Ragam
artefak yang ditemukan di pulau itu diperkirakan berasal dari tahun
10.000 SM. Di sebelah timur, Pulau Manitoulin berbatasan dengan Teluk
Georgia dan sebelah utara dengan North Channel. Pulau itu sendiri
memiliki lebih dari 100 danau, termasuk Danau Manitou.


Siapa saja yang pernah datang ke kebun binatang pasti pernah mengenal nama komodo. Menurut sejarah kepurbakalaan, komodo telah hidup di hutan-hutan di Indonesia sekitar 700.000 tahun lalu. Berperawakan besar, bertenaga kuat dan agresif, para komodo ini merupakan rajanya dunia perkadalan.
Awalnya komodo diduga berasal dari Australia sebelum bermigrasi ke Indonesia. Namun dengan ditemukannya jejak-jejak komodo kuno di Afrika, beberapa waktu lalu ternyata meruntuhkan dugaan tersebut. Binatang vertebrata Afrika yang berusia sekitar 30 juta tahun itu terkait dengan komodo yang masih hidup saat ini dan juga 50 jenis kadal lain dari genus Varanus.
Ketika jenis kadal kuno tersebut hidup di Afrika, benua itu masih dikelilingi lautan dan betul-betul terputus dari daratan yang menghubungkannya dengan benua lain, apakah itu Asia, Eropa ataupun Indonesia. Jejak kadal Afrika ditemukan di sebuah wilayah yang dulunya merupakan danau. Temuan ini menunjukkan bahwa komodo merupakan perenang tangguh, seperti juga turunannya yang ada saat ini.
- Komodo (Varanus komodoensis) selaku " penguasa di Pulau Komodo " merupakan kadal terbesar yang panjangnya bisa mencapai 3 meter dan beratnya sekitar 70 - 90 kg. Satwa ini hanya terdapat di Nusa Tenggara di Pulau Komodo, Padar dan Rinca serta beberapa pulau kecil di selat antara Sumbawa dan pesisir barat serta utara Flores. Komodo senang tinggal di dalam liang-liang tanah, kadang di bawah batu atau susunan akar pohon. Reptil ini dapat bergerak dengan cepat / lari dengan perut tanpa menyentuh tanah tapi juga dapat berenang di air.
Melihat penampilannya di Pulau Komodo saat ini, ternyata kadal kuno-kadal kuno itu panjangnya sekitar 1,5 meter. Mereka diduga hanya berenang untuk jarak pendek. Namun kemungkinan binatang ini bisa menyeberangi lautan tetaplah terbuka. Yang pasti upaya untuk mengungkap misteri migrasi komodo yang sampai ke Indonesia masih terus berlanjut meninggalkan jejak misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini.
Sumber : GeoWeek Kompas.
Read More..Bali memang makin terang benderang namanya disebut warga belahan dunia lain di luar Indonesia. Tentu saja aroma mistiknya selalu mengundang siapa saja untuk datang ke sini. Masih teringat dalam ingatan sehat dengan kundalini reiki tatkala mendapat tugas membuat film dokumenter budaya Masyarakat Trunyan tahun 1988 lalu. Di daerah ini kita bisa melihat dan merasakan suasana mistis ketika kaki melangkah masuk ke areal pekuburan Desa Trunyan di mana mayat manusia dikuburkan di atas tanah dan tidak ditutupi dan dibiarkan saja membusuk. Anehnya tidak ada aroma bau busuk mayat menyebar di areal makam ini. Yang ada bau daun kering Pohon Tarumenyan yang jatuh berserakan di areal makam ini. Konon menurut cerita masyarakat adat Trunyan, bau mayat membusuk sudah diserap oleh Pohon Tarumenyan sehingga bau busuk tidak menyebar kemana-mana.
