


Komunitas warga Irlandia di Shanghai, China merayakan hari Santo Petrus dengan menyelenggarakan parade di jalan-jalan kota Shanghai. Menteri Luar Negeri Irlandia Michael Finneran menjadi tamu istimewa dalam acara ini. Lebih dari seratus warga Irlandia dan China tumpah ruah di pusat kota Shanghai, China mengikuti parade menyambut hari Santo Petrus yang merupakan tradisi Irlandia.
Acara ini merupakan yang keempat kalinya diselenggarakan di Shanghai, serta sekaligus dikaitkan dengan acara pekan Irlandia serta World Expo Shanghai 2010. Parade kali ini diselenggarakan oleh Le Cheile Komunitas warga Irlandia di Kota Shanghai. Banyak perserta mengenakan pakaian hijau hingga membuat suasana kota Shanghai diselimuti warna tersebut layaknya dedaunan pohon rindang di tepi jalan.
Mereka berpadu serasi dengan naga hijau yang menunjukkan pengaruh kuat China dalam parade. Pihak penyelenggara sangat bangga acara ini mendapat pengakuan dari pemerintah Kota Shanghai. Banyak kota besar dunia juga ikut merayakan hari tradisional Irlandia ini. Salah satunya parade di kota New York merupakan salah satunya dan menjadi parade hari Santo Petrus paling akbar di dunia.
Sumber : Life-Saint Patrick in Sanghai China.
Pesta kembang api yang menyasar ke turis saat menyambut perayaan tahun baru China di Taiwan 1 Maret kemaren juga memakan korban jiwa. Sebanyak dua puluh satu orang meninggal dunia akibat ledakan kembang api yang terjadi di tengah perayaan Tahun Baru China di Guangdong China. Sementara itu delapan orang dari empat puluh delapan korban ledakan harus menjalani rawat intensif di rumah sakit akibat ledakan ini.
Kemeriahan perayaan Tahun Baru China di Provinsi Guangdong berubah menjadi petaka. Kembang api yang dinyalakan secara ilegal oleh sebuah keluarga Sabtu kemaren untuk memeriahkan Tahun Baru China di kota Puning Provinsi Guangdong China tiba-tiba meledak. Akibat ledakan ini, tiga belas orang meninggal seketika dan delapan orang lainnya meninggal di rumah sakit.
Dari delapan orang dari empat puluh delapan orang yang dibawa ke rumah sakit terpaksa menjalani perawatan intensif akibat luka bakar yang diderita. Kembang api menjadi sesuatu yang sangat penting pada tradisi warga China saat merayakan tahun baru. Warga China biasanya menyalakan kembang api pada tahun baru China selama 15 hari, yang dimulai pada hari pertama tahun baru lunar.
Kejadian ini bukan yang pertama kalinya di China. Akibat kembang api yang harganya murah dan bisa dimiliki semua warga China, banyak warga China menjadi korban luka atau tewas saat pesta kembang api tengah berlangsung. Ledakan kembang api serupa juga pernah menelan korban saat terjadi liburan di hotel dan komplek seni di Beijing tahun lalu.
Ledakan yang terjadi pada Jumat 26 Februari malam waktu setempat, menimpa perayaan yang berlangsung di sebuah desa di Provinsi Guangdong, China. Warga yang merayakan permulaan tahun macan ini, menyiapkan festival kembang api diwilayah mereka.
Diduga asal ledakan berasal dari kembang api yang diracik secara ilegal. Penyulut kembang api ini tidak menyadari jika dampak ledakan amat dahsyat. Besarnya daya ledak dari kembang api tersebut, menyebabkan beberapa bagian depan rumah rusak parah.
Sumber : Reuters
Read More..
Seminggu lalu sehat dengan reiki bergabung dengan Radio Sonora Jakarta yang malam itu menghimbau kepada warga Jakarta untuk mau sejenak mematikan lampu listrik selama 1 jam saja. Himbauan ini memang simpatik namun apakah ada warga Jakarta dan sekitarnya barang sejenak mau mematikan lampu listriknya, meskipun sebagai pelanggan juga sering dirugikan akibat pemadaman listrik yang akhir-akhir ini sering terjadi di Jakarta.
