ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label keraton. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keraton. Tampilkan semua postingan

KEBO BULE DAN GAJAH PINK.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Sabtu, 28 April 2012 1 komentar

Bagi Anda yang pernah melancong ke Solo tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama keraton Kasunanan Solo yang mempunyai binatang klangenan Raja, yaitu Kebo Bule. Binatang bertanduk melengkung ini kulitnya putih alias bule dan dikandangkan di tenggara Alun-alun Kidul dalam sebuah bangunan yang terletak di utara Pasar Gading. Keistimewaan Kebo Bule ini adalah setiap malam 1 Syuro selalu dikirab keliling Benteng Keraton bersama abdi dalem Keraton Kasunanan.

Itulah uniknya kota budaya Solo dengan Kebo Bulenya . Kebo bule ini saat ini telah beranak pinak dan sesekali dilepas di areal alun-alun kidul untuk merumput. Wong Solo dan daerah sekitarnya tentu sudah mengenal bahwa Kebo Bule itu milik Keraton Kasunanan Solo.
Kebo Bule milik Keraton Kasunanan Solo dalam perawatan pawang siap dikirab menjelang malam 1 Syuro dengan berkeliling tembok keraton, alun-alun Lor dan melintas Jalan Slamet Riyadi di perempatan Gladag.
Layaknya binatang ternak sudah tentu kebo bule juga senang dengan rumput. Selain rumput kebo bule ini saat lapar juga senang dengan pisang goreng dan singkong rebus. Pedangan pasar Gading yang letaknya tidak jauh dari kandang Kebo Bule sangat senang jika buah dagangannya seperti pisang dimakan Kebo Bule milik Kraton Solo.
Lain Solo lain pula dengan Myanmar yang juga punya binatang kerbau.  Selain kerbau Myanmar mempunyai juga Gajah. Sebagai sebuah negeri yang dipenuhi dengan Pagoda dan mayoritas warganya beragama Budha, Gajah Myanmar ternyata juga unik warna kulit tubuhnya. Bukan putih alias bule warna kulitnya akan tetapi pink alias merah muda.
Biasanya warna kulit gajah jenis berwarna cokelat kemerahan. Tetapi kulitnya berubah menjadi merah muda ketika basah. Mereka juga memiliki bulu mata dan kuku kaki.
Seperti dilansir Dailymail, Kamis ( 29/3/12 ) gajah berkulit pink ini ada di sebuah kebun binatang Myanmar. Gajah pink ini sedang dimandikan oleh pawangnya bersama bayi gajah menjadi atraksi menarik bagi wisatawan domestik dan mancanegara yang saat itu tengah berkunjung ke Myanmar. Meskipun berpenampilan tak biasa, gajah-gajah yang secara resmi dikenal sebagai gajah putih itu tetap menarik untuk ditonton karena warna kulitnya.
Gajah langka kulit warna pink masih tergolong satu jenis dengan gajah putih, yang tidak berbeda dengan gajah abu-abu. Mereka juga bukan termasuk gajah dengan gen albino. Saat tubuh anak gajah disemprot dengan selang air, warna pink cerah terlihat disekujur tubuhnya.
Gajah dipercaya oleh masyarakat Myanmar membawa keberuntungan. Bahkan, pemberitaan apa pun mengenai gajah pink bisa mengganti berita politik utama negara itu. Demikian diberitakan Daily Mail, Kamis (29/3/2012).
Gajah pink itu spesies yang sama dengan gajah abu-abu maupun albino. Masyarakat setempat percaya kelahiran gajah pink merupakan pertanda keberuntungan dan perubahan politik yang lebih baik di negeri Seribu Pagoda itu. Setidaknya Myanmar saat ini memang telah mengalami perubahan politik drastis sejak tahun lalu.

Negeri yang bertahun-tahun di bawah rezim represif militer mulai mengakhiri kekuasaan junta militernya.  Saat itu telah diakhirinya kekuasaan junta militer dengan pembebasan ikon demokrasi negeri itu, yaitu Aung San Suu Kyi .  Aung San Suu Kyi telan ikut ambil bagian pemilu parlemen bulan lalu.
Sumber : Dailymail/AP/Photo : AP/Tribunnews.com

Jangan lupa setelah baca artikel ini kunjungi yang satu ini ya ? Terima kasih sebelumnya jika mau bergabung. Salam......

Read More..

SI MERAH MARUN MAHKOTA DEWA

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Rabu, 20 Januari 2010 1 komentar

Mahkota Dewa biasanya sering kita lihat di pementasan wayang orang dimana sang pemain memerankan tokoh dewa dan dikepalanya memakai mahkota yang dihiasi dengan pernak pernik sulaman benang emas. Tatkala berakting inilah mahkota sering memancarkan cahaya keemasan karena pengaruh efek tata lampu panggung. "Mahkota Dewa begitu mencorong," begitulah kilah seorang penonton wayang orang Sriwedari Solo malam itu. Lantas kalau mahkota dewa begitu gemerlap mempesona pandangan penonton seni tradisionil wayang orang, kelebihan apa lagi dari mahkota dewa ini? Mari sehat dengan reiki mengajak Anda mengupas lebih jauh mahkota dewa sebagai buah si merah marun menggemaskan ini bukan untuk dikenakan sebagai mahkota tetapi dikonsumsi sebagai obat herbal.




Mahkota Dewa tanaman multi khasiat di samping mengkudu, sambiloto dan pegagan. Sebagai tanaman obat juga sebagai tanaman hias.

Teh mahkota dewa membebaskan penderita dari asam urat, diabetes melitus dan kolesterol.


Mahkota dewa yang satu ini bukan dikenakan oleh pemain wayang orang Sriwedari Solo sebagai aksesoris peran dewa, tetapi salah satu jenis tanaman obat yang multi khasiat di samping mengkudu (pace), sambiloto dan pegagan. Sosok mahkota dewa begitu menggoda selera bagi siapa saja yang melihatnya. Pohonnya berupa perdu dengan tajuk bercabang-cabang. Konon umurnya bisa mencapai puluhan tahun dengan masa produktivitas mencapai umur 10-20 tahun. Ada yang menyebut mahkota dewa berasal dari Papua.



Tanaman ini terkadang masih dapat kita jumpai tumbuh liar di daerah hutan pada ketinggian 10 -1.200 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan rata-rata 1.000-2.500 mm/tahun. Dari segi morfologi tanaman ini memiliki buah, batang dan daun yang cukup sempurna dan menarik sehingga bisa disebut sebagai tanaman hias. Karena bentuk buah mirip apel yang biasa kita lihat di perkebunan apel Batu Malang, warna merah marun, ukuran sebesar telur ayam kampung, berbuah lebat sekitar batang membuat tanaman ini makin digemari oleh pencinta tanaman. Di samping sebagai tanaman hias mahkota dewa juga dibudidayakan sebagai tanaman obat.




Konon karena penampilan yang mengundang selera layaknya buah yang siap dipetik dari pohonnya, mengundang minat bangsawan keraton untuk memeliharanya. Dalam salah satu literatur disebutkan bahwa Keraton Solo dan Yogyakarta sudah sejak lama memelihara tanaman ini dan menggunakan untuk keperluan pengobatan. Tanaman mahkota dewa akhirnya dimanfaatkan sebagai tanaman herbal. Berdasarkan pengalaman beberapa praktisi herbalist, mahkota dewa digunakan untuk pengobatan jantung, kanker, diabetes melitus, darah tinggi dan penyakit kulit. Berbicara tanaman herbal khususnya mahkota dewa orang akan melihat sosok Ibu Ning Harmanto. Beliau sudah mengembangkan mahkota dewa dalam bentuk instan, bedak dan obat gosok. Karena itulah beliau mendapat sebutan Ibu Mahkota Dewa.




Mahkota dewa yang digunakan untuk pengobatan tidak boleh dikonsumsi secara langsung sebelum diolah. Ini dimaksudkan untuk menghindarkan pemakainya dari efek samping yang mungkin terjadi saat buah mahkota dewa dikonsumsi. Gejala dari keracunan buah mahkota dewa antara lain bibir pecah, timbul luka di rongga mulut, mual dan muntah dan gejala keracunan lain. Untuk menghindarkan diri dari racun buah mahkota dewa maka daging dan buah mahkota dewa harus dikeringkan lebih dulu. Untuk jenis penyakit tertentu buah mahkota dewa bisa dikombinasikan dengan tanaman obat seperti sambiloto, temulawak, temu putih, pegagan, daun dewa, sambung nyawa dan jahe.



