
- Dulu, penyakit-penyakit tertentu seperti jantung, gula, darah tinggi dicap sebagai penyakit orangtua. Namun kini penyakit-penyakit itu malah mengincar masyarakat dari negara dimana anak muda masih produktif dalam kerja. Tapi, siapapun bisa mencegahnya jika tahu apa penyebabnya dan bagaimana melawannya.



Madura selain terkenal dengan karapan sapi juga terkenal akan pembudidayaan buah naga. Buah naga atau yang dikenal dengan istilah Ho Lung Kuo ini dipercaya mampu menetralisir kadar gula darah. Selain itu pula buah ini mampu menetralkan kadar kolesterol dan melancarkan aliran darah dalam tubuh. Karena itu tidak heran buah yang dulu kala dibudidayakan di Pulau Jawa kini mulai dibudidayakan di daerah kering panas Madura.
Buah berwarna merah saga ini menjadi makanan favorit kaum manula. Lho kenapa menjadi makanan favorit manula? Sebab penurunan fungsi tubuh manusia biasanya dimulai di usia empat puluh tahun. Pada usia inilah segala jenis penyakit mulai akrab dengan tubuh. Mulai penyakit ringan hingga berat mulai akrab bersahabat dengan orang yang tidak peduli akan kesehatannya. Karena itu begitu mengetahui khasiat buah naga yang mampu menetralisir keluhan penyakit seperti kadar gula darah, kolesterol darah dan melancarkan aliran darah, maka menjadikan Fitria bergaul akrab dengan buah yang satu ini.
Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan. (id. Wikipedia)
Ibu Fitria begitu biasa tamu yang datang ke rumahnya menyapa, memulai usaha pembudidayaan buah naga sejak empat tahun lalu dengan modal awal lima puluh juta rupiah. Awalnya dia menanam sebanyak dua ratus lima puluh batang pohon di lahan yang dia miliki di Desa Sendang Kecamatan Pragaan Sumenep Jawa Timur. Tentu saja di awal usahanya sedikit mengalami kesulitan membudidayakan tanaman buah naga mengingat pekerjaan sebelumnya sebagai petani tembakau. Berkat ketekunan dan usaha keras maka tanaman buah naga kali ini mencapai panen raya.
Meskipun secara geografis Madura merupakan tanah kering dan tadah hujan dan berhawa panas sebagaimana terlihat sehat dengan kundalini reiki bersama kerabat kerja Kamis 14 April 2010 lalu, tetapi panen raya buah naga kali ini mencapai empat ton bila dibandingkan dengan panen perdana empat tahun lalu yang hanya lima kwintal buah naga. Dengan semakin banyaknya buah naga yang berhasil dipetik maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh. Sebagai gambaran harga 1 ton buah naga harganya mencapai tujuh belas juta rupiah.
Menurut Fitria sekalipun buah naga yang ditanam di daerah panas kering seperti di Madura ini, ternyata buah naga sukses dibudidayakan bahkan buah naga hasil budidaya petani Sumenep Madura ini memiliki lebih banyak serat dan kadar air sedikit sehingga mampu bertahan lama ketika disimpan. Saat panen raya kali ini banyak terlihat buah naga dijajakan di kios pinggir jalan Desa Sendang. Kini buah naga sudah mulai dibudidayakan petani lain sehingga diharapkan nantinya Kabupaten Sumenep mulai dikenal masyarakat sebagai sentra buah naga berkualitas di Madura.
Salah seorang warga desa Pelengaan Pamekasan, Munirah mulai tertarik untuk mencoba mengembangkan budidaya buah naga ini di rumahnya. Di samping menguntungkan dari sisi ekonomi, buah berwarna merah saga asal Negeri Tirai Bambu ini dapat dikonsumsi untuk menunjang kesehatan tubuh, juga sangat indah dijadikan pemandangan sebagai seni bercocok tanaman hias. Mengutip situs garfazh.blogspot.com, Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung.
Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga.
Kenyataan bahwa buah naga tidak hanya mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat tetapi tanaman ini dalam setahun panen raya selama tiga sampai empat bulan. Apalagi menjelang perayaan Imlek kemaren buah naga ini banyak dicari konsumen dari masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Jadi naga yang menyemburkan api dalam cerita klasik Tiongkok dengan lidah menjulur menakutkan, juga mempunyai cerita indah tersendiri bila naga yang satu ini berubah menjadi buah merah saga dengan sebutan buah naga alias Hou Lung Kuo.
Jadi kalau Anda datang ke Pulau Madura selain mencicipi nasi buk yang menyajikan nasi jagung dengan mendol alias tempe yang ditumbuk mirip perkedel plus paru goreng, empal, ayam goreng ditambah sayur nangka serta kerupuk kelapa khas Madura, juga sempatkan diri melihat karapan sapi. Anda boleh juga membawa oleh-oleh garam yodium putih dari Kalianget, tentu yang tak boleh dilupakan membeli si merah saga buah naga. Semua ini dapat diperoleh di daerah Sumenep daerah paling timur dari daratan Pulau Madura.
