

Masih ingat dengan kadal? Barangkali kadal yang hidup di sekitar tempat tinggal kita, sudah biasa kita lihat setiap hari. Mereka sering ada di halaman rumah, merayap pohon di pekarangan rumah bahkan berkeliaran di areal persawahan. Itu kadal biasa tapi bila ada ada kadal raksasa barangkali orang akan terkejut dan bahkan takut. Boleh saja orang takut tapi tidak demikian halnya dengan kadal raksasa satu ini, yang hidup di hutan Filipina.
Orang menyebut reptil yang masuk dalam keluarga besar kadal dengan panjang sekitar dua meter telah ditemukan di Filipina. Menurut situs BBC News Rabu ( 7/4 ) yang sehat dengan kundalini reiki kutip dari Kompas, menyebutkan reptil raksasa dengan kulit kuning, biru dan hijau terang itu ditemukan di kawasan hutan pegunungan Sierra Madre Filipina. Pengamatan oleh tim ahli binatang melata, reptil raksasa ini lalu diberi nama Varanus Bitatawa ternyata hanya makan buah-buahan.
" Binatang itu luar biasa. Sayangnya sekarang ia lepas dari pantauan kami," kata Rafe Brown, salah satu ilmuwan yang menggambarkan reptil raksasa spesies baru itu di jurnal Biology Letters. Penemuan reptil raksasa ini sama pentingnya dengan penemuan dua spesies raksasa yang disebut mega fauna beberapa tahun lalu yaitu Rungwecebus Kipunji sejenis monyet baru yang ada di Afrika dan Saola ( Pseudorys Nghetinhensis ) dari Vietnam.
Kadal raksasa ini sebenarnya sudah dikenal lama oleh warga suku Agta dan Ilongot yang tinggal di kawasan pedalaman hutan sebelah utara Pulau Luzon. Bahkan biasanya masyarakat kedua suku itu memburu kadal raksasa itu untuk diambil dagingnya, sumber protein yang utama. Keberadaan kadal raksasa itu kemudian diketahui tim ilmuwan dari Amerika Serikat, Filipina dan Belanda.
Sebelumnya tim ini sudah menganalisis sejumlah species kadal raksasa yang disimpan di museum AS dan Filipina. Panjang tubuh kadal raksasa itu diperkirakan mencapai dua meter, ekornya sepanjang satu meter. Warna kakinya didominasi kuning dan ekornya garis-garis hitam dan kuning. Karena kadal ini hanya makan buah-buahan, berarti kadal raksasa spesies baru itu termasuk satu dari tiga spesies kadal pemakan buah yang ada di dunia.
Sampai saat ini kadal raksasa spesies baru ini menghilang dan belum diketahui keberadaannya lagi. Para peneliti menduga, barangkali kadal raksasa species baru itu kerap bersembunyi di bagian paling dalam hutan. Namun satu hal pasti, kadal raksasa ini tidak pernah meninggalkan hutan ataupun berpindah tempat ke daerah terbuka. Sejauh ini para ilmuwan biologi memperkirakan, kadal raksasa species baru itu paling tinggal sekitar 150 kilometer dari saudara terdekatnya, yakni kadal yang dikenal dengan Varanus Olivaceus yang juga hidup di hutan dan hanyak memakan buah-buahan.
Sumber : BBC/Kompas.
Read More..Berkendara melewati tikungan tajam di mana kanan dan kiri jalan terbentang tebing terjal dan sesekali di samping jalan terbentang jurang dalam akhirnya sampai juga perjalanan kami menuju perkampungan tradisional di Tataran Tanah Sunda. Dari jauh kampung yang terletak di lembah terlihat asri di antara hijaunya dedaunan tanaman yang tumbuh lebat sepanjang perjalanan dari Tasikmalaya menuju Garut. Kita telah sampai di gerbang Kampung Naga.
Itulah ruang Kampung Naga di tepian sungai Ciwulan yang airnya jernih mengalir terlihat sesekali batu besar teronggok di tengah dan tepian sungai. Sawah menghijau terbentang sepanjang mata memandang begitu pula ladang tegalan terhampar dengan tanaman singkong, jagung, ketela rambat, pohon aren dan kelapa. Semuanya tumbuh subur. Daerah subur inilah yang menjadikan Kampung Naga sebuah kampung di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya yang menyimpan beragam pedoman hidup tradisional dan senantiasa menghormati kelestarian alam menjadi Kampung Adat yang terkenal hingga mancanegara.
Bila sahabat sehat dengan reiki berkendara ke lokasi kampung adat ini mudah ditemui tempatnya. Berjarak sekitar 30 kilometer dari Kota Tasikmalaya dan 26 kilometer dari Kota Garut, Kampung Naga ada di tepi tebing menjorok. Ucapan selamat datang dengan minuman pembuka semacam legen atau air kelapa muda akan ditawarkan kepada tamu baik perorangan atau rombongan. "Selamat datang di Kampung Naga," begitulah ucapan Mang Ajab warga setempat menyambut kedatangan rombongan sehat dengan reiki dan kerabat kerja yang datang dari Jakarta Selasa siang kemaren.
"Wilayah ini seluas 1.5 hektar dengan batas wilayah sebelah timur dan utara mengalir Sungai Ciwulan, sebelah barat hutan keramat yang terdapat makam leluhur dan di selatan terbentang sawah-sawah penduduk. Jumlah bangunan adat 112 buah berbentuk semi permanen dengan 109 kepala keluarga. Total jumlah penduduk yang berdiam saat ini ada sekitar 314 orang," ucap Mang Dikin warga asli setempat yang menemani rombongan sehat dengan reiki siang itu. Kampung itu menjadi satu kampung adat dari sekian kampung adat yang ada di Indonesia dan masih memegang teguh nilai-nilai adat dan peraturan leluhur.
Berbeda dengan wilayah perkotaan yang penuh dengan produk kapitalisme yang menyodorkan gaya hidup mewah penuh hura-hura dengan tingkat konsumsi barang dagangan berbagai merek yang serba mahal, Kampung Naga dibalut penuh kesahajaan dan kearifan lokal dalam bingkai tradisional yang mengedepankan gotong royong di antara penduduknya. Belum ada fakta sejarah yang bisa memberi petunjuk siapa dan dari mana asal nama Kampung Naga. Barangkali yang bisa menjawab adalah warisan budaya dan perilaku leluhur saja yang masih ditaati dan diikuti dalam kegiatan harian semua warga baik dalam upacara adat kematian, perkawinan, kelahiran bayi, bercocok tanam dan mengambil tanaman untuk keperluan membangun rumah.
"Hutan adat sebelah timur itu pamali diambil kayunya. Jangankan kayu ranting yang jatuh ke tanah tidak boleh diambil. Untuk kayu bakar dan kebutuhan lainnya, warga rela membeli ke warung daripada mengambil di hutan larangan. Pamali kalau dilanggar dan menimbulkan bahaya," ujar Mang Dikin menerangkan lebih lanjut tentang hal-hal yang harus dihindari warga Kampung Naga. Secara administratif bentuk kepemimpinan Kampung Naga ada dua, yaitu formal dan informal. Bagian formal mereka mengenal RT, RW dan Kadus. Sedangkan informal khususnya tata aturan yang diterapkan secara adat menyerahkan urusan ini kepada kuncen, lebe dan punduh.
Di Kampung Naga semua penduduk terlihat bersahaja ketika mereka bergotong royong membangun rumah, menebarkan kail ke kolam kecil di pinggir sawah. Untuk kebutuhan primer seperti makan sehari-hari, hasil sawah dan ladang sudah cukup menghidupi setiap kepala keluarga. Papan sederhana untuk berteduh dari tempaan sinar matahari dan derasnya air hujan sudah cukup membuat mereka nyaman tinggal dalam hidup keseharian. Untuk sandang pun mereka tidak bermewah-mewah kendati uang cukup untuk membeli kebutuhan primer ini. Yang mereka butuhkan adalah alat pertanian untuk mengolah sawah dan ladang.
Dari hasil bertani mereka bisa mendapatkan 4 kuintal per kepala keluarga dalam setiap kali panen selama 6 bulan sekali. Jumlah ini sudah lebih cukup untuk konsumsi harian dan bekal untuk menanti panen berikutnya. Kegiatan lain dari warga saat ini adalah menganyam tikar, tas untuk dijual keluar Kampung Naga. Daerah pemasaran pun sampai ke Tasikmalaya. Aneka macam kerajinan yang dihasilkan warga juga dibawa pemborong ke beberapa kota seperti Garut dan Tasikmalaya. Sebagai kampung yang telah digandrungi sebagai objek wisata, hasil kerajinan seperti tikar tidak kalah menarik mutunya dibanding dengan kerajinan tikar mendong Tasikmalaya.
Sebagai kampung adat barangkali Anda mengira kampung ini dikungkung adat ketat dalam segala hal yang menandakan keterbelakangan. Banyak yang mengatakan warga Kampung Naga miskin informasi. Dugaan Anda salah, saat ini banyak warga memiliki telepon seluler dan pesawat televisi. Semua ini dibutuhkan untuk hiburan semata agar tidak ketinggalan informasi dari kampung lain di luar Kampung Naga. Mereka tetap mengikuti tren mengingat kaum mudanya banyak yang bersekolah di luar Kampung Naga seperti Bandung, Tasikmalaya dan Garut. Kaum muda inilah yang membawa perubahan dalam hal komunikasi yang tidak bisa dibendung lagi dan hadir di Kesunyian Kampung Naga.
"Informasi baru ini boleh masuk Kampung Naga selama tidak melanggar adat. Hanya listrik yang tidak boleh masuk kampung ini. Untuk menyalakan televisi warga menggunakan aki," ujar Mang Ajab lebih lanjut . Maum sesepuh atau Punduh Kampung Naga menyebutkan, kedatangan wisatawan selain memberi keuntungan materi bagi Kampung Naga juga memberikan informasi. Pendatang ini dengan sendirinya akan menceritakan perihal Kampung Naga selepas dia pulang ke kampungnya. Dengan cara ini maka silaturahmi akan tetap terjalin kendati pun mereka datang hanya sekali saja ke kampung ini.
"Saat mereka berkunjung ke kampung sini dan tidak melanggar adat yang kami tetapkan, kami akan menerima kunjungannya dengan senang hati. Selama ini mereka taat dan tidak pernah melanggar aturan adat," jelas Maum lebih lanjut. Sejauh ini sudah banyak warga yang merantau dan bekerja di luar daerah. Karena aturan adat yang membolehkan warga hanya punya lahan pertanian 1.5 hektar, mereka yang menikah dan butuh rumah terpaksa tinggal di luar Kampung Naga. Kendati pun berada di luar Kampung Naga, warga ini akan datang kembali sewaktu-waktu kampung ini menyelenggarakan upacara adat.
Ketika gempa bumi melanda Tasikmalaya beberapa waktu lalu, rumah Kampung Naga tetap utuh berdiri tanpa retak sama sekali. "Waktu gempa terjadi warga malah masuk rumah. Rumah di sini memang didesain anti gempa mengingat pondasi rumah cukup kuat. Semua rumah di Kampung Naga menghadap ke Utara dan Selatan. Tujuan penataan rumah ini untuk menjalin relasi sosial antar tetangga. Untuk struktur bangunan berkonsep semi permanen dan menempel di tanah. Tujuan rumah model ini agar gampang dipindah dan juga menjaga ekologi dalam tanah. "Dengan tata pondasi semacam ini, rumah di sini terbukti aman dari goncangan gempa," kata Mang Ajab.
Di balik kebersahajaan hidup masyarakat Kampung Naga, kampung ini menyimpan berbagai peraturan yang belum boleh dijelaskan kepada orang lain. Istilahnya pamali. Setiap bulan Safar dan Ramadhan serta hari Selasa, Rabu dan Sabtu tidak boleh menceritakan sejarah tentang Kampung Naga. "Alasannya ya....itu tadi...pamali," kata Mang Soleh warga lain yang menyertai kunjungan melihat hutan larangan yang terlihat seram di siang hari. Yang mengagumkan hanya dengan satu kata pamali tanpa ada perundangan tertulis, warga Kampung Naga selalu siap taat pada aturan dan kebiasaan hidup nenek moyangnya yang diwariskan kepada penduduk secara turun temurun. Sayang keinginan mengorek sejarah Kampung Naga untuk bahan dokumentasi tidak terlaksana mengingat kami datang pada hari Selasa. "Sekali lagi menceritakan sejarah itu pamali, bisik Mang Dikin sambil mempersilahkan rombongan sehat dengan reiki santap siang di Saung Mang Wartam yang terletak sedikit menjauh dari lokasi Kampung Naga.
Foto by : Koswara Banten.
Read More..Tiada yang lebih gembira di saat musim hujan tiba selain Pak Tani dan Sang Kodok. Betapa tidak musim hujan boleh disebut sebagai musim yang dirindukan untuk kembali mengolah sawah buat menanam padi. Demikian halnya Sang Kodok yang hidup di dua alam akan bergembira ria menceburkan diri di genangan air hujan yang mengalir ke sawah dan selokan sehingga menambah riuhnya celotehan sang kodok mengorek di malam hari. Musim hujan tiba setelah kemarau panjang yang panas seolah memberi kesegaran dan kesejukan tersendiri bagi kita yang hidup di daerah khatulistiwa.
Akan tetapi hujan yang jatuh ke bumi tidak saja menghadirkan keromantisan Pak Tani dengan Kerbaunya berikut Sang Kodok dengan nyanyiannya, namun juga perlu menghadirkan kewaspadaan kita agar tidak membuang sampah ke aliran sungai yang kerap dituding sebagai biang terjadinya banjir. Bila tidak hati-hati menjaga diri dan sikap waspada menjaga lingkungan, hujan yang menjadi rahmat bagi manusia akan menjadi bencana dan tentu saja penyakit musiman.
Kuman, virus dan bakteri patogen yang menjadi sumber penyakit dapat hinggap di mana-mana. Terlebih lagi bila turunnya hujan mengakibatkan banjir. Selain sumber air bersih tercemar beragam penyakit seperti penyakit kulit dan ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) akan mudah menyerang kita semua yang lengah menjaga kebersihan diri dan lingkungan tempat tinggal. Karena itu membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal untuk menjaga tetap sehat.
Menjaga kesehatan pribadi sebenarnya mudah dilakukan. Hal ini bisa dimulai dari hal-hal yang paling sederhana tanpa memerlukan biaya, misalnya anjuran mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setelah bersin, batuk dan saat selesai memegang fasilitas umum seperti mesin ATM, telepon umum, pegangan pengaman di angkutan bus sebelum menyentuh makanan, sehabis buang air di jamban dan tentunya setelah beraktivitas olahraga dimana keringat mengucur dengan deras dan membasahi pakaian.
Turunnya hujan dan mendung tebal mengakibatkan suhu dingin membuat tubuh rentan dari serangan penyakit flu, demam, diare, batuk, pilek bahkan yang perlu diwaspadai terjadinya demam berdarah. Semua gejala penyakit ini biasanya merebak di musim penghujan. Karena itu agar tidak mudah terserang penyakit, sahabat sehat dengan kundalini reiki harus pintar menjaga kondisi tubuh. Menjaga tubuh tetap fit dan hangat dengan mengonsumsi asupan makanan yang bergizi, olahraga secara teratur dan istirahat yang cukup sudah merupakan solusi agar badan senantiasa bugar. Masih ada satu cara lagi yang membahagiakan Anda, sahabat sehat bersama kundalini reiki yang telah memperoleh attunement kundalini reiki agar tubuh tetap sehat, yaitu baca dan ikuti saja kiat sehat ala praktisi reiki di akhir postingan ini dengan baik.
Pak Dokter dan Bu Dokter yang menjadi sahabat sehat dengan kundalini reiki dan beliau juga menjadi praktisi reiki berpesan agar kita juga membiasakan diri memilih ragam nutrisi bergizi salah satunya minum susu apa pun merknya. Lebih baik juga minum susu murni yaitu susu sapi perah setelah dipanaskan. Susu merupakan salah satu asupan kaya nutrisi yang paling mudah diserap oleh tubuh. Persentase penyerapan susu oleh tubuh adalah sebesar 98-100 persen. Setiap 100 gramnya susu mengandung kecukupan protein, lemak dan kalsium yang baik untuk tubuh.
Masih menurut anjuran Ahli Gizi, susu juga mengandung vitamin serta asam amino yang penting untuk pertumbuhan tubuh. Kandungan susu penting untuk menjaga kesehatan . Begitu besar manfaat susu sampai-sampai susu dijuluki "darah putih" karena membantu kesehatan tubuh. Lalu apalagi kiat menjaga tubuh agar tetap sehat? "Rajin berolahraga", tutur dokter kesehatan olahraga yang berkantor bersebelahan dengan kantor sehat dengan kundalini reiki. Beliau memang menjadi konsultan kesehatan olahragawan, sangat menganjurkan setiap orang yang masih mampu beraktivitas mau meluangkan waktu untuk aktivitas yang satu ini.
Olahraga teratur waktunya dapat dimulai dari jenis olahraga yang ringan misalnya jalan kaki di pagi hari selama setengah hingga satu jam setiap harinya. Selain murah meriah tanpa biaya, olahraga jalan kaki akan mengakibatkan metabolisme tubuh menjadi baik di mana timbunan lemak akan dibakar tuntas. Jika telah terbiasa berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi dan menjaga kebersihan lingkungan, Insya Allah daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit akan meningkat. Dengan sendirinya kita juga akan sehat dan bugar.
Anjuran olahraga pun sebenarnya ditujukan kepada setiap orang. Khususnya Anda...sahabat sehat dengan kundalini reiki...yang sudah mempraktekkan self healing reiki, semoga keluhan yang Anda rasakan akan berkurang. Bagaimana pun kesehatan adalah modal utama dalam hidup. Dengan sehat maka aktivitas akan berjalan lancar. "Sebagai praktisi reiki pemula anjuran olahraga wajib hukumnya dan jangan ditinggalkan," saran Master Reiki Tummo dalam bukunya Kundalini.
Mari mulai sekarang kita menjaga kebugaran tubuh dengan empat langkah yaitu makan makanan bergizi, istirahat cukup, olahraga teratur dan menata pikiran jangan mudah stress. Sedangkan kiat kelima khusus sahabat sehat bersama kundalini reiki yang telah menerima attunement dari saya, rajin-rajinlah menjalankan self healing setiap hari dengan penuh ketekunan dan jangan pernah bosan melakukan kegiatan ini. Anda sudah mempunyai bekal tambahan sebagai praktisi reiki yaitu mampu self healing (menyembuhkan diri sendiri) dan memberikan healing kepada orang lain baik jarak dekat atau jarak jauh di saat musim hujan telah tiba.
Gambar : Rumahmika The Never Ending Journey



Rabu pagi kita semua tersentak dengan berita musibah jatuhnya pesawat Hercules di Magetan Jawa Timur. Sehat dengan reiki mendengar berita ini melalui radio selepas aktivitas olah raga pagi yang memberitakan pesawat jatuh di persawahan menjelang pendaratan karena gangguan mesin. Saat itu juga evakuasi korban tengah berlangsung dan gambarnya ditayangkan semua stasiun televisi serta siaran radio.
Salah satu korban adalah suami rekan sekerja sehat berkat reiki. Ibu Desi Indriani tengah berduka sebab suami tercinta telah tiada karena musibah pesawat ini. Rabu subuh Ibu Desi berangkat dari kediamannya di Limo Depok mengantar suami tercinta ke Halim Perdana Kusuma. Selepas pesawat take off Ibu Desi lalu berangkat ke kantor untuk bekerja.
Tiba di kantor aktivitas pekerjaan pagi ini sedang berlangsung. Semua bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing. Siangnya baru ada khabar duka bahwa pesawat yang dinaiki suami tercinta mengalami musibah. Segera khabar duka cita ini menyebar dan bagian Redaksi Pemberitaan mengirim Reporter ke lapangan. Ibu Desi Indriani sendiri adalah Pewawancara di Bagian Pemberitaan Televisi yang biasa mewawancarai nara sumber dari berbagai profesi dan termasuk Pewawancara baru di jajaran redaksi pemberitaan.
Siang hari sehat dengan reiki melayani tayangan berita musibah kecelakaan ini melalui interaktif siaran berita dari Studio 9 televisi dengan Studio berita Televisi Surabaya dan reporter yang berada di lokasi kejadian dan rumah sakit Madiun. Dalam tayangan video sebagai visual tergambar bagaimana evakuasi korban dan suasana tempat terjadinya musibah di persawahan desa tempat terjadinya musibah.
Dalam English News Service pun berita kecelakaan di ulang kembali dengan jumlah korban yang semakin meningkat. Semua ikut prihatin dan trenyuh dengan adanya musibah ini. Kita pun sadar bahwa musibah ini juga terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk Ibu Desi Indriani dan puterinya yang sedang berduka semoga tetap diberikan ketabahan dalam menghadapi musibah ini. Rekan-rekan sekerja ikut mendoakan semoga arwah almarhum mendapatkan tempat layak di sisi-NYA sesuai dengan amal kebajikan yang telah almarhum perbuat semasa hayatnya.
Sumber gambar: Daily mail di http://lunjap.wordpress.com/
Namun dalam kunjungan kedua kalinya saat ini yang bisa saya saksikan dari Kota Lasem adalah tetap terpeliharanya warisan budaya Etnis China dengan koleksi rumah kunonya berjajar berhadap-hadapan di seluruh pelosok kota. Masing-masing rumah kuno ini dipagari oleh tembok tinggi yang mengelilingi bangunan utama terbuat dari batu bata dengan pintu gerbang tebal dari kayu jati kuno.
Kota kecamatan Lasem terletak 12 km arah timur Ibukota Kabupaten Rembang berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara luasnya 45,04 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 44.879 orang ( Litbang Kompas, 2003 ). Di kota ini juga terdapat sentra industri batik kendatipun tidak setenar batik produksi Solo atau Jogja atau Pekalongan. Namun kehadiran Batik Lasem merupakan kebanggaan sendiri bagi penduduk kota nelayan ini.
Batik produksi Lasem bercorak khas dengan warna merah darah ayam yang konon tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain Batik Lasem ini terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara Jawa Tengah serta Budaya Keraton Solo dan Yogyakarta. Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang datang ke Lasem memberi pengaruh terhadap corak batik di daerah ini. Bahkan banyak pedagang ini yang kemudian beralih menjadi pengusaha batik di kota Lasem ini.
Menurut sejarah industri batik nusantara kehadiran batik Lasem ini sudah ada sejak berabad silam, sempat menjadi komoditi di Asia dan sempat mengharumkan kota Rembang. Awalnya batik Lasem ini menjadi batik Encim, batik yang dipakai oleh wanita keturunan Tionghoa yang berusia lanjut. Pengaruh keraton juga ikut mewarnai corak,motif dan ragam batik tulis Lasem ini. Terbukti dengan adanya motif/ornamen kawung dan parang.
Pengaruh budaya China terasa kental di sini. Sedang pengaruh masyarakat pesisir utara terlihat pada kombinasi warna cerah merah, biru,kuning dan hijau.Ketika membuat desain motif batik tulis para pengusaha batik Lasem sangat dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Misalnya terdapat corak ragam hias burung Hong dan binatang legendaris kilin atau singa.
Bahkan cerita klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tey pernah menjadi motif batik tulis Lasem ini. Oleh karena itu batik tulis Lasem ini kemudian dikenal sebagai batik Encim tadi. Batik Lasem bisa bersaing dengan batik Solo karena motifnya yang unik dan pernah diekspor ke Suriname. Namun saat Anda datang ke Lasem dan mencari batik tulis Lasem akan mengalami kesulitan bagaikan mencari barang antik saja.
Memang sentra industri batik Lasem agak lesu mengingat pengusaha batik yang masih bertahan tinggal 12 orang saja. Pada masa kejayaan batik tulis Lasem setiap rumah tinggal orang Tionghoa mengusahakan pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari daerah desa sekitar Lasem, seperti Sarang dan Pamotan. Tenaga kerja ini melakukan pekerjaan sebagai sambilan saat menunggu musim panen dan musim tanam padi di sawah.
Nah karena tenaga kerja yang direkut adalah petani desa sekitar Lasem, pada saat musim tanam dan panen padi mereka pulang ke desa. Akibatnya tenaga pembatik ini berkurang dan dengan sendirinya proses produksi batik terganggu. Anak pengusaha batik pun lebih senang bekerja sebagai pegawai kantor dan merantau keluar kota Lasem.
Menurut Sigit Wicaksono pengusaha batik tulis Lasem yang pernah diwawancarai Kompas beberapa waktu lalu mengatakan,"Teknologi sablon ikut andil mematikan Batik tulis Lasem ini. Batik sablon harganya sekitar Rp. 25.000,- per lembar jauh lebih murah dari batik tulis yang harganya ratusan ribu rupiah per lembar," katanya sambil terus bertahan menjadi pengusaha batik demi menghidupi karyawannya yang tinggal beberapa orang ini. "Kasihan kalau saya tutup pabrik ini, mereka akan bekerja di mana? ungkapnya.
Apakah batik tulis Lasem hanya akan tinggal kenangan saja mengingat generasi penerus pengusaha ini sudah tidak mau meneruskan usaha orang tuanya ini? Tentunya kita semua berharap kejayaan batik tulis Lasem akan tetap bertahan lalu bangkit menjadi besar kembali seperti jaman dulu.Entah kapan waktu yang akan menjawabnya.
Sehat dengan reiki menulis dari Lasem untuk Sekolah Internet.


Tentunya Anda sudah mengenal Pulau Kalimantan bukan? baik dalam kesempatan ini sehat dengan reiki akan ajak Anda berkunjung ke Masyarakat Sungkung Komplek Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat untuk melihat kearifan tradisional masyarakat setempat. Kali ini tim film dokumenter kembali berkunjung ke sini untuk melakukan liputan seputar Upacara Adat Tanung.
Pebruari 1996 udara pedesaan tempat dilakukannya upacara adat Tanung begitu cerah kendatipun waktu itu masih di musim penghujan. Pagi-pagi sekali kesibukan persiapan sudah dimulai baik oleh tetua adat maupun warga desa. Peserta upacara adat semuanya sudah hadir mengenakan pakaian adat dan berkumpul di suatu tempat tanah lapang.
Di sini masyarakat Sungkung Komplek masih memiliki sebuah tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.Tradisi tersebut ialah cara menentukan lokasi lahan baru untuk bercocok tanam padi. Mengingat areal penanaman padi semakin lama membutuhkan lahan baru maka diadakan upacara yang dipimpin oleh tetua adat setempat untuk menentukan lokasi pembukaan lahan persawahan.
Sudah menjadi tradisi usai panen padi, masyarakat Sub-Etnis Dayak Bidayuh yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia ini melangsungkan serangkaian upacara adat Tanung. Ketua adat dan pemuka adat setempat berkumpul di suatu tempat menyatakan pendapat agar muncul kesepakatan cara membuka lahan baru pertanian.
Yang unik dari upacara ini adalah menyatakan kesepakatan dengan cara memilih dua biji pinang muda, kemudian pinang ini dibelah dua untuk selanjutnya dibacakan mantera oleh ketua adat. Belahan pinang lalu dibuang di atas tampik ( tampah ) beralaskan kain putih. Semua peserta upacara diminta menyaksikan jatuhnya dua belah pinang ini.
Belahan pinang yang jatuh terlungkup diartikan lelaki sedangkan belahan pinang satunya lagi bila jatuh terlentang dimaknai perempuan. Kalau jarak antara keduanya sebanyak dua jari, berarti lahan yang dicari cocok untuk digarap menjadi lahan persawahan baru.
Nah pertanyaannya apabila kedua belah pinang yang dilempar jatuh terlungkup atau terlentang semuanya, belahan buah pinang itu harus diulang kembali cara melemparnya, sehingga pasangan buah pinang itu jatuh terlungkup dan satunya lagi jatuh terlentang. "Ini baru pasangan cocok dan kita siap membuka lahan baru," ujar tetua adat dalam bahasa Dayak.
Di samping upacara menentukan lahan persawahan baru, Tanung hingga kini juga dipakai masyarakat Subetnis Dayak Bidayuh di Sungkung Komplek untuk menentukan lokasi rumah tinggal dan mencari jodoh bagi pemuda pemudi warga desa itu. Nah bila hasil panen melimpah, tanaman padi polowijo tumbuh subur dan bebas serangan hama, tiba saatnya mengungkapkan kegembiraan ini dengan main gasing.
Permainan gasing hanya boleh dimainkan usai panen padi. Ungkapan kegembiraan atas keberhasilan produksi padi dengan main gasing ini oleh Masyarakat Sub-Etnis Dayak Bidayuh mempunyai makna filosofi , kendatipun panen lambat tetapi hasilnya banyak. Selain permainan gasing ungkapan kegembiraan juga diwujudkan dalam bentuk permainan alat tiup berupa suling serta perkusi berupa Sabang Taley dan Kulintang.
Dengan iringan musik inilah semua peserta upacara larut dalam kegembiraan pada siang hari yang panas di Desa Sungkung Komplek di pedalaman hutan Borneo yang masih perawan yang berbatasan antara Kalimantan Barat dengan Malasia. Tak terasa pendokumentasian upacara adat ini ke dalam seluloid film 16 mm telah menghabiskan 5 roll film 400 feet dan 3 pita magnetic 1/4 inchi.
Di desa ini sehat dengan reiki beserta kerabat kerja liputan film bisa merasakan kehangatan dan keakraban masyarakat setempat. Di sini pula kita bebas menghirup udara segar sambil menikmati indahnya alam pedesaan sambil menatap lebatnya hutan nun jauh di seberang lembah. Semua tenang...tenang dan menyatu dengan alam.



