ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label madura. Tampilkan semua postingan

BUAH NAGA BUAH MERAH SAGA.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Jumat, 15 April 2011 0 komentar

Madura selain terkenal dengan karapan sapi juga terkenal akan pembudidayaan buah naga. Buah naga atau yang dikenal dengan istilah Ho Lung Kuo dipercaya mampu menetralisir kadar gula darah. Selain itu pula buah ini mampu menetralkan kadar kolesterol dan melancarkan aliran darah dalam tubuh. Karena itu tidak heran buah yang dulu kala dibudidayakan di Pulau Jawa kini mulai dibudidayakan di daerah kering panas Madura.



Buah berwarna merah saga ini menjadi makanan favorit kaum manula. Lho kenapa menjadi makanan favorit manula? Sebab penurunan fungsi tubuh manusia biasanya dimulai di usia empat puluh tahun. Pada usia inilah segala jenis penyakit mulai akrab dengan tubuh. Mulai penyakit ringan hingga berat mulai akrab bersahabat dengan orang yang tidak peduli akan kesehatannya. Karena itu begitu mengetahui khasiat buah naga yang mampu menetralisir keluhan penyakit seperti kadar gula darah, kolesterol darah dan melancarkan aliran darah, maka menjadikan Fitria bergaul akrab dengan buah yang satu ini.



Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan. (id. Wikipedia)



Ibu Fitria begitu biasa tamu yang datang ke rumahnya menyapa, memulai usaha pembudidayaan buah naga sejak empat tahun lalu dengan modal awal lima puluh juta rupiah. Awalnya dia menanam sebanyak dua ratus lima puluh batang pohon di lahan yang dia miliki di Desa Sendang Kecamatan Pragaan Sumenep Jawa Timur. Tentu saja di awal usahanya sedikit mengalami kesulitan membudidayakan tanaman buah naga mengingat pekerjaan sebelumnya sebagai petani tembakau. Berkat ketekunan dan usaha keras maka tanaman buah naga kali ini mencapai panen raya.



Meskipun secara geografis Madura merupakan tanah kering dan tadah hujan dan berhawa panas, tetapi panen raya buah naga kali ini mencapai empat ton bila dibandingkan dengan panen perdana empat tahun lalu yang hanya lima kwintal buah naga. Dengan semakin banyaknya buah naga yang berhasil dipetik maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh. Sebagai gambaran harga 1 ton buah naga harganya mencapai tujuh belas juta rupiah.


Petugas memeriksa tanaman buah naga (Hylocereus undatus) di Agrowisata tanaman organik, Proppo, Pamekasan, Madura, Jatim, Rabu (9/9). Beberapa daerah di Madura, tanaman ini menjadi alternatif, setelah dalam beberapa tahun terakhir harga tembakau tidak memberi keuntungan bagi petani. ANTARA/SAIFUL BAHRI.


Menurut Fitria sekalipun buah naga yang ditanam di daerah panas kering seperti di Madura ini, ternyata buah naga sukses dibudidayakan bahkan buah naga hasil budidaya petani Sumenep Madura ini memiliki lebih banyak serat dan kadar air sedikit sehingga mampu bertahan lama ketika disimpan. Saat panen raya kali ini banyak terlihat buah naga dijajakan di kios pinggir jalan Desa Sendang. Kini buah naga sudah mulai dibudidayakan petani lain sehingga diharapkan nantinya Kabupaten Sumenep mulai dikenal masyarakat sebagai sentra buah naga berkualitas di Madura.



Salah seorang warga desa Pelengaan Pamekasan, Munirah juga mulai tertarik untuk mencoba mengembangkan budidaya buah naga di rumahnya. Di samping menguntungkan dari sisi ekonomi, buah berwarna merah saga asal Negeri Tirai Bambu ini dapat dikonsumsi untuk menunjang kesehatan tubuh, juga sangat indah dijadikan pemandangan sebagai seni bercocok tanaman hias. Mengutip situs garfazh.blogspot.com, Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung.


Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah.

Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga.



Buah naga tidak hanya mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat. Saat panen raya berlangsung selama tiga sampai empat bulan, mendatangkan keuntungan bagi petani. Apalagi menjelang perayaan Imlek kemaren buah naga ini banyak dicari konsumen dari masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Jadi naga yang menyemburkan api dalam cerita klasik Tiongkok dengan lidah menjulur menakutkan, ternyata mempunyai cerita tersendiri bila naga yang satu ini berubah menjadi buah merah saga dengan sebutan buah naga alias Hou Lung Kuo.



Sahabat sehat dengan kundalini reiki jika suatu saat Anda datang ke Pulau Madura untuk belanja buah naga merah saga, tak ada salahnya mencicipi nasi buk, yaitu nasi jagung dengan lauk mendol alias tempe yang ditumbuk mirip perkedel. Nasi ini dimakan bersama paru goreng, empal, ayam goreng ditambah sayur nangka serta kerupuk kelapa khas Madura.



Jika perut sudah kenyang tak ada salahnya melihat karapan sapi. Anda boleh juga membawa oleh-oleh garam yodium putih dari Kalianget, tentu yang tak boleh dilupakan membeli si merah saga buah naga. Semua ini dapat diperoleh di Sumenep daerah paling timur dari daratan Pulau Madura.

Read More..

BUAH NAGA BUAH MERAH SAGA.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Sabtu, 15 Mei 2010 0 komentar

Madura selain terkenal dengan karapan sapi juga terkenal akan pembudidayaan buah naga. Buah naga atau yang dikenal dengan istilah Ho Lung Kuo ini dipercaya mampu menetralisir kadar gula darah. Selain itu pula buah ini mampu menetralkan kadar kolesterol dan melancarkan aliran darah dalam tubuh. Karena itu tidak heran buah yang dulu kala dibudidayakan di Pulau Jawa kini mulai dibudidayakan di daerah kering panas Madura.



Buah berwarna merah saga ini menjadi makanan favorit kaum manula. Lho kenapa menjadi makanan favorit manula? Sebab penurunan fungsi tubuh manusia biasanya dimulai di usia empat puluh tahun. Pada usia inilah segala jenis penyakit mulai akrab dengan tubuh. Mulai penyakit ringan hingga berat mulai akrab bersahabat dengan orang yang tidak peduli akan kesehatannya. Karena itu begitu mengetahui khasiat buah naga yang mampu menetralisir keluhan penyakit seperti kadar gula darah, kolesterol darah dan melancarkan aliran darah, maka menjadikan Fitria bergaul akrab dengan buah yang satu ini.



Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah. Memang belum ada penelitian pasti tentang manfaat buah ini. Namun mengingat asalnya dari jenis buah kaktus, kita percaya buah naga mengandung vitamin C, beta karoten, kalsium dan karbohidrat. Yang pasti buah naga tinggi serat sebagai pengikat zat karsinogen penyebab kanker dan memperlancar proses pencernaan. (id. Wikipedia)



Ibu Fitria begitu biasa tamu yang datang ke rumahnya menyapa, memulai usaha pembudidayaan buah naga sejak empat tahun lalu dengan modal awal lima puluh juta rupiah. Awalnya dia menanam sebanyak dua ratus lima puluh batang pohon di lahan yang dia miliki di Desa Sendang Kecamatan Pragaan Sumenep Jawa Timur. Tentu saja di awal usahanya sedikit mengalami kesulitan membudidayakan tanaman buah naga mengingat pekerjaan sebelumnya sebagai petani tembakau. Berkat ketekunan dan usaha keras maka tanaman buah naga kali ini mencapai panen raya.




Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah.