Dalam penelitian buah mahkota dewa memang beracun. Sejauh ini belum diteliti secara khusus jenis-jenis racun yang terkandung dalam mahkota dewa. Hasil penelitian Dra. Vivi Lisdawati, M.Si, Apt dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test pengujian racun mematikan terhadap udang laut menunjukkan bahwa ekstrak buah mahkota dewa memiliki toksis yang amat tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak tanaman memiliki konsentrasi mematikan 50% larva udang atau lethal concentration berkisar 0,1615 - 11,8331 mikrogram/ml. Dapat disimpulkan oleh Dra. Viva Lisdawati bahwa ekstras buah mahkota dewa pemanfaatannya sebagai obat tradisional harus dengan takaran yang sangat hati-hati.



Upaya menghindarkan diri dari racun, sebaiknya buah mahkota dewa sebelum dikonsumsi dikeringkan lebih dulu di bawah sinar matahari. Upayakan menghindari penggunaan biji, batasi penggunaan cangkang biji hanya untuk penderita sakit berat, gunakan hanya daging buah dan daun saja untuk pengobatan. Ini dimaksudkan untuk mengurangi racun yang ada pada buah mahkota dewa. Di samping efek racun tanaman obat ini pun sudah terbukti dapat memberikan dampak positip bagi proses penyembuhan berbagai jenis penyakit.




Tanaman obat bukan hanya mahkota dewa saja. Masih ada jenis tanaman obat yang selain terbukti turun temurun efektif untuk pengobatan, juga telah diteliti secara seksama baik kandungan kimia, effek farmalogi, toksisitas, uji praklinis hingga uji klinis. Banyak tanaman obat dibuat menjadi produksi farmasi obat tradisional dan sekarang ini beredar di pasaran. Obat herbal tadi sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) Departemen Kesehatan. Karena sudah teruji aman dan terdaftar maka tentu saja aman untuk direkomendasikan dan dikonsumsi oleh pasien penderita penyakit tertentu.



Nah sahabat sehat dengan reiki...sudahkah untuk hari ini saja Anda semua menjaga kesehatan dengan baik? Saat di musim hujan yang sudah sering turun di berbagai daerah di Indonesia ini, ada baiknya kita menjaga diri dengan perilaku bersih. Jika tanaman hias klangenan Anda si mahkota dewa sudah rimbun batang dan daunnya sebaiknya dipangkas agar pertumbuhan buah kembali lebat. Si buah ranum merah marun mahkota dewa memang menggoda selera untuk dimakan...tapi tunggu dulu...buah ini bukan buah apel yang manis...tapi buah pahit dan beracun.



Sumber : Mahkota Dewa Ir. W.P Winarto dan Tim Karyasari.

Read More..

ULANG TAHUN KOTA JOGJAKARTA

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Jumat, 16 Oktober 2009 1 komentar










Sahabat sehat dengan reiki pasti pernah mendengar lagu Jogjakarta yang dinyanyikan Kla Proyect bukan? Berikut petikan lirik lagu tersebut yang cukup populer di era tahun 1993:

Yogyakarta
Artist: Kla Project
Album: Dekade

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan, langkahku terhenti
Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri, di tengah deru kotamu

(Walau kini kau t'lah tiada tak kembali) Oh...
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi)
(Izinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi)
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Oh... Tak terobati

Musisi jalanan mulai beraksi, oh...
Merintih sendiri, di tengah deru, hey...

Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi (untuk s'lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, oh...

(Walau kini kau t'lah tiada tak kembali) Tak kembali...
(Namun kotamu hadirkan senyummu abadi) Namun kotamu hadirkan senyummu yang, yang abadi
(Izinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi) Izinkanlah untuk s'lalu, selalu pulang lagi
(Bila hati mulai sepi tanpa terobati) Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Walau kini engkau telah tiada (tak kembali) tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu (abadi)
Senyummu abadi, abadi...

Nah sambil bersenandung menirukan penggalan lirik lagu di atas mari sehat bersama reiki ajak kembali Anda untuk kembali melangkah ke kota ini. Ada apa sih dengan Jogjakarta? Sedemikian pentingkah arti Jogja bagi sebagian warganya yang mayoritas bersuku Jawa, bahkan kini suku-suku lain pun hadir di Jogja sebagai warga pendatang? Betul sekali kawan...Jogjakarta, kota yang memiliki banyak daya tarik ternyata memiliki julukan sebagai kota budaya, pendidikan dan pariwisata. Bahkan makanan khas Jogja...Gudeg pun telah menyatu menjadi gelar predikat bagi kota Jogjakarta.


