ON LINE

Followers

SI MERAH MARUN MAHKOTA DEWA

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Rabu, 20 Januari 2010

Mahkota Dewa biasanya sering kita lihat di pementasan wayang orang dimana sang pemain memerankan tokoh dewa dan dikepalanya memakai mahkota yang dihiasi dengan pernak pernik sulaman benang emas. Tatkala berakting inilah mahkota sering memancarkan cahaya keemasan karena pengaruh efek tata lampu panggung. "Mahkota Dewa begitu mencorong," begitulah kilah seorang penonton wayang orang Sriwedari Solo malam itu. Lantas kalau mahkota dewa begitu gemerlap mempesona pandangan penonton seni tradisionil wayang orang, kelebihan apa lagi dari mahkota dewa ini? Mari sehat dengan reiki mengajak Anda mengupas lebih jauh mahkota dewa sebagai buah si merah marun menggemaskan ini bukan untuk dikenakan sebagai mahkota tetapi dikonsumsi sebagai obat herbal.




Mahkota Dewa tanaman multi khasiat di samping mengkudu, sambiloto dan pegagan. Sebagai tanaman obat juga sebagai tanaman hias.

Teh mahkota dewa membebaskan penderita dari asam urat, diabetes melitus dan kolesterol.


Mahkota dewa yang satu ini bukan dikenakan oleh pemain wayang orang Sriwedari Solo sebagai aksesoris peran dewa, tetapi salah satu jenis tanaman obat yang multi khasiat di samping mengkudu (pace), sambiloto dan pegagan. Sosok mahkota dewa begitu menggoda selera bagi siapa saja yang melihatnya. Pohonnya berupa perdu dengan tajuk bercabang-cabang. Konon umurnya bisa mencapai puluhan tahun dengan masa produktivitas mencapai umur 10-20 tahun. Ada yang menyebut mahkota dewa berasal dari Papua.



Tanaman ini terkadang masih dapat kita jumpai tumbuh liar di daerah hutan pada ketinggian 10 -1.200 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 1.000-2.500 mm/tahun. Dari segi morfologi tanaman ini memiliki buah, batang dan daun yang cukup sempurna dan menarik sehingga bisa disebut sebagai tanaman hias. Karena bentuk buah mirip apel yang biasa kita lihat di perkebunan apel Batu Malang, warna merah marun, ukuran sebesar telur ayam kampung, berbuah lebat sekitar batang membuat tanaman ini makin digemari oleh pencinta tanaman. Di samping sebagai tanaman hias mahkota dewa juga dibudidayakan sebagai tanaman obat.




Konon karena penampilan yang mengundang selera layaknya buah yang siap dipetik dari pohonnya, mengundang minat bangsawan keraton untuk memeliharanya. Dalam salah satu literatur disebutkan bahwa Keraton Solo dan Yogyakarta sudah sejak lama memelihara tanaman ini dan menggunakan untuk keperluan pengobatan. Tanaman mahkota dewa akhirnya dimanfaatkan sebagai tanaman herbal. Berdasarkan pengalaman beberapa praktisi herbalist, mahkota dewa digunakan untuk pengobatan jantung, kanker, diabetes melitus, darah tinggi dan penyakit kulit. Berbicara tanaman herbal khususnya mahkota dewa orang akan melihat sosok Ibu Ning Harmanto. Beliau sudah mengembangkan mahkota dewa dalam bentuk instan, bedak dan obat gosok. Karena itulah beliau mendapat sebutan Ibu Mahkota Dewa.




Mahkota dewa yang digunakan untuk pengobatan tidak boleh dikonsumsi secara langsung sebelum diolah. Ini dimaksudkan untuk menghindarkan pemakainya dari efek samping yang mungkin terjadi saat buah mahkota dewa dikonsumsi. Gejala dari keracunan buah mahkota dewa antara lain bibir pecah, timbul luka di rongga mulut, mual dan muntah dan gejala keracunan lain. Untuk menghindarkan diri dari racun buah mahkota dewa maka daging dan buah mahkota dewa harus dikeringkan lebih dulu. Untuk jenis penyakit tertentu buah mahkota dewa bisa dikombinasikan dengan tanaman obat seperti sambiloto, temulawak, temu putih, pegagan, daun dewa, sambung nyawa dan jahe.



Dalam penelitian buah mahkota dewa memang beracun. Sejauh ini belum diteliti secara khusus jenis-jenis racun yang terkandung dalam mahkota dewa. Hasil penelitian Dra. Vivi Lisdawati, M.Si, Apt dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test pengujian racun mematikan terhadap udang laut menunjukkan bahwa ekstrak buah mahkota dewa memiliki toksis yang amat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman memiliki konsentrasi mematikan 50% larva udang atau lethal concentration berkisar 0,1615 - 11,8331 mikrogram/ml. Dapat disimpulkan oleh Dra. Viva Lisdawati bahwa ekstras buah mahkota dewa pemanfaatannya sebagai obat tradisional harus dengan takaran yang sangat hati-hati.



Upaya menghindarkan diri dari racun, sebaiknya buah mahkota dewa sebelum dikonsumsi dikeringkan lebih dulu di bawah sinar matahari. Upayakan menghindari penggunaan biji, batasi penggunaan cangkang biji hanya untuk penderita sakit berat, gunakan hanya daging buah dan daun saja untuk pengobatan. Ini dimaksudkan untuk mengurangi racun yang ada pada buah mahkota dewa. Di samping efek racun tanaman obat ini pun sudah terbukti dapat memberikan dampak positip bagi proses penyembuhan berbagai jenis penyakit.




Tanaman obat bukan hanya mahkota dewa saja. Masih ada jenis tanaman obat yang selain terbukti turun temurun efektif untuk pengobatan, juga telah diteliti secara seksama baik kandungan kimia, effek farmalogi, toksisitas, uji praklinis hingga uji klinis. Banyak tanaman obat dibuat menjadi produksi farmasi obat tradisional dan sekarang ini beredar di pasaran. Obat herbal tadi sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Departemen Kesehatan. Karena sudah teruji aman dan terdaftar maka tentu saja aman untuk direkomendasikan dan dikonsumsi oleh pasien penderita penyakit tertentu.



Nah sahabat sehat dengan reiki...sudahkah untuk hari ini saja Anda semua menjaga kesehatan dengan baik? Saat di musim hujan yang sudah sering turun di berbagai daerah di Indonesia ini, ada baiknya kita menjaga diri dengan perilaku bersih. Jika tanaman hias klangenan Anda si mahkota dewa sudah rimbun batang dan daunnya sebaiknya dipangkas agar pertumbuhan buah kembali lebat. Si buah ranum merah marun mahkota dewa memang menggoda selera untuk dimakan...tapi tunggu dulu...buah ini bukan buah apel yang manis...tapi buah pahit dan beracun.



Sumber : Mahkota Dewa Ir. W.P Winarto dan Tim Karyasari.

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.