Meskipun secara geografis Madura merupakan tanah kering dan tadah hujan dan berhawa panas sebagaimana terlihat sehat dengan kundalini reiki bersama kerabat kerja Kamis 14 April 2010 lalu, tetapi panen raya buah naga kali ini mencapai empat ton bila dibandingkan dengan panen perdana empat tahun lalu yang hanya lima kwintal buah naga. Dengan semakin banyaknya buah naga yang berhasil dipetik maka semakin tinggi pula keuntungan yang diperoleh. Sebagai gambaran harga 1 ton buah naga harganya mencapai tujuh belas juta rupiah.



Menurut Fitria sekalipun buah naga yang ditanam di daerah panas kering seperti di Madura ini, ternyata buah naga sukses dibudidayakan bahkan buah naga hasil budidaya petani Sumenep Madura ini memiliki lebih banyak serat dan kadar air sedikit sehingga mampu bertahan lama ketika disimpan. Saat panen raya kali ini banyak terlihat buah naga dijajakan di kios pinggir jalan Desa Sendang. Kini buah naga sudah mulai dibudidayakan petani lain sehingga diharapkan nantinya Kabupaten Sumenep mulai dikenal masyarakat sebagai sentra buah naga berkualitas di Madura.



Salah seorang warga desa Pelengaan Pamekasan, Munirah mulai tertarik untuk mencoba mengembangkan budidaya buah naga ini di rumahnya. Di samping menguntungkan dari sisi ekonomi, buah berwarna merah saga asal Negeri Tirai Bambu ini dapat dikonsumsi untuk menunjang kesehatan tubuh, juga sangat indah dijadikan pemandangan sebagai seni bercocok tanaman hias. Mengutip situs garfazh.blogspot.com, Morfologi tanaman buah naga terdiri dari akar, batang, duri dan bunga serta buah. Akar buah naga hanyalah akar serabut yang berkembang di dalam tanah di batang atas sebagai akar gantung.




Dibalik rasanya yang manis menyegarkan, buah naga kaya akan manfaat. Banyak orang percaya buah ini dapat menurunkan kolesterol dan penyeimbang gula darah.


Akar tumbuh di sepanjang batang di bagian punggung sirip di sudut batang. Di bagian duri muncul ini akan tumbuh bunga yang bentuknya mirip bunga Wijayakusuma. Bunga yang tidak rontok berkembang menjadi buah. Buah naga bentuknya bulat agak lonjong seukuran dengan buah alpukat. Kulit buahnya berwarna merah menyala untuk jenis buah naga putih dan merah, berwarna merah gelap untuk buah naga hitam dan berwarna kuning untuk buah naga kuning. Di sekujur kulit dipenuhi dengan jumbai-jumbai yang dianalogikan dengan sisik seekor naga. Oleh sebab itu, buah ini disebut buah naga.



Kenyataan bahwa buah naga tidak hanya mendatangkan keuntungan dalam waktu singkat tetapi tanaman ini dalam setahun panen raya selama tiga sampai empat bulan. Apalagi menjelang perayaan Imlek kemaren buah naga ini banyak dicari konsumen dari masyarakat Tionghoa yang ada di Indonesia. Jadi naga yang menyemburkan api dalam cerita klasik Tiongkok dengan lidah menjulur menakutkan, juga mempunyai cerita indah tersendiri bila naga yang satu ini berubah menjadi buah merah saga dengan sebutan buah naga alias Hou Lung Kuo.



Jadi kalau Anda datang ke Pulau Madura selain mencicipi nasi buk yang menyajikan nasi jagung dengan mendol alias tempe yang ditumbuk mirip perkedel plus paru goreng, empal, ayam goreng ditambah sayur nangka serta kerupuk kelapa khas Madura, juga sempatkan diri melihat karapan sapi. Anda boleh juga membawa oleh-oleh garam yodium putih dari Kalianget, tentu yang tak boleh dilupakan membeli si merah saga buah naga. Semua ini dapat diperoleh di daerah Sumenep daerah paling timur dari daratan Pulau Madura.

