

Manusia sebagai makhluk sosial dalam hidup keseharian tentu dituntut berinteraksi dengan manusia lainnya baik itu dalam organisasi pekerjaan,kegiatan sosial ataupun jenis pekerjaan lain yang membutuhkan mobilitas tinggi dalam kegiatan ini. Tentu saja manusia yang bergerak ini maka fisik dan pikirannya akan terus sibuk bekerja pula seiring dengan tuntutan pekerjaan yang ditekuninya. Nah apakah Anda termasuk dalam katagori manusia dengan predikat pekerja ulet sehingga untuk istirahat pun dilupakan?
Dalam organisasi perkantoran tempat sehat dengan reiki bekerja telah diatur jam istirahat kerja dimana didalamnya tercakup jam istirahat misalnya untuk makan siang dan kegiatan ibadah. Selanjutnya istirahat ini pun telah menjadi aturan bagi setiap pekerja dimana ia dapat memanfaatkan waktu istirahat kerja untuk tujuan mengistirahatkan fisik dan pikiran dari beban kerja yang menumpuk. Dengan istirahat kerja maka ia dapat mengendorkan pikiran dari kegiatan berpikir dan kegiatan fisik.
Bagi pekerja ia dapat menemukan dua bentuk istirahat yang bisa ia lakukan. Pertama, istirahat dalam keadaan sadar yakni menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan dan menggantinya dengan rehat sejenak untuk makan siang dan kebutuhan ibadah. Dengan menghentikan pekerjaan yang tengah dilakukan baik pekerjaan pikiran atau pekerjaan fisik, maka ia akan mampu mengumpulkan semua tenaganya kembali dan siap bekerja dengan semangat baru.
Kedua, istirahat dengan tidur di malam hari yakni menghentikan sistem syaraf dan otot dari aktivitasnya, memutuskan daya indrawi dari dunia luar dan selanjutnya menghentikan aktivitas fisik sehingga ia mendapatkan porsi istirahat yang dibutuhkan. Istirahat pertama dan kedua tadi menurut Muhammad Izzuddin Taufik dalam buku Psikologi Islam terbitan Gema Insani 2006 halaman 664 menitikberatkan kepada tidur sebagai motif naluriah yang dibutuhkan setiap mahkluk hidup seperti manusia, binatang dan tumbuhan.
Bagi manusia sendiri terkadang kemampuan berpikir pun terkadang mengalami kekacauan atau gangguan dan gerakan fisik pun menjadi tidak terkendali bila ia tidak mendapat istirahat cukup di malam hari minimal 5 jam dalam tidurnya. Dalam Islam dibahas adab yang terkait dengan masalah tidur agar selaras dengan fitrah manusia. Misalnya anjuran untuk tidur di awal malam, bangun pun di awal pagi, bersuci sebelum tidur, berbaring menghadap kiblat ( arah kanan ) dan tak lupa berdoa atau berzikir sebagai pengantar tidur.
Bila adab tidur dilakukan tepat waktu boleh jadi akan mengantar pelakunya mendapatkan kesehatan fisik dan mental sebagaimana Firman Allh SWT yang berbunyi, "Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat." ( Quran Surat An Naba:9)
Nah dalam bulan puasa tidur orang berpuasa adalah ibadah sudahkah Anda mengatur waktu tidur dengan sebaik-baiknya sehingga bangun pagi tepat saat makan saur badan tetap sehat dan bugar?
Agaknya siapa pun yang pernah datang ke Jakarta pasti mengenal Jalan Sabang. Pusat pertokoan dengan tempat parkir padat pada jam sibuk selalu membuat jalan ini macet setiap harinya. Apalagi begitu banyaknya para pedagang kuliner yang sehat dengan reiki pantau seminggu lalu sungguh membuat kendaraan yang kami naiki terpaksa berbelok arah di belakang Gedung Sarinah arah jalan Thamrin. Saat itu waktu menunjukkan pukul 11.30 wib saat tiba makan siang bagi karyawan yang bekerja di perkantoran sekitar Balaikota dan Jalan Thamrin.
Memang jalan Sabang Menteng Jakarta Pusat sudah menjadi tempat pedagang kuliner yang membuka usaha di sini selama bertahun-tahun. Kawasan ini dekat sekali dengan gedung-gedung perkantoran dimana hampir semua karyawan memanfaatkan jam istirahat bekerja untuk makan siang di sini. Kini sebagai alternatif baru bagi pedagang kuliner jalan Sabang telah disediakan tempat berdagang baru di Kampung Lima Menteng Jakarta Pusat.
Persiapan Kampung Lima sebagai lokasi baru ditempatkannya pedagang kuliner jalan Sabang telah memasuki tahap akhir. Lokasi baru ini diharapkan dapat menjadi pusat kuliner yang bersih dan nyaman di Jakarta. Siang itu suasana di kampung Lima Menteng Jakarta sangat sibuk oleh pekerja bangunan yang membuat los bangunan usaha.
Para pekerja tengah mempersiapkan lokasi baru para pedagang makanan jalan Sabang. Jalan sepanjang 168 meter yang terletak diantara gedung-gedung perkantoran ini tengah disulap menjadi sebuah pusat kuliner yang nantinya menyediakan beraneka jajanan makanan.Di sini terdapat 80 kios atau footstore dimana masing-masing footstore dipakai oleh dua pedagang secara bergantian, yakni shift pertama dari jam 6 pagi hingga jam 6 sore dan shift kedua dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi esok harinya.
Total pedagang yang ditampung adalah sekitar 160 pedagang.Oleh pengelola sarana dan prasarana Kampung Lima saat ini lokasi yang dipersiapkan memasuki tahap finishing. Pihak pengelola telah meninggikan badan jalan agar lokasi baru ini tidak tergenang banjir. Selain itu juga membuat drainase serta saluran pembuangan agar tetap bersih dan sampah tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.
Untuk mengatasi masalah perpakiran Kampung Lima bekerjasama dengan instansi terkait dalam bidang perpakiran DKI Jakarta. Di sini terdapat lokasi parkir yang cukup luas di dekat lokasi baru tersebut selain di Jalan Sabang sendiri.Berbagai fasilitas mulai air bersih,penerangan, kursi dan meja telah disiapkan begitu rapi.
Mengenai besarnya biaya retribusi tiap kios ditetapkan sepenuhnya oleh Sudin Kumkm Pemkot Jakarta Pusat yang mencakup keamanan, listrik dan air bersih.Kisaran tak akan jauh dari retribusi sebelumnya yakni antara 15 hingga 20 rupiah. Pedagang tidak akan dikenakan biaya sewa. Selaku pengelola pihaknya hanya mempersiapkan lokasi,menyelenggarakan kegiatan serta merawat Kampung Lima dari sponsor yang masuk.
Keberadaan Kampung Lima diharapkan menjadi pusat kuliner baru sekitar Jalan Thamrin dan Kebun Sirih Menteng Jakarta Pusat. Anda yang sering menikmati kuliner Jalan Sabang tak ada salahnya mencicipi aneka masakan dan minuman di Kampung Lima ini.
Foto: eric/beritajakarta.com