Read More..


Berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas adalah sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan Franky dan Jane di mana video klipnya pernah ngetop saat ditayangkan di TVRI tahun 1978. Balada lagu ini menceritakan bagaimana panasnya udara kota Surabaya dengan padatnya lalu lintas di jalan dengan debu berterbangan ditiup oleh laju bis kota. Panasnya udara Surabaya masih sama 10 tahun kemudian ketika sehat dengan reiki dan kerabat kerja melangkahkan kaki meninggalkan Surabaya lalu berjalan menyusuri tegalan dan sawah kering di Desa Batang-batang Sumenep Madura.
Kunjungan pertama kali ke Pulau Garam Madura saat itu kita sudah disambut oleh teriknya panas matahari yang menyengat di siang hari bolong begitu kaki melangkah di sela-sela ladang singkong yang tumbuh subur di setiap petak sawah dan tegalan milik petani setempat. Menyaksikan hamparan ladang singkong sungguh membuat takjub mata memandang manakala mata juga menatap ladang garam di sawah milik petani garam di Kalianget Madura.Sungguh kontras pemandangan warna tadi.
Di satu sisi warna hijau daun singkong di tegalan di sisi lain warna putih kristal butiran garam terhampar di tambak garam di Kalianget. Kedua nama tempat tadi berada di Pulau Garam Madura atau tepatnya di Kabupaten Sumenep di ujung Timur Pulau Madura. Memang singkong tumbuh subur di daerah ini. Sebagai bahan pakan pokok setelah beras singkong tumbuh di daerah tropis dan subtropis.
Menurut sejarah singkong masuk Indonesia tahun 1852 melalui Kebun Raya Bogor yang kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. Singkong berasal dari Timur Laut Brasil dan Meksiko Tenggara. Tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis. Singkong sendiri juga dimanfaatkan sebagai makanan pokok di Afrika, Asia dan Amerika Tengah dan Selatan. Negara yang paling banyak memproduksi singkong adalah Nigeria, Brasil,Thailand, Zaire dan Indonesia.
Sebenarnya singkong tumbuh sebagai tanaman tropis namun bisa juga tumbuh beradaptasi di daerah subtropis.Kandungan singkong mengandung karbohidrat tinggi dan dimanfaatkan sebagai makanan pokok sumber energi. Singkong sangat pahit rasanya mengandung hidrosianida. Agar aman dimakan, singkong diproses lebih dulu dengan cara merendam di air secara berulang-ulang untuk menghilangkan zat pahit tersebut.
Jenis singkong ini mengandung karbohidrat tinggi dan diolah menjadi tepung tapioka.Kata tapioka berasal dari kata tipioca yang berasal dari bahasa penduduk Tupi di Brasil. Di Indonesia sendiri singkong mudah diolah menjadi makanan bervariasi baik sebagai makanan pokok maupun selingan. Karena kalorinya tinggi singkong bisa diolah dengan cara dikukus atau dibakar. Bila hari hujan menghidangkan singkong kukus atau goreng sungguh dapat memberikan rasa nikmat apalagi ditambah jagung rebus.
Menghidangkan singkong sebagai makanan pokok sayangnya tidak bisa bertahan lama disimpan. Selain diambil saripatinya untuk tepung tapioka,juga bisa dibuat menjadi tepung singkong yang disebut mokal.Tepung singkong bisa diolah menjadi mi dan di Bantul disebut mi bendo dengan cara mengolahnya secara tradisional dan modern.
Mau tahu nilai gizi singkong per 100 gram. Menurut DKBM Depkes RI singkong mengandung energi 146 kalori, karbohidrat 34,7 gram, protein 1,2 gram dan lemak 0,3 gram. Sedangkan daun singkong sendiri juga bermanfaat sebagai bahan sayuran. Hasil dari singkong disebut rasi yaitu ampas pembuatan tapioka di daerah tertentu dimanfaatkan sebagai makanan pokok.
Ada pula beras aruk yang dibuat penampilannya mirip beras. Di Solo sendiri orang menyebut Tiwul,yaitu singkong yang dijemur kering kemudian dijadikan tepung dan dimasak menjadi tiwul bisa kita dapatkan di daerah pedesaan dan kota di Indonesia. Sebenarnya jika kita budidayakan pemanfaatan singkong menjadi aneka makanan sumber karbohidrat, akan banyak variasi menambah keanekaragaman pangan kita.
Indonesia kaya dengan sumber makanan yang mengandung menu gizi seimbang sebagai slogan makanan sehat. Nah sambil menutup paragrap terakhir postingan ini, sehat dengan reiki mencoba singkong rebus ditambah butiran garam sedikit serta jagung rebus....mengingatkan ketika berkunjung ke Desa Batang-batang Sumenep Madura sekian tahun lalu? Sudahkah Anda untuk hari ini dan esok mau mencoba makan tiwul,singkong rebus dan jagung rebus?
Gambar : google images.