Read More..

DARI LADANG GARAM HINGGA PARUT DAN WAJAN

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 24 Januari 2010 2 komentar

Mumpung sehat dengan reiki masih ada di Jawa Timur tidak lah lengkap kalau tidak mengunjungi Kalianget, daerah kecamatan di Kabupaten Sumenep Madura. Letak geografis Kalianget berada paling timur dari daratan Pulau Madura. Daerah ini memiliki jenis potensi wisata petani garam yang memiliki luas area lebih kurang 2876.96 m2. Salah satu desa penghasil garam adalah Desa Pinggir Papas Kecamatan Kalianget.



Pembuatan dan penambangan garam dilakukan oleh sebuah perusahaan swasta ditujukan sebagai wisata edukasi. Proses pembuatan garam dimulai dari pemetakan tanah lalu diisi air laut dengan kadar garam rendah. Tambak garam yang penuh air laut dibatasi dengan pematang lalu airnya didiamkan untuk beberapa hari. Air laut dari beberapa petak lalu digabung menjadi satu sampai mencapai kadar garam 21 derajad. Setelah itu air laut mulai membeku sampai membentuk kristal-kristal garam siap panen di bawah teriknya sinar matahari.



Pada saat panen tiba di areal tambak garam, gundukan garam warna putih dari jauh terlihat laksana gunung es mini menyajikan pemandangan indah putih kemilauan dengan pancaran bulir-bulir kristal garam saat ditimpa sinar matahari. Garam yang telah terkumpul kemudian diangkut ke dalam pabrik untuk dilakukan iodiumisasi. Pembuatan garam mulai awal sampai menjadi produk yang siap jual membutuhkan waktu cukup lama yaitu bulan Mei sampai bulan Nopember. Proses pembuatan garam ini sangat menarik untuk dapat disajikan pada wisatawan, tinggal bagaimana mengemasnya agar dapat disajikan dengan baik dan menarik.



Sejarah terjadinya petani garam di Kalianget tidak bisa dilepaskan dari jasa Pangeran Anggaseto yang membantu tentara Klungkung berperang melawan tentara Lor dan Pangeran Sumenep. Menurut absraksi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumenep dalam tulisannya menjelaskan, waktu tentara perang Kerajaan Klungkung Bali kalah Perang melawan Lor dan Pangeran Weta (Raja Sumenep) ketika itu semua perahunya di hancurkan, datanglah pangeran ANGGASETO yang berjasa karena menyelamatkan para tentara Bali yang sudah terdesak dan kalah perang melawan pasukan Keraton Sumenep.



Dalam peristiwa tersebut Pangeran Anggaseto siap memberi jaminan kepada Pangeran Sumenep bahwa para tentara Bali yang sudah kalah akan menjadi tanggungan dirinya. Sampai saat ini sisa tentara perang secara turun temuran keturunannya bisa hidup damai bersama penduduk asli. Setelah Pangeran Anggaseto menetap di PinggirPapas, beliau mengajarkan kepada para masyarakat untuk bertani garam. Hal ini masih banyak kita jumpai di Pinggir Papas di mana para murid Pangeran Anggaseto keturunannya masih bertani garam bahkan menjadikan sebagai mata pencaharian keluarga sampai sekarang .



Penghasil garam terbanyak di Kabupaten Sumenep berada di Kalianget, memperoleh predikat garam terbagus kualitasnya termasuk juga garam beryodiumnya se-Madura sehingga Sumenep terkenal dengan sebutan pulau garam. Untuk mengenang Panglima Anggaseto selaku perintis pembuatan garam di Kalianget, maka masyarakat Desa Pinggir Papas mengadakan Nadar atau berniat untuk melakukan ritual tahunan yang dikenal dengan Nyadar. Ladang garam terbentang luas di daerah Pinggir Papas, Karang Anyar, Nambakor dan ada pula di Desa Gersek Putih Kecamatan Gapura.



Berkunjung ke Sumenep atau tepatnya di Kalianget bukan saja garam beryodiomnya. Di sini peralatan dapur juga dibuat. Tepatnya di Desa Kalianget Timur Anda akan menemui pengrajin Wajan dan Parut. Ya dua alat dapur yang sudah tidak asing lagi menemani kita sehari-hari tatkala berkutat dengan menu masak harian di rumah.



Beginilah aktivitas harian sebagian besar warga Desa Kalianget Timur. Dengan modal seadanya mereka tidak pernah putus asa menekuni pekerjaannya sebagai pembuat alat-alat kebutuhan dapur seperti parut dan wajan. Salah seorang warga desa setempat, Tohid (37) mengaku sudah sejak duduk di bangku sekolah dasar membuat wajan dan parut. Di sini semua pekerjaan dilakukan dengan manual tanpa bantuan alat mesin industri. Dalam sehari kerja dia mampu memproduksi sebanyak tiga puluh wajan ukuran kecil dan dua puluh wajan ukuran sedang. Pekerjaan dimulai sekitar jam 8 pagi sampai siang hari. Bekerja borongan dimana setiap satu lembar aluminium menghasilkan dua puluh sampai tiga puluh wajan. Untuk jasanya ini dia mendapat upah 30 ribu rupiah setiap hari.


Modifikasi wajan sekarang ini banyak digunakan sebagai alat menangkap signal internet di areal hotspot di daerah pemukiman tempat tinggal.


Di samping terkenal dengan usaha pembuatan alat-alat dapur, Ibu Asmiah salah seorang pemilik usaha pembuatan Parut mengaku sudah merekrut tenaga kerja sepuluh orang yang berasal dari tetangga dekatnya. Menurutnya dalam sehari kerja setiap orang mampu memproduksi enam puluh sampai seratus biji parut, tergantung ukurannya. Sementara pemasaran wajan dan parut tidak saja di Madura bahkan sudah sampai Situbondo, Banyuwangi bahkan Kalimantan. Pengrajin kecil model rakyat kecil sebenarnya ingin memajukan usahanya agar lebih besar lagi tapi karena terbatasnya modal maka banyak pesanan tidak bisa dipenuhi. Ya...faktor modal usaha juga tenaga kerja. Mereka tetap optimis bekerja karena suatu pekerjaan jika dijalani dengan tekun akan membuahkan hasil yang memuaskan.



Kincir angin di ladang garam berfungsi menyendok air laut dari selokan masuk ke tambak.

Perpaduan mendung tebal hitam pekat dan kristal garam putih menyajikan pemandangan indah di siang hari.

Read More..

SINGKONG MAKANAN SELINGAN

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Rabu, 24 Juni 2009 4 komentar




Berjalan di lorong pertokoan di Surabaya yang panas adalah sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan Franky dan Jane di mana video klipnya pernah ngetop saat ditayangkan di TVRI tahun 1978. Balada lagu ini menceritakan bagaimana panasnya udara kota Surabaya dengan padatnya lalu lintas di jalan dengan debu berterbangan ditiup oleh laju bis kota. Panasnya udara Surabaya masih sama 10 tahun kemudian ketika sehat dengan reiki dan kerabat kerja melangkahkan kaki meninggalkan Surabaya lalu berjalan menyusuri tegalan dan sawah kering di Desa Batang-batang Sumenep Madura.

Kunjungan pertama kali ke Pulau Garam Madura saat itu kita sudah disambut oleh teriknya panas matahari yang menyengat di siang hari bolong begitu kaki melangkah di sela-sela ladang singkong yang tumbuh subur di setiap petak sawah dan tegalan milik petani setempat. Menyaksikan hamparan ladang singkong sungguh membuat takjub mata memandang manakala mata juga menatap ladang garam di sawah milik petani garam di Kalianget Madura.Sungguh kontras pemandangan warna tadi.

