengentalkan seperti saat Anda membuat jenang grendul. Memanaskan beberapa jenis makanan sekaligus juga akan menyebabkan masing-masing bahan kehilangan kandungannya dan pada saat yang sama sari makanan akan bercampur sehingga menciptakan rasa baru yang unik dikecap lidah.
Berdasarkan data sebuah buku kuno, orang primitif telah mengkonsumsi sup dan sejenis bubur. Pada jaman Neolitikum sup telah dikonsumsi di daerah Mediterania. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, sup bertahan di Kekaisaran Bizantium yang berpusat di Konstantinopel. Berkat runtuhnya Kekaisaran Ottoman di Turki pada tahun 1454, tradisi menyantap sup di Asia Tengah ditularkan kepada masyarakat Eropa. Tak seperti di Eropa Barat, orang Turki tidak membatasi mengonsumsi sup pada momen khusus atau saat menyantap hidangan tertentu saja.
Air rebusan kemudian berkembang menjadi air kaldu. Berhubung orang di zaman itu mulai terbiasa merebus daging yang disajikan di mangkuk besar dan disantap beramai-ramai dengan menghirup langsung dari mangkuk. Sementaa kelas menengah di Eropa cukup hanya menghirup air kaldu, kalangan bangsawan Eropa telah menambahkan daging atau sayuran ke dalam air kaldu. Sebelum sendok ditemukan, isi daging dan sayuran diambil langsung dengan tangan dari mangkuk dan lama kelamaan menggunakan pisau untuk mengambilnya.
Baru pada abad ke-14 sendok ditemukan sebagai media untuk mengambil kuah dan ampas sup sehingga sup tidak tumpah mengotori baju, mengingat saat itu model baju Eropa berupa atasan dengan kerah renda besar dan mengembang kaku. Bentuk awal sendok yang tidak nyaman dipakai sehingga tetap mengotori baju pun kemudian berubah dengan gagang yang lebih panjang dan ceruk sendok diperbesar yang mampu mengurangi kemungkinan kuah sup tumpah ke baju.
Sumber tulisan : Ragam Kompas Klasika.
salam sahabat
wah makin siip aja.ijin saya save ya...bagus sich...good luck