Setelah
dimakamkan dengan cepat oleh penduduk lokal karena khawatir kekejaman
Henry Tudor dan pasukannya. Raja Richard dimakamkan dalam kuburan tak
bernama. Pejalanan waktu kuburan Raja Richard kemudian hilang ditelah
sejarah selama 500 tahun berikutnya.

Pesona Nusa Tenggara Barat saat ini mulai menggeliat dalam bidang pariwisata. Pebruari 2009 kemaren pada saat orang-orang merayakan Valentine Day, puluhan ribu manusia berkumpul di Pantai Selatan Pulau Lombok, tepatnya di Pantai Seger sebelah timur Teluk Kuta, Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Apakah berkumpulnya orang-orang tadi ingin merayakan Valentine Day? Bukan sahabat. Mereka berkumpul di tempat ini untuk merayakan pesta Bau Nyale.
Demikian pula peristiwa di tahun 1993, sehat dengan reiki bersama tim dokumentasi film melakukan liputan Bahu Nyale yang merupakan peristiwa tahunan yang sudah diagendakan sebagai pesta rakyat di Lombok. Sayang di tahun itu peristiwa pesta Bahu Nyale tidak bertepatan dengan Valentine Day tetapi kemeriahan pesta tetap berlangsung dengan meriah.
Sejak di Jakarta kami sudah merancang jadwal kerja sehingga kedatangan ke Nusa Tenggara Barat tidak sia-sia. Script liputan, lokasi, materi dokumentasi sudah dipersiapkan dengan matang sehingga begitu kita tiba di Pesta Rakyat ini liputan segera dapat dilaksanakan.Tim kerja yang ditugaskan meliput harus juga membuat reportase di luar shooting script berdasarkan peristiwa on the spot di luar skenario yang telah direncanakan.
Memang Pesta Rakyat Bahu Nyale merupakan pesta rakyat yang melibatkan warga yang datang dari berbagai wilayah, terutama di Kabupaten Lombok Tengah yang sampai saat ini masih meyakini kebenaran Legenda Puteri Mandalika yang lebih terkenal sebagai Putri Nyale. Bahkan sehari sebelum pesta rakyat itu berlangsung areal pesta disulap layaknya tempat pesta dengan hadirnya pasar tiban di mana penjual makanan dan minuman hadir di lokasi ini bertemu melakukan transaksi jual beli.
Tentu Anda yang belum pernah berkunjung ke Lombok bertanya-tanya apa sih itu Pesta Bahu Nyale? Baiklah sehat dengan reiki gambarkan bahwa Pesta Bahu Nyale adalah pesta tahunan yang sudah berlangsung turun temurun dari generasi ke generasi masyarakat adat Pantai Selatan Lombok dari timur ke barat yaitu masyarakat adat Blowam, Jerowaru, Awang, Terasak, Aan dan Seger.
Sebenarnya apa sih itu Nyale? Para ahli biologi menyebut nyale sebagai jenis cacing laut (anelida polycaetae) atau cacing kelabang yang tergolong bangsa anelida tetapi bukan termasuk jenis anthropoda (binatang beruas) yang muncul setahun sekali di Pantai Selatan Lombok ini. Cacing kelabang ini disebut sesuai dengan lokasi masyarakat adat tinggal, misalnya di Lombok disebut Nyale, Sumbawa disebut Nyale Sorban Nabi Adam dan di Ambon Maluku disebut Cacing Hujan karena dianggap cacing itu jatuh dari langit bersamaan air hujan.
Di Lombok Nyale ditangkap tanggal 20 bulan kesepuluh dan awal tahun Sasak yang ditandai dengan terbitnya bintang Rowot ( tanda alam yang dikaitkan dengan pertanian) di mana bulan kesatu menurut Suku Sasak dimulai tanggal 25 Mei dan umur setiap bulan dihitung 30 hari. Bila dibanding dengan tahun Masehi perbedaannya siklusnya sedikit dan bulan kesepuluh dan kesebelas jatuh bulan Pebruari dan Maret.
Malam telah tiba di Pantai Seger. Ribuan peserta Nyale telah siap di pinggir pantai. Mereka membawa serok, jaring dan hanya ditemani lampu senter dan petromak siap menceburkan diri ke air laut dangkal yang malam itu terasa dingin sekali. Tiupan angin laut selatan Pantai Lombok terasa menggigit badan dan semilir angin dingin menerpa wajah yang ditutup handuk.
Nyale yang hendak ditangkap berukuran 10-15 sentimeter yang tiba-tiba mengambang di permukaan laut dengan jumlah yang tidak terduga jumlahnya.Mungkin jutaan nyale malam itu muncul mengambang di permukaan laut persis ikan mengapung di perairan dangkal.Tanpa dikomando peserta nyale lalu menangkap nyale dan memasukan ke wadah yang telah disiapkan.
Nyale yang ditangkap warnanya ada yang putih, hitam,kuning,hijau gadung dan coklat. Warna nyale lengkap yang menyiratkan pertanda bahwa padi akan tumbuh subur dan panen akan melimpah. Apalagi semalam sebelum pesta Nyale tiba hujan turun dengan deras disertai kilat yang menyambar di kawasan Pantai Seger.
Menurut hikayat yang berkembang di kalangan masyarakat Lombok secara turun temurun dikisahkan bahwa Nyale yang ditangkap malam itu diyakini merupakan jelmaan Putri Mandalika yang hidup ratusan tahun lalu. Sang putri memilih menceburkan diri ke Laut Selatan Pulau Lombok karena kesulitan memilih satu dari tiga Pangeran yang sangat ingin sekali menyunting Sang Putri Mandalika.