Di satu sisi warna hijau daun singkong di tegalan di sisi lain warna putih kristal butiran garam terhampar di tambak garam di Kalianget. Kedua nama tempat tadi berada di Pulau Garam Madura atau tepatnya di Kabupaten Sumenep di ujung Timur Pulau Madura. Memang singkong tumbuh subur di daerah ini. Sebagai bahan pakan pokok setelah beras singkong tumbuh di daerah tropis dan subtropis.

Menurut sejarah singkong masuk Indonesia tahun 1852 melalui Kebun Raya Bogor yang kemudian tersebar ke seluruh Nusantara. Singkong berasal dari Timur Laut Brasil dan Meksiko Tenggara. Tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis. Singkong sendiri juga dimanfaatkan sebagai makanan pokok di Afrika, Asia dan Amerika Tengah dan Selatan. Negara yang paling banyak memproduksi singkong adalah Nigeria, Brasil,Thailand, Zaire dan Indonesia.

Sebenarnya singkong tumbuh sebagai tanaman tropis namun bisa juga tumbuh beradaptasi di daerah subtropis.Kandungan singkong mengandung karbohidrat tinggi dan dimanfaatkan sebagai makanan pokok sumber energi. Singkong sangat pahit rasanya mengandung hidrosianida. Agar aman dimakan, singkong diproses lebih dulu dengan cara merendam di air secara berulang-ulang untuk menghilangkan zat pahit tersebut.

Jenis singkong ini mengandung karbohidrat tinggi dan diolah menjadi tepung tapioka.Kata tapioka berasal dari kata tipioca yang berasal dari bahasa penduduk Tupi di Brasil. Di Indonesia sendiri singkong mudah diolah menjadi makanan bervariasi baik sebagai makanan pokok maupun selingan. Karena kalorinya tinggi singkong bisa diolah dengan cara dikukus atau dibakar. Bila hari hujan menghidangkan singkong kukus atau goreng sungguh dapat memberikan rasa nikmat apalagi ditambah jagung rebus.

Menghidangkan singkong sebagai makanan pokok sayangnya tidak bisa bertahan lama disimpan. Selain diambil saripatinya untuk tepung tapioka,juga bisa dibuat menjadi tepung singkong yang disebut mokal.Tepung singkong bisa diolah menjadi mi dan di Bantul disebut mi bendo dengan cara mengolahnya secara tradisional dan modern.

Mau tahu nilai gizi singkong per 100 gram. Menurut DKBM Depkes RI singkong mengandung energi 146 kalori, karbohidrat 34,7 gram, protein 1,2 gram dan lemak 0,3 gram. Sedangkan daun singkong sendiri juga bermanfaat sebagai bahan sayuran. Hasil dari singkong disebut rasi yaitu ampas pembuatan tapioka di daerah tertentu dimanfaatkan sebagai makanan pokok.

Ada pula beras aruk yang dibuat penampilannya mirip beras. Di Solo sendiri orang menyebut Tiwul,yaitu singkong yang dijemur kering kemudian dijadikan tepung dan dimasak menjadi tiwul bisa kita dapatkan di daerah pedesaan dan kota di Indonesia. Sebenarnya jika kita budidayakan pemanfaatan singkong menjadi aneka makanan sumber karbohidrat, akan banyak variasi menambah keanekaragaman pangan kita.

Indonesia kaya dengan sumber makanan yang mengandung menu gizi seimbang sebagai slogan makanan sehat. Nah sambil menutup paragrap terakhir postingan ini, sehat dengan reiki mencoba singkong rebus ditambah butiran garam sedikit serta jagung rebus....mengingatkan ketika berkunjung ke Desa Batang-batang Sumenep Madura sekian tahun lalu? Sudahkah Anda untuk hari ini dan esok mau mencoba makan tiwul,singkong rebus dan jagung rebus?

Gambar : google images.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.