Sebagai kota yang pernah mengalami gempa bumi beberapa waktu lalu ternyata tanggal 7 Oktober tahun ini, kota Jogja telah berusia 253 tahun. Bukan main usia kota ini...sudah sepuh begitu kata orang tentang usia kota ini. Tentunya Anda sudah tahu atau mengenal kota Jogja lewat pelajaran ilmu bumi dan sejarah, namun mari sehat bersama reiki ajak Anda kembali ke kota ini dan menelusuri jejak sejarah dalam segmen asli Indonesia berikut ini.


Jogja saat ini tengah musim kemarau. Begitu panas di siang hari namun tetap hangat keramahan warganya menyapa tamu yang tengah berkunjung ke kota ini. Oktober tahun 2009 kota Jogjakarta berusia 253 tahun. Satu kurun waktu yang sangat panjang untuk membuka kembali ingatan sejarah tentang lahirnya kota Jogjakarta. Begitu banyak kisah sejarah yang pernah dituturkan menyangkut kota Jogjakarta.


Adanya kota Jogjakarta tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Kasultanan Jogjakarta yang secara de yure telah ada sejak tahun 1755. Peristiwa sejarah waktu itu menjadi awal dari lahirnya sejarah kota Jogjakarta. Peristiwa itu adalah Perjanjian Gianti. Meski saat itu Kasultanan Jogjakarta telah eksis, tetapi Jogjakarta sebagai kota pemukiman belum terbentuk.


Baru saat keluarga Sri Sultan Hamengkubuwono I pindah dari pesanggrahannya di Ambarketawang menuju istana barunya di Kraton Ngayogjakarta Hadiningrat di bulan Oktober tahun 1756, maka peristiwa perpindahan ini dijadikan penanda lahirnya kota Jogjakarta. Sejak tahun 2004 Pemerintah kota telah menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai hari ulang tahun kota Jogjakarta berdasarkan perda kota Jogjakarta Nomor 6 tahun 2004.


Kembali ke Pesanggrahan Ambarketawang yang kini dijadikan situs cagar budaya, Keluarga Sultan Hamengkubuwono I menempati daerah ini selama 1 tahun sambil menunggu selesainya pembangunan keraton Ngayogjakarta. Situs Ambarketawang saat ini hanya menyisakan sebentang kecil tembok tua. Tak ada tersisa bangunan bersejarah lainnya di tempat ini. Desa Ambarketawang sebagai lokasi situs berada di Desa Ambarketawang Kecamatan Gamping Sleman. Konon sisa bentang tembok tua itu adalah tembok rumah Demang yang dahulu bertugas memelihara pesanggrahan ini.


Selain sebentang tembok, situs pesanggrahan ini juga menyisakan bukti sejarah lain berupa sisa Gunung Gamping. Tak bisa dibayangkan seberapa besar Gunung Gamping waktu itu. Yang pasti hanya sebentuk kecil sisa gunung kapur yang tersisa dan bisa dilihat saat ini. Peristiwa perpindahan keluarga Sultan Hamengkubuwono I dan keluarganya ke Keraton Ngayogjakarta Hadiningrat selain menjadi momentum sejarah, juga membawa roh kelahiran secara fisik dan sosiologis terjadinya Kasultanan Ngajogjakarta hingga sekarang ini.


Yang jelas kota Jogjakarta pelan tapi pasti terus berkembang berubah menjadi satu kawasan kota budaya, pendidikan dan pariwisata. Bahkan dalam sejarah lahirnya pertelevisian di Indonesia, Jogjakarta telah memiliki studio penyiaran televisi kedua setelah Jakarta tahun 1964. Menyusul Perguruan Tinggi Negeri dengan Universitas Gajahmada telah menelorkan ribuan Sarjana dari berbagai disiplin ilmu, juga Perguruan Tinggi Swasta turut meramaikan aktivitas belajar mengajar. Jogjakarta akhirnya mendapat julukan baru sebagai Kota Pelajar.


Dalam peringatan hari ulang tahun ke 253 kota Jogjakarta kemaren, pemerintah kota Jogjakarta menggelar serangkaian kegiatan budaya. Ini menandakan seolah Jogjakarta memang akrab dengan kebudayaan yang sarat akan peninggalan sejarah. Rangkaian perayaan diawali dengan pawai defile melibatkan sekitar 1500 peserta dari 27 kelompok komunitas masyarakat yang ada di Jogjakarta. Pawai bergerak dari halaman balaikota menyusuri jalan sepanjang 2 kilometer menuju alun-alun utara dan dilepas Wakil Walikota Haryadi Suyuti.


Pawai defile digarap dengan apik dan rapi oleh seniman kondang Jogjakarta Didik Nini Towok yang menggambarkan satu repertoar tentang masyarkat kota Jogjakarta. Penampilan para seniman ini menarik perhatian penonton yang berjejal memadati sepanjang jalan. Seniman lain yang juga turut meramaikan pawai ini adalah Kelompok Prajurit Kraton, Keluarga Kraton, Seni Keparak dan para seniman Tari asuhan Didik Nini Towok.


Turut bergabung pula unsur kelompok masyarakat seperti pelajar, atlet, komunitas pinggir kali, penarik becak dan juru parkir. Bergabungnya unsur kelompok masyarakat inilah yang hendak ditonjolkan dalam pawai bertajuk gambaran satu kesatuan masyarakat Jogjakarta yang utuh. Pawai ditutup dengan prosesi 45 tumpeng yang menjadi tanda adanya 45 kelurahan yang ada di dalam kota Jogja.


Puncak kegiatan hari ulang tahun akan diselenggarakan hari Sabtu besok dengan menggelar Jogja Java Carnival yang dikemas dalam bentuk parade tarian berjalan dan arak-arakan kendaraan hias. Juga akan bergabung sejumlah kelompok seniman propinsi lain dan peserta luar negeri. Jogja carnival yang merupakan kali kedua digelar tahun ini akan melewati rute sepanjang Jalan Malioboro dan berakhir di alun-alun utara.


Kawasan Malioboro dengan Tugu yang menjadi ikon kota di ujung utara Jalan Mangkubumi dan Keraton di ujung selatannya setiap hari menjadi tujuan para pelancong yang datang ke kota ini. Aktivitas sehari-hari di Jalan Malioboro cukup menggambarkan bagaimana Jogjakarta menggeliat menjadi kota pariwisata. Turis asing dari berbagai belahan dunia berjalan kaki cukup santai, bahkan ada yang naik becak atau dokar membaur dengan warga masyarakat. Tentu saja pertumbuhan kota Jogjakarta dengan segala dinamikanya menimbulkan kebanggaan tersendiri bagi penduduknya. Selamat berulang tahun Jogjakarta...semoga aku akan kembali lagi ke sini.










Read More..

KAMPUNG BATIK KAUMAN SOLO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 30 Agustus 2009 2 komentar


Mumpung masih ada di kota kelahiran Solo minggu ketiga Juli 09 lalu, sehat dengan reiki juga hadir di Kampung Kauman yang terletak bersebelahan dengan Masjid Agung Solo dekat Pasar Klewer. Nah setelah ada Kampung Batik Laweyan di Solo juga ada Kampung Batik Kauman yang tak kalah menarik dalam hal produksi kain batik. Monggo pun lajengaken postingan bab Kota Solo?

Kampung Batik Kauman yang menyandang Kampung Wisata Batik berada di kelurahan Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Letak kelurahan ini mendiami areal tanah seluas 20.10 hektare. Menurut data yang diperoleh dari Kelurahan Kauman, hingga bulan Juni 2009 terdapat 735 kepala keluarga dengan total warga 7.461 jiwa.

Ingatan sehat bersama reiki kembali mundur ke tahun 1966 di mana banjir besar sedang melanda Solo yang juga merendam 2/3 bagian kota termasuk di dalamnya Kampung Kauman yang ikut terendam air banjir akibat meluapnya Bengawan Solo. Saat itu penduduk kota Solo yang kebanjiran sebagian mengungsi ke Balai Kampung Laweyan. Kampung Kauman sendiri terendam air banjir hingga 5 hari.

Lahirnya Kampung Kauman ada setelah Pemerintahan Keraton Kartusuro berpindah ke Desa Solo yang kemudian berubah nama menjadi Kasunanan. Kauman menurut namanya jelas merupakan tempat para kaum ulama tinggal di mana lapisan masyarakat di dalamnya terdiri atas penghulu tafsir anom, ketip, modin serta suronoto. Karena adanya kaum yang menjadi penduduk mayoritas wilayah ini maka daerah ini disebut Kauman.

Kauman akhirnya menjadi kampung batik setelah banyak show room yang menjajakan batik di wilayah ini. Karena tidak semua show room menjual batik produksi sendiri maka ada inisiatip sebagian warga membuat batik. Batik yang diproduksi masyarakat Kauman pada awalnya merupakan batik-batik pesanan para abdi Dalem Kasunanan.

Awalnya motif batik yang dihasilkan merupakan motif khas keraton. Seiring dengan berkembangnya pasar, motif yang dihasilkan juga bervariatif, bahkan berani menggunakan warna sebagai variasi. Dalam perkembangannya seni batik yang ada di Kauman dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu batik tulis, cap dan kombinasi batik cap dan batik tulis.

Produksi batik Kauman menggunakan bahan sutra alam dan sutra tenun, katun jenis primisima dan prima serta rayon. Menurut Gunawan Setiawan, Ketua Paguyuban Kampung Batik Kauman bersama rekan-rekannya di Paguyuban ini berinisiatif mengubah nama wilayah Kauman menjadi Kampung Batik Wisata Batik Kauman.

Pertimbangan perubahan status nama kampung ini dikarenakan wilayah Kauman tidak saja kampung yang menampilkan batik saja. Tengok saja wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Pasar Klewer juga menyempatkan diri berbelanja batik di kampung ini. Selain berbelanja mereka juga menikmati jejak bangunan bersejarah seperti musium batik dan rumah kuno khas Jawa bergaya Eropa. Sebuah perpaduan unik antara wisata budaya dan sejarah.

Wisata religi disamping mengunjungi Mesjid Agung Solo, Pasar Klewer dan Keraton Kasunanan Solo tidak lengkap bila tidak melangkahkan kaki di Kauman. Bila nanti Pemda Solo jadi menjalankan kereta api wisata dengan Lokomotif Uap melintas Jalan Slamet Riyadi mulai dari Stasiun Purwosari menuju Stasiun Sangkrah, tak ada salahnya Anda...sahabat sehat bersama reiki juga mencoba kereta uap ini dan minta diturunkan di Perempatan Gladag. Dari perempatan Gladag ini Anda tinggal melangkahkan kaki melewati Gapuro Gladag dan sampailah di Kauman.

Di era tahun 1960 kereta api uap masih melintas di tengah kota Solo. Sejak Musium kereta api Ambarawa dibuka lokomotif uap mulai dipensiunkan. Menurut rencana wisata dengan kereta uap dari stasiun Purwosari menuju Sangkrah akan dihidupkan kembali. Saat ini perbaikan bantalan rel kereta api sedang dikerjakan dan diharapkan kereta uap kembali lewat di tengah kota. Di tahun itu saya sering naik kereta uap ini, kini giliran Anda semua nantinya juga bisa menikmati kereta uap yang sama.

Gambar atas tengah salah satu sudut Kampung Batik Kauman Solo.

Read More..

PASAR GEDE SOLO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Sabtu, 29 Agustus 2009 1 komentar

Sangat malu jika kita mengaku orang Solo tetapi tidak tahu apa itu arti Pasar Gede. Barangkali sahabat sehat dengan reiki yang belum pernah ke Solo tidak tahu apa arti judul postingan kali ini. Baiklah agar sahabat semua tidak penasaran akan sehat berkat reiki jelaskan arti Pasar Gede itu.

Orang Solo mengenal Pasar Gede sebagai Pasar Hardjanagara sebagai pasar tradisional terbesar di Solo setelah Pasar Klewer. Secara harfiah Pasar Gede dapat diartikan sebagai Pasar Besar. Dalam buku Sri Susuhunan Paku Buwono X, Perjuangan, Jasa dan Pengabdiannya untuk Nusa dan Bangsa, beliau sendirilah yang memberi nama Pasar Gede Hardjanagara. Pemberian nama itu karena bangunan pasar menggunakan atap yang besar.

Mulanya Pasar Gede hanyalah sebuah pasar kecil yang berdiri di atas lahan seluas 10.421 meter persegi. Tahun 1927 atas perintah Sunan Paku Buwono X Pasar Gede direnovasi oleh Ir. Thomas Karsten dan selesai tahun 1930. Bentuk fisik bangunan pasar berlantai dua dengan pintu gerbang menghadap ke barat menyerupai singgasana.

Bila sahabat dengan reiki nanti berlebaran ke Solo sangat mudah mencapai lokasi pasar ini. Pasar Gede sendiri sangat strategis letaknya. Berada di seberang timur Gedung Balai Kota Surakarta di dekatnya mengalir Kali Pepe yang membelah kota Solo, membuat Pasar Gede terlihat dari Gedung Balai Kota. Lokasi ini terletak diperkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong.

Lokasi Pasar Gede berada di Kelurahan Sudiroprajan berada di Jalan Sudirman dan Jalan Pasar Gede, bila dilihat dari tata geografisnya, Pasar Gede masuk dalam kawasan segitiga emas kota Solo. Bila di Jakarta ada segitiga emas Kuningan, letak Pasar Gede Solo pun berada di segitiga emas yang meliputi Keraton Kasunanan, Keraton Mangkunegaran dan Pasar Gede sendiri.

Pasar Gede termasuk cagar budaya kota Solo berdasarkan SK Walikota No. 646 tahun 1997 tentang perlindungan cagar budaya di kota Solo. Dengan potensi lahan seluas 8.560 meter persegi yang terdiri dari 127 ruko, 133 kios, 633 los pasar dan sekitar 250 lapak pedagang, potensi pasar tersebut sangat cukup dikenal oleh orang luar Solo. Bahkan turis domestik dan asing pun dalam kesempatan berkunjung ke Solo biasa mampir berbelanja ke pasar ini.

Selain dekatnya Pasar Gede dengan Pecinan di Kelurahan Sudiroprajan juga mempengaruhi jenis dagangan yang dijual. Tengok saja jenis dagangan buah-buahan, juga sembako bahkan jajanan khas Solo seperti Krasikan, Kue Wajik, Intip, Kue Mangkok dan rempah-rempah bahan racikan jamu tradisionil pun dijajakan di Pasar Gede. Beberapa makanan khas bisa dibeli di sini diantaranya Lenjongan, Dawet Bu Dermi hingga Kare Bu Harini. Jelas harga jajanan pasar ini sangat murah untuk ukuran kota Solo.

Saat sehat bersama reiki berkendara sepeda motor menuju Matesih Karanganyar melihat banyak pedagang menjajakan buah semangka, jeruk, durian di mana buah ini didatangkan dari daerah Matesih Karanganyar. Biasanya pedagang ini menggelar dagangannya di depan pintu masuk pasar dan sebagian juga berdagang di dalam los pasar. Di antara penuh sesaknya parkir becak, sepeda motor, sepeda ontel dan mobil yang memenuhi areal luar pasar, membuat lalu lintas sedikit padat di jam sibuk kerja.

Pasar Gede dilihat dari bundaran depan Balai Kota Solo.
Pasar Gede dilihat dari bundaran depan Balai Kota Solo.

Keunikan lain di dalam pasar ini adalah hukum sliding price atau harga lunak dalam tawar menawar antara pembeli dan penjual. Perilaku tawar menawar masih terjaga dengan baik di sini. Umumnya pedagang menggunakan bahasa Jawa kromo inggil ketika menyapa pembeli. Karena itu keakraban antara penjual dan pembeli yang menjadi pelanggan tetap sangat terjaga dengan baik.

Di jaman pasar modern dengan hadirnya supermarket dan hypermarket yang menjamur di Solo, Anda...sahabat sehat ala reiki pun masih akan menemukan suasana guyub manakala melakukan transaksi pembelian di pasar tradisionil ini. Mbok-mbok pedagang akan menyapa Anda semua dengan santun, "Bade ngersakaken punopo Mbak-Mas, monggo pun cobi semongko, manis sanget kok raosipun?" begitu sapaannya.

Nah sebentar lagi lebaran akan tiba. Tidak ada salahnya Anda warga Solo yang tinggal di Jakarta dan kota lain hendak pulang kampung ada baiknya bernostalgia di Pasar Gede ini. Siapa tahu kenangan masa kecil dalam benak Anda akan terputar kembali manakala masuk ke dalam Pasar Gede. Hirup aroma kenangan masa kecil Anda dan rasakan sensasinya. Boleh jadi suasana itu akan masih tetap ada kendatipun usia kita telah merangkak naik dan kita merantau keluar Solo sudah berpuluh tahun.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.