Tersebut dalam kisah dahulu pernah ada Kerajaan Seger yang diperintah oleh Raja Seger yang arif dan bijaksana mempunyai permaisuri bernama Lale Bulu Kuning ( Lining Kuning ) serta mempunyai seorang puteri yang cantik jelita. Sang puteri raja ini sejak kecil diberi julukan Tunjung Beru yang berarti "baru muncul".
Seiring bertambah usia kecantikan sang puteri semakin memesona bangsawan dan rakyat Kerajaan Seger. Nama sang puteri raja akhirnya diubah menjadi Puteri Sarah Wulan yang berarti puteri yang memiliki cahaya kejelitaan. Karena kecantikan sang puteri raja ini membuat beberapa pangeran putera mahkota kerajaan lain terpikat dan segera ingin melamarnya. Ketiga pangeran putera mahkota itu adalah Pangeran Arya Rembitan, Arya Bumbang dan Pangeran Johor.
Ketiga pangeran ini melamar sang puteri raja dan pucuk dicinta ulam tiba ternyata lamaran ketiga pangeran mahkota ini diterima oleh Sang Raja. Namun timbul masalah, bila salah satu pangeran diterima maka kedua pangeran lainnya akan cemburu yang akhirnya mengajak perang saudara dan menimbulkan korban rakyat banyak negeri ini. Untuk menghindari tragedi berdarah kerajaan akibat perang saudara Sang Putri merenung untuk sementara waktu mohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa.
Setelah menerima wangsit melalui mimpi Sang Puteri akhirnya menceburkan diri ke laut Pantai Selatan Lombok pada tanggal 20 bulan kesepuluh tahun Sasak. Sebelum menceburkan diri ke laut Sang puteri mengumumkan lebih dahulu keputusan ini kepada pangeran dan rakyat kerajaan. Nah sejak saat itu Sang Puteri Sarah Wulan diberi nama baru Puteri Mandalika. Manda berarti bingung atau bimbang dan Lika berarti perbuatan.
Puteri Mandalika yang diliputi kebimbangan akhirnya diabadikan secara turun temurun dalam pesta rakyat Nyale oleh masyarakat Pantai Selatan Lombok, tepatnya masyarakat Lombok Tengah. Mereka mengenang dan merayakan pesta itu semalam suntuk dengan menjaring nyale dan meyakini bahwa Nyale ini penjelmaan Sang Puteri Sarah Wulan. Kini peristiwa Nyale sudah menjadi ikon pariwisata tahunan Pemda NTB yang bisa mendatangkan devisa karena pengunjung bukan saja dari Lombok sendiri tetapi juga dari wilayah lain di luar NTB.
Legenda Puteri Mandalika atau Putri Nyale terus dikenang dan dirayakan setiap tahun khususnya masyarakat Lombok Tengah.Tinggal Pemda NTB saja menangkap peluang ini dan menjadikan peristiwa tahunan untuk menjaring pengunjung melalui promosi baik di dalam negeri atau luar negeri melalui internet, brosur wisata dan publikasi media nasional dan lokal.
Betapa penatnya membuat dokumentasi Nyale semalam suntuk. Tak terasa fajar telah menyingsing di ufuk timur Pantai Seger. Para peserta Nyale yang telah berhasil menangkap Nyale membubarkan diri dan pulang kerumah masing-masing. Nyale yang ditangkap dijadikan lauk pauk, sebagai pupuk tanaman pertanian, untuk emping Nyale dan yang lebih wah dijadikan obat kuat bagi pria loyo.Kegunaan Nyale memang sudah terbukti bagi masyarakat Lombok yang meyakininya.Kalau anda penasaran dengan Nyale silakan berkunjung ke Lombok tahun depan dan saksikan sendiri kemeriahan pesta Nyale ini.
Ah andaikan Putri Sarah Wulan masih ada di abad ini kita tentu saja bisa menyaksikan kecantikan sang puteri bukan dari dongeng saja tetapi bisa menatap langsung wajahnya. Ataukah anda saja yang menjadi Puteri Sarah Wulan?
Sumber: brosur wisata pemda ntb, ceritera adat sasak dan film dokumentasi (telah disunting)



Ketika menerima undangan liputan ke TIM Jakarta, sehat dengan reiki beserta kerabat teknik dan produksi segera menyiapkan materi liputan dan mempersiapkan mobil siaran luar KCKR yang Selasa Sore kemaren terjebak kemacetan lalu lintas luar biasa di sekitar Jembatan Semanggi. Maklum Selasa petang kemaren Jakarta dilanda hujan lebat setelah pagi hari cuaca cerah disengat matahari, jam bubaran kantor di sore hari pun secara serentak memacetkan perjalanan ke TIM di Cikini.
Bergerak perlahan melewati Kawasan Monas melewati Tugu Tani di Menteng Raya yang juga sama-sama macet akhirnya tiba juga mobil siaran luar KCKR di depan Graha Bakti Budaya. Persiapan pun dimulai dengan melakukan setting peralatan, memasang kamera, menempatkan mikropon, menata lampu dan mengecek jalur audio video ke Video Tape Recorder di mobil KCKR. Persiapan setting pun selesai ketika kumandang Azhan Maghrib terdengar dari Masjid Amir Hamzah TIM.
Kisah Rama dan Shinta yang diliput ini sebenarnya kisah klasik percintaan Rama dan Shinta yang pernah sehat dengan reiki dan teman-teman kerabat kerja lainnya dengar ketika waktu kecil dulu. Biasa tidak istimewa, namun pagelaran Rama Shinta malam ini terkesan berbeda pementasannya karena diiringi musik gamelan dan gesekan biola orkhesta yang dipimpin oleh seorang dirigen, mengiringi adegan pagelