ON LINE

Followers

SENTRA PRODUKSI BATIK LAWEYAN SOLO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Kamis, 03 September 2009



Bila Anda berada di Solo jangan lupa berkunjung ke sentra batik di Kampung Batik Laweyan. Begitu pesan beberapa kawan kepada sahabatnya yang belum pernah datang ke Solo. Memang betul anjuran itu yang sebenarnya sudah sering sehat dengan reiki dengar dari sahabat baik itu di forum blog, milis ataupun di pertemuan rutin dalam keseharian kerja, di mana sahabat yang pernah datang ke Laweyan ini menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Kampung Batik Laweyan. Apa yang akan diceritakan kalau bukan soal batik.

Sebenarnya Kampung Batik Laweyan sudah terkenal sejak awal kemerdekaan republik ini. Bahkan jauh sebelum itu kampung Laweyan sudah mengukir sejarah dengan munculnya Serikat Dagang Islam ( SDI ) yang dibentuk oleh KH Samanhudi, salah satu saudagar batik terkemuka. Lewat SDI inilah nafas Islam menjadi bagian yang penting dalam perdagangan di Indonesia. Di wilayah ini pula berdiri bangunan Mesjid Laweyan yang konon dibangun pada tahun 1546 Masehi.

Secara geografis Kampung Batik Laweyan berada di Solo Barat dan Selatan Kota Solo. Kawasan ini sejak dulu terkenal sebagai sentra industri batik. Keberadaan sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546 Masehi. Karena terkenal dengan produksi batiknya maka kampung ini segera menjadi ikon batik pedalaman khususnya di Pulau Jawa di samping batik pesisir produksi Pekalongan, Lasem, Cirebon dan Indramayu. Kampung ini secara cepat menjadi ikon melegenda dan memantapkan diri sebagai pusat kejayaan perkembangan seni batik di kota Solo.

Letak Kampung batik Laweyan sebelah timur berbatasan dengan Kampung Jagalan Bumi Laweyan. Sebelah selatan dibatasi Kali Jenes dan paling barat Kampung Kwanggan. Sebelah utara terdapat ruas jalan Dr. Rajiman yang membentang dari Pasar Jongke hingga Pasar Kabangan. Di ruas utama kampung Batik Laweyan ada jalan Sidoluhur yang diapit bangunan legendaris bertembok tinggi milik para saudagar batik yang pernah mendapat julukan Mbok Mase dan nDoro Nganten Kakung..

Para saudagar batik tadi membuat batik dengan menggunakan cap atau canting sebagai peralatan kerja. Dalam proses pembuatannya menggunakan lilin yang ditorehkan di kain putih. Lilin atau malam digoreskan menggunakan cap tembaga atau canting. Karena dibuat dengan cap maka dinamakan batik cap sedangkan yang menggunakan canting disebut batik carik atau batik tulis. Malam atau lilin ini melekat dikain putih lalu dalam proses pengerjaannya disertakan warna untuk memperindah corak motif batik.

Selama masa pembuatan hingga selesai dipasarkan melibatkan tenaga kerja dari penduduk sekitar Laweyan. Tenaga kerja ini disebut buruh batik. Upaya promosi selanjutnya melalui stiker yang ditempelkan di kain batik yang sudah jadi. Selanjutnya batik dipasarkan di toko batik atau dijual dalam partai besar di Pasar Klewer. Upaya promosi juga dilakukan untuk mengangkat citra batik diantaranya melalui brosur dan sekarang ini menggunakan media internet sehingga penduduk negara lain akan tahu keberadaan batik sebagai hasil karya adiluhung bangsa Indonesia khususnya budaya Jawa.

Hal ini ternyata tidak sia-sia ketika Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya Indonesia. Melalui Unesco keberadaan batik telah mendapatkan tempat secara internasional. Adanya pengakuan ini berarti batik telah mendapatkan pasar luar negeri terbukti dengan banyaknya turis asing atau domestik yang berkunjung ke Kampung Batik Laweyan untuk berbelanja sekaligus melihat jalannya proses produksi batik.

Dari kalangan pengusaha pengakuan ini seharusnya direspon pemerintah dengan segera menerbitkan undang-undang yang melindungi para pengusaha batik. "Misalnya perlu ditunjukkan definisi batik yang sebenarnya. Jika prosesnya tidak menggunakan lilin bukan termasuk batik," tutur Widiarso, Pengurus Forum Kampoeng Batik Laweyan sebagaimana dikutip Joglosemar beberapa waktu lalu.
Jika hal itu dilakukan akan bermunculan industri-industri kreatif baru khususnya dalam pembuatan batik.

Di Kampung Klaseman tempat sehat bersama reiki menghabiskan waktu kecil hingga sekolah lanjutan atas penduduknya pun kebanyakan bekerja sebagai buruh batik. Ada yang bekerja sebagai tukang cap batik, tukang tolet, nglorot, buruh cuci batik dan pembatik kain tulis yang umumnya dikerjakan oleh ibu-ibu. Mereka bekerja di pabrik batik dan ada juga yang membawa bahan batik untuk di kerjakan di rumah masing-masing. Umumnya pekerja ini bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Terkadang malam hari ada juga yang bekerja lembur.

Tahun 1968 saat produksi batik meningkat ada seorang saudagar batik yang cukup dermawan mengijinkan penduduk sekitar untuk menonton televisi hitam putih setiap malam minggu di pendopo rumahnya dengan syarat ada yang mau membantu melipat kain batik yang belum jadi. Begitu pekerjaan melipat kain batik selesai barulah pesawat hitam putih ukuran 20 inchi dihidupkan. Penduduk ramai-ramai menonton film akhir pekan yang kalau itu TVRI menyiarkan Daktari, Flipper, Bonanza dan siaran iklan niaga. Di kampung itu baru ada 1 pesawat televisi hitam putih milik saudagar batik dan menjadi satu-satunya hiburan akhir pekan bagi penduduk sekitar pabrik batik.

Nah bila ingin mengenal lebih lanjut proses pembuatan kain batik, Anda tidak perlu membantu melipat kain batik sebagaimana ilustrasi di atas. Anda bisa langsung datang sambil mencoba membatik menggunakan canting. Pada lebaran tahun ini kunjungan wisatawan baik turis asing atau domestik diharapkan meningkat ke Kampung Batik Laweyan. Di kampung batik Laweyan semuanya telah tersedia baik batik tulis atau pun batik cap. Silakan belanja dan pilih batik sesuai selera Anda semua.

Sumber gambar : www.kampoenglaweyan.com

4 komentar

  1. Hmm..
    Batik memang..
    Selalu mengagumkan.. :D

     
  2. Nadja Tirta Says:
  3. keren..!!

     
  4. guskar Says:
  5. setiap tahun pas mudik lebaran saya selalu main ke tempat ini, maklum ada pakde dan bibi yg tinggal di laweyan... masuk lewat jalan nitikan... satunya jl. latar ireng...
    solo... spirit of java...
    sll ngangeni..
    hr jumat ini saya juga lg pake batik solo... :)

     
  6. Jhonie Says:
  7. Kalau ngomongin batik memang gak ada berhentinya ... karena motif batik yang beraneka ragam. Tapi kita rasanya perlu untuk mematenkan batik tersebut supaya gak diakui pihak asing lagi ...

     

Posting Komentar

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.