Itulah salah satu sisi magis dari keberadaan Pohon Taru Menyan yang legendaris itu. Namun Bali masih banyak menyimpan cerita unik berkaitan dengan satu kawasan yang sangat erat sekali hubungannya dengan kehidupan binatang. Tengok saja kawasan Lagoon seluas 30 hektar di kawasan Nusa Dua. Lagoon saat itu menjadi tempat tinggal persinggahan burung yang terbang lintas benua. Setidaknya ada 77 spesies burung yang mendarat dan tinggal sebentar setelah itu terbang kembali meninggalkan kawasan ini. Menurut Made Mandra, Direktur Utama Bali Tourism Development Corporation ( BTDC ) Lagoon ini sekarang ini juga menjadi tempat tinggal beberapa jenis ikan. " Keberadaan ikan akhirnya mengundang berbagai komunitas burung untuk bermukim dan membuat ekosistem baru di wilayah ini, " katanya.
- TRUNYAN, INDONESIA - MARCH 21: Skulls are positioned at a village cemetery in Kuban, on March 21, 2007 near Trunyan, Bali resort island, Indonesia. Unlike the Balinese people, the people of Trunyan do not cremate or bury their dead but lay them out in bamboo cages to decompose. The stench is masked by the perfumed scents from a huge Banyan tree growing nearby. Trunyan ancient village is inhabited by people who call themselves "Bali Aga" or original Balinese who have maintained many of the old Balinese customs. (Photo by Dimas Ardian/Getty Images)
Kawasan pariwisata berbasis pada alam tampaknya akan diwujudkan di Lagoon ini. Lahan hijau terbuka yang tersisa di Kawasan Nusa Dua dibiarkan terbuka yang dapat diakses masyarakat umum. Dengan dibangunnya fasilitas pengamatan burung untuk pengunjung berupa menara pandang, dengan sendirinya akan membuat pengunjung betah berlama-lama mengamati tingkah polah burung hinggap di dahan pohon. Keunikan satwa lain seperti biawak kecil yang disebut alu pun ada di sini. Banyaknya burung lokal di tambah burung migran tinggal di Lagoon ini mulai dilirik wisatawan domestik dan mancanegara sebagai wisata pengamatan burung atau bird watching.
Pada bulan Oktober hingga November misalnya, dari Lagoon ini kita bisa menikmati dan mengamati burung-burung yang singgah dalam penerbangan mereka dari Siberia menuju belahan bumi Selatan. Karena itulah penerbangan burung ini disebut penerbangan lintas benua. Burung-burung Siberia seperti burung trinil dan cerek cukup banyak. " Kalau sekitar bulan Juni umumnya burung-burung dari Australia seperti jenis kirik-kirik dan cekakak suci terbang dan hinggap tinggal di sini beberapa saat lamanya, " ujar Deni Purwandana, seorang penggiat Komunitas Kokokan Denpasar seraya mengungkapkan Lagoon yang ada di Nusa Dua ini memang menjadi habitat bagus bagi burung-burung lokal dan tempat transit beberapa jenis burung migran.
Kenapa burung memiliki peran penting bagi perkembangan ekosistem? Menurut Inspiratorial Kompas yang sehat dengan kundalini reiki kutip, satwa ini turut membantu penyebaran tumbuhan di suatu daerah. Dalam rantai makanan, posisi burung berada di bagian atas. Burung dianggap juga sensitip terhadap pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas makanannya. Oleh para peneliti burung sering dijadikan indikator untuk menilai tingkat kerusakan lingkungan atau hutan. Penelitian burung sendiri di kawasan Nusa Dua sudah dilakukan beberapa tahun silam, antara bulan Januari 1999 sampai tiga tahun berikutnya jakni bulan Januari 20o2.
Menurut Jurnal Elektronik Universitas Udayana Bali, mencatat pada penelitian tersebut berhasil diamati berbagai jenis burung yang hidup di kawasan itu dimana keberadaannya sangat mendukung pengembangan atraksi ekowisata pengamatan burung. Kesimpulan tersebut diambil para peneliti Unud dengan sandaran fakta bahwa 83 jenis burung ditemukan di kawasan ini. Dalam persentasi angka tersebut mencapai 27 persen dari total spesies burung yang ada di Pulau Bali. Burung-burung itu banyak tinggal di daerah Lagoon. Burung yang ada di Nusa Dua sebagian besar merupakan burung non-migran yang jumlahnya mencapai 87 persen. Sementara burung migran sebanyak 13 persen dan burung endemik Indonesia sebanyak 6 persen.
