

Panggil saya Yu Djum saja. Satu setengah bulan lalu sehat dengan kundalini reiki berjumpa kembali dengannya di ujung jalan Sidoluhur Laweyan Solo. Saat itu hari masih pagi sekitar jam 05.00 namun Yu Djum sudah sibuk menata diri dengan menggelar dagangan nasi liwetnya. Nasi liwet atau wong Solo menyebutnya sego liwet merupakan kuliner khas Solo yang sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Dengan mengambil lokasi berdagang di ujung jalan Sidoluhur Laweyan Solo, seperti biasa dia menata dagangannya di atas meja kecil yang dialasi serbet putih tempat dia menaruh baskom berisi nasi liwet. Di dekatnya ada panci blurik berisi sayur labu yang diiris-iris kecil berkubang jadi satu dengan kuah sayur labu warna orange muda. Yu Djum memang sudah lama berjualan sego liwet di ujung jalan Sidoluhur Laweyan Solo, menggantikan penjual sego liwet ideran yang sekarang sudah pensiun dari berjualan keliling yang dulu sering berjualan di kampung batik Laweyan
Lokasi berdagang Yu Djum ada di kawasan Kampung Batik Laweyan Solo tepatnya di Kampung Jagalan Laweyan. Dia berdagang di emperan toko milik mantan pengusaha tenun yang di kampung Jagalan Laweyan disebut dengan Bu Priyo Pedan. Ya...memang dari Desa Pedan Klaten inilah Bu Priyo berasal karena itulah warga menyebutnya dengan sebutan Bu Priyo Pedan. Ketika ditanya sudah berapa lama Yu Djum berdagang sego liwet, dia menjawab singkat sudah cukup lama.
Seperti pagi itu ketika dijumpai di tempat usahanya, Yu Djum sudah siap melayani pembeli sego liwetnya. Rata-rata pembelinya berasal dari kampung Jagalan dan Klaseman bahkan Lorpasar Laweyan. Ketika ditanya apa keistimewaan sego liwetnya, Yu Djum menjawab bahwa cita rasa yang dimiliki nasi liwet Solo ada pada kumutnya yang membungkus suwiran ayam muda yang dipadu dengan kuah sayur labu. Nasi liwet atau orang Solo menyebutnya dengan istilah sego liwet dalam proses pembuatannya memerlukan kesabaran saat menanak nasi yang dicampur dengan santan.
Saat menjelaskan urutan menanak nasi liwet, proses pembuatan nasi liwet dimulai dengan menanak beras yang sudah dicuci bersih lebih dulu, lalu airnya ditiriskan. Beras cucian bersih lalu dicampur dengan santan dan kaldu ayam sebagai pengganti air. Campuran beras yang dilumuri santan dan kaldu ayam lalu dikukus sampai matang. Makanya tidak mengherankan ketika nasi sudah masak rasanya sangat gurih dan lezat. Penyajian sego liwet Yu Djum pun sangat sederhana. Dia membungkus sego liwetnya dengan daun pisang.
Sebagai peneman sego liwet kuah sayur labu cukup dimasukkan ke dalam plastik jika pembeli ingin membawanya pulang. Jika ingin dimakan di tempat, pincuk dari daun pisang sudah disiapkan Yu Djum untuk dipakai membungkus sego liwet. Pincuk adalah lembaran daun pisang yang ditekuk di bagian ujungnya lalu ditusuk pakai lidi sehingga membentuk ujung mengerucut. Pincuk inilah piring tradisional habis pakai sebagai pengganti piring sungguhan.
Untuk mendapatkan cita rasa khas sego liwet Solo, peralatan masak pun saat ini cukup istimewa. Agar cita rasa dan aroma sego liwet yang tiada duanya, nasi liwet harus dimasak dengan ketel sebagai penanak nasi untuk menghasilkan rasa aroma khas sego liwet. Sekalipun ada peralatan masak dengan kompor gas, memasak sego liwet dengan kayu bakar atau arang bakar akan sangat jauh istimewa menghasilkan rasa gurih yang khas yang tidak akan ditemui jika menggunakan peralatan masak modern seperti kompor gas.
Nasi liwet atau sego liwet seingkali disajikan dengan menggunakan daun pisang yang ditekuk berbentuk segitiga, sebagai pengganti piring agar dengan menggunakan daun pisang ini, aroma khas sego liwet akan tercium. Di Solo memang banyak penjual nasi liwet yang berjualan di emperan toko bahkan ada yang dijajakan berkeliling kampung menggunakan sepeda atau berjalan kaki yang dilakukan oleh Mbok-mbok penjual sego liwet.
Saat ini harga rata-rata sego liwet cukup murah meriah bagi penggemarnya. Untuk lauk sederhana misalnya dengan irisan suwiran daging ayam plus sayur labu, harga cipatok Rp. 4000,- Jika menggunakan menu tambahan seperti dada mentok atau telur bebek atau telur ayam kampung, tentu harga sedikit mahal tergantung dari jenis lauk yang dipesan. Yu Djum sendiri tidak mematok harga mahal karena tau bahwa konsumennya berasal dari kalangan buruh batik Laweyan yang penghasilan perharinya saja sekitar Rp. 20.000,- dari usaha memburuh batik.