Memang warga dunia telah melaksanakan progam mematikan lampu selama satu jam atau disebut dengan earth hour yang juga diikuti oleh hampir di sembilan puluh negara. Namun tradisi mematikan lampu sejatinya telah berpuluh-puluh tahun dilakukan oleh saudara kita yang beragama Hindu Bali dengan Perayaan Nyepi untuk menyambut Tahun Baru Saka.
Jika umat di luar Agama Hindu merayakan tahun baru dengan keramaian dan pesta pora semalam suntuk, bermewah-mewahan duniawi di hotel berbintang yang bergemerlap nyala lampu listrik berwarna-warni, di arena publik terbuka, jalanan dan tempat hiburan berkarcis mahal, justru berbeda dengan umat Hindu di Nusantara tercinta ini. Umat Hindu begitu bersahaja merayakan Perayaan Nyepi. Mereka merayakan Nyepi dalam suasana begitu sepi dan terasa khidmat.
Di Bali dikenal dengan istilah Nyepi. Sepi tanpa kegiatan atau disebut amati karya, tanpa menyalakan api atau amati geni, tidak meninggalkan rumah atau amati lelungan dan tanpa hiburan atau amati lelungaan. Hal ini sangat dipegang teguh dan dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh umat Hindu di Bali.
Kita lihat suasana Nyepi di Bali seperti kota tak berpenghuni. Hari Nyepi dimanfaatkan Umat Hindu untuk mengevaluasi diri, seberapa jauh pencapaian pendakian rohani dan sudahkah masing-masing manusia menyadari hakikat tujuan kehidupan di atas bumi ini. Umat Hindu Bali tinggal di dalam rumah tanpa kegiatan sama sekali.
Bahkan untuk menghormati Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1931 Bandara Internasional Ngurah Rai dan Pelabuhan Gilimanuk ditutup sementara selama 24 jam. Selama perayaan nyepi sedikitnya 150 jadwal penerbangan baik domestik maupun internasional dengan tujuan ke dan dari Bali dilarang beraktifitas, baik melakukan penerbangan atau pendaratan. Namun bandara masih dapat digunakan untuk pendaratan darurat jika mengalami emergency landing.
Seluruh umat Hindu yang tersebar di seluruh Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi Saka 1931 yang diperingati tangga 26 Maret lalu. Namun sehari sebelum Nyepi umat Hindu di Bali menggelar upacara Agung Panca Bali Krama yang bertujuan untuk menegakkan nilai-nilai kesucian dan menyeimbangkan alam semesta.
Sehat dengan reiki pun tahu bahwa julukan Bali sebagai Pulau Dewata telah dikenal sejak dibangku sekolah dasar di era tahun 1960 dulu. Bali merupakan satu-satunya pulau di dunia yang tetap teguh mempertahankan nilai-nilai suci agama dan tradisi meskipun berada di tengah pengaruh asing sebagai salah satu destinasi pelancongan yang terkenal ke seluruh dunia.
Nyepi yang berasal dari kata sepi berarti menyepi dan merenungi jati diri. Sehari sebelum perayaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Bali menggelar karya Agung Panca Bali Krama yang diperingati setiap sepuluh tahun sekali.Hakekatnya, upacara ini bermakna menegakkan nilai-nilai kesucian untuk membangun keharmonisan.
Ribuan masyarakat Bali bergabung dengan wisatawan memadati tempat berlangsungnya upacara.Upacara ini juga untuk memaknai Panca Bali Krama atau Tawur. Tawur sendiri adalah kekuatan spiritual yang dilakukan umat Hindu untuk menyeimbangkan antara manusia dan alam semesta.
Selain upacara ini Umat Hindu di Bali juga melaksanakan upacara Mapedada yang dipusatkan di Penataran Agung Besakih. Upacara Mapedada ini bermakna membersihkan serta mensucikan segala hewan.Upacara ini merupakan simbol mengubah sifat buruk menjadi sifat baik serta agar nantinya hewan tersebut menjadi lebih tinggi derajadnya jika terlahir kembali.
Seperti halnya umat Islam, umat Hindu juga saling bersilaturahmi dengan keluarga besar dan tetangga, saling maaf memaafkan satu sama lain atau istilahnya Ksama. "Saya mohon maaf atas salah dan khilaf, izinkan saya Nyoman pamit sementara pulang ke Bali untuk merayakan Perayaan Nyepi tahun 1966 bersama keluarga besar di Gianyar," begitu tulus sahabat sehat dengan reiki di sekolah dasar dulu mengutarakan niat ini.
Sambil menyalami satu persatu mulai dari bapak-ibu guru dan teman-teman sekolah dalam Bahasa Jawa Kromo Inggil, Nyoman pun pamit meninggalkan Solo untuk tetirah ke tanah leluhur Bali. Di sana ada Nyoman-nyoman lain yang juga bersama-sama akan merayakan Nyepi.



Jalan raya wisata Wonosobo ke Dieng terputus pada dua titik sekaligus akibat terkena runtuhan material longsoran tebing di pinggir jalan mengakibatkan kemacetan kendaraan dari dua arah tak terhindarkan lagi. Demikian berita yang sehat dengan reiki terima di Studio Sembilan Televisi Senayan Senin pagi tadi.
Karena diguyur hujan deras selama beberapa hari tebing di jalanan utama wisata Wonosobo - Dieng di kilometer delapan belas dan kilometer sembilan belas, tepatnya di Desa Tieng Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo longsor. Akibatnya jalan satu satunya ke objek wisata Alam Dataran Tinggi Dieng dari arah Wonosobo terputus karena tidak kuat menahan material longsoran berupa batu besar dan lumpur.
Koresponden televisi di Magelang melaporkan dari gardu pandang Tieng tempat pengambilan gambar di lokasi longsoran, memperlihatkan longsoran tebing jatuh ke jurang sebelah kanan dan menimbun tanaman kentang milik petani setempat. Sedangkan tebing terjal di sebelah kiri sudah runtuh menutup badan jalan. Batu besar ukuran kerbau dewasa berserakan menutup bahu jalan.
Gardu pandang Tieng adalah gardu pandang untuk melihat kota Wonosobo dari kejauhan di mana di bawah tebing gardu pandang ini terlihat jalanan begitu kecil berkelok-kelok mendaki bukit sebelum akhirnya tiba di pos gardu pandang Tieng. Di sini biasanya tempat turis asing atau domestik memotret pemandangan alam Gunung Sumbing - dan Sindoro dan beristirahat sejenak sebelum meneruskan perjalanan ke Dieng.
Terlihat kendaraan yang hendak melintas tertahan hingga berjam-jam di kedua sisi jalan dan banyak di antara pengendara lebih memilih berputar balik untuk selanjutnya menempuh jalur alternatif lewat Banjarnegara. Armada bus terpaksa menurunkan penumpang lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki mengitari bukit Tieng. Togar Pariangan sopir bus wisata mengatakan,"Longsoran bukit ini secepatnya dibersihkan sehingga tidak mengganggu lalu lintas Dieng - Wonosobo. Semakin cepat dibersihkan semakin baik sehingga lalu lintas kembali normal."
Namun melihat longsoran berupa bongkahan batu seukuran kerbau dewasa tanpa didukung alat berat yang memadai kemungkinan pekerjaan akan memakan waktu lama mengingat dalamnya jurang di sebelah kanan jalan dan tingginya tebing yang longsor di kiri jalan, sedikit merepotkan menempatkan alat berat di lokasi bencana. Petugas Bina Marga Provinsi Jawa Tengah yang meninjau lokasi mengatakan,"Proses perbaikan memerlukan waktu lama, namun langkah awal dengan membersihan material longsoran dan perbaikan sementara agar jalan dapat dilalui."
Sementara untuk menghindari longsor susulan warga Desa Tieng bergotong royong membersihkan material berupa batu besar dan tanah yang masih menggantung di sisi tebing kiri jalan. Saat ini rambu-rambu lalu lintas berupa gambar tebing longsor ditancapkan di sisi jalan baik dari arah Dieng maupun Wonosobo.
Sumber : Laporan Koresponden Agus Munasir disunting sehat dengan reiki untuk sekolah internet.