Di luar Nusa Dua kawasan yang strategis untuk menjadi lahan konservasi burung dan dapat dikembangkan menjadi tempat wisata adalah sekitar Bedugul Bali bagian tengah. Objek yang mendukung lokasi ini adalah Kebun Raya Ekakatya, Danau Beratan, Danau Buyan dan Tambingan. Selain itu daerah Karangasem di Bali Timur yang banyak disinggahi burung-burung migran pemangsa seperti elang. Atau Taman Nasional Bali Barat yang menjadi lahan konservasi jalak Bali ( culik Bali ) yang nyaris punah itu. Bila semakin banyak daerah di Bali dikembangkan sebagai habitat burung , liburan kita ke Bali makin variatip saja. Selain Anda dapat mengunjungi Penelokan di Kintamani sambil menikmati hamparan Danau Batur di mana di seberang danau tinggal Masyarakat Adat Bali Trunyan sebagaimana prolog postingan ini, Anda pun dapat melihat penangkaran burung Jalak Bali di Ubud.
Sumber : Inspiratorial Kompas ( diedit ) / Foto : Andry Khusnul/Dimas Ardian.
Read More..Isle Royale pulau terbesar di Danau Superior, Amerika Serikat merupakan rumah bagi sejumlah binatang yang secara alamiah bermusuhan. Rusa besar yang gemar memakan tumbuh-tumbuhan dan serigala yang gemar memangsa rusa besar sudah hidup berdampingan di situ selama lebih dari 50 tahun. Letak Isle Royale yang secara geografis terkurung, mendorong terjadinya keseimbangan eksistensi yang unik antara binatang pemangsa (predator) dan korbannya.
Kondisi ini juga membuat pulau itu menjadi semacam laboratoriom alamiah untuk mempelajari relasi di antara para penghuninya. Keberadaan predator utama semacam serigala diyakini berdampak terhadap ekologi setempat, yaitu dalam bentuk lingkaran nutrisi. Proses pembusukan bangkai hewan dan tumbuhan yang terserap ke dalam tanah memberikan nutrisi bagi tanaman.
Menurut GeoWeek yang sehat dengan inti reiki kutip, memberikan data yang dikumpulkan sejumlah peneliti selama empat dekade menunjukkan adanya wilayah tertentu ( hot spot ) yang tanahnya subur, yaitu tempat-tempat di mana serigala meninggalkan bangkai rusa besar. Sampel tanah yang diambil dari area itu menunjukkan adanya peningkatan zat nitrogen, fosfor, potasiom dan kadar bakteri, mikroba atau pun fungus yang tinggi.
- Rusa ini sering dianggap sebagai rusa terbesar kedua di dunia, dan juga salah satu mamalia terbesar di Amerika Utara dan Asia Timur, berbeda dengan binatang berkecepatan tinggi lainnya, binatang ini justru menggunakan kecepatannya untuk menghindari pemangsa, bagaimanapun melihat ukuran dan kecepatannya, banyak predator sekalipun lapar, lebih suka mengurungkan niatnya untuk memburu rusa ini.
Tanaman yang tumbuh di wilayah hot spot memiliki kandungan nitrogen yang 47 persen lebih tinggi dibandingkan tanaman yang tumbuh di area lain. Kelompok rusa besar juga cenderung berkerumun mencari makanan di sekitara area yang tanahnya disuburkan oleh urine dan kotoran mereka sendiri. Menemukan keterkaitan dalam hubungan predator-korban dan kesuburan tanah akan membantu upaya konsenvarsi pada masa depan. Hal itu juga menggambarkan pentingnya keberadaan predator utama, semacam srigala bagi keseimbangan ekosistem.
Sumber : Isle Royale Wolf and Moose Study.
Read More..