Dengan berjualan sego liwet inilah Yu Djum menghidupi keluarganya. Dan dengan sego liwet inilah pendatang baru yang sekarang bermukim di Solo untuk sekolah, kuliah dan bekerja akan mengetahui bahwa di Solo ada nasi yang sangat gurih mengandung santan kental putih di mana wong Solo menyebutnya dengan sego liwet sebagai salah satu andalan khas makanan wong Solo. Melalui sego liwetlah pesona kota Solo sebagai kota tujuan wisata tidak akan lengkap jika setiap wisatawan yang berkunjung belum menikmati sego liwet. Ya sego liwet dapat dinikmati oleh semua kalangan baik yang berasal sari Solo sendiri atau pun pendatang baru yang bermukin di Solo.
Read More..Postingan kemaren sehat bersama waskita reiki menyinggung Sayur Sop Bu Wartini dengan menu utama pesanan saya yaitu sop jamur tiram yang sungguh aduhai rasanya selepas olahraga jalan kaki pagi. Racikan sayur sop yang biasa dibuat di rumah umumnya memakai kubis, kacang panjang, wortel, irisan kentang, daging ayam atau sapi, daun selada plus taburan bawang goreng coklat. Tapi menu sayur sop jamur tiram Bu Wartini tadi dibuat dengan cara merebus di atas panggang api dari arang hitam.
Bagi Anda.....sahabat sehat bersama waskita reiki tentu sudah akrab dengan istilah merebus ketika sedang bekerja di dapur. Perlu diketahui bahwa merebus adalah teknik memasak yang lebih menguntungkan dibandingkan menggoreng, membakar atau memanggang. Hal ini disebabkan energi panas bukan dari kundalini tetapi dari panas bara api arang kayu bakar atau api biru gas dapat lebih meresap ke bahan makanan sehingga dapat melepaskan racun atau zat yang menjadi parasit pada makanan agar makanan aman dikonsumsi.
Dengan teknik merebus ini manusia purba menyadari bahwa beragam hewan dan tanaman lebih banyak bisa dikonsumsi sampai habis. Lihat saja tulang hewan misalnya belum tentu bisa dimakan jika hanya dibakar. Nah...merebus makanan ternyata juga dapat menciptakan sensasi rasa baru. Butiran sereal misalnya, jika direbus akan mengeluarkan butiran kanji sehingga menciptakan efek mengentalkan seperti saat Anda membuat jenang grendul. Memanaskan beberapa jenis makanan sekaligus juga akan menyebabkan masing-masing bahan kehilangan kandungannya dan pada saat yang sama sari makanan akan bercampur sehingga menciptakan rasa baru yang unik dikecap lidah.
Berdasarkan data sebuah buku kuno, orang primitif telah mengkonsumsi sup dan sejenis bubur. Pada jaman Neolitikum sup telah dikonsumsi di daerah Mediterania. Setelah Kekaisaran Romawi runtuh, sup bertahan di Kekaisaran Bizantium yang berpusat di Konstantinopel. Berkat runtuhnya Kekaisaran Ottoman di Turki pada tahun 1454, tradisi menyantap sup di Asia Tengah ditularkan kepada masyarakat Eropa. Tak seperti di Eropa Barat, orang Turki tidak membatasi mengonsumsi sup pada momen khusus atau saat menyantap hidangan tertentu saja.
Air rebusan kemudian berkembang menjadi air kaldu. Berhubung orang di zaman itu mulai terbiasa merebus daging yang disajikan di mangkuk besar dan disantap beramai-ramai dengan menghirup langsung dari mangkuk. Sementaa kelas menengah di Eropa cukup hanya menghirup air kaldu, kalangan bangsawan Eropa telah menambahkan daging atau sayuran ke dalam air kaldu. Sebelum sendok ditemukan, isi daging dan sayuran diambil langsung dengan tangan dari mangkuk dan lama kelamaan menggunakan pisau untuk mengambilnya.
- Di Nikita Palace Hotel, salah satu Hotel Berbintang satu terbaik di Bukittinggi, Jamur Tiram ini diolah menjadi beberapa Makanan dan Minuman. Dengan olahan dari para koki yang sangat berpengalaman, seperti Es Buah Jamur, Roullet Jamur, Jamur Soup, Fried Jamur With Chicken dan Ice Cream Jamur . Jika anda sayang dengan kesehatan tubuh anda, lupakan mengkonsumsi makanan cepat saji, mari beralih lah ke makanan sehat, unik dan penuh cita rasa ini. Sibukkan diri anda bersama keluarga di dapur kecil anda. Merupakan suatu pengalaman tersendiri dengan mengkonsumsi tumbuhan unik ini karena beribu gizi yang bermanfaat untuk kesehatan dan menjaga stamina. Tapi sebelum menyantap makanan ini alirkan lebih dulu energi Reiki ke dalam makanan.
Baru pada abad ke-14 sendok ditemukan sebagai media untuk mengambil kuah dan ampas sup sehingga sup tidak tumpah mengotori baju, mengingat saat itu model baju Eropa berupa atasan dengan kerah renda besar dan mengembang kaku. Bentuk awal sendok yang tidak nyaman dipakai sehingga tetap mengotori baju pun kemudian berubah dengan gagang yang lebih panjang dan ceruk sendok diperbesar yang mampu mengurangi kemungkinan kuah sup tumpah ke baju.
Sumber tulisan : Ragam Kompas Klasika.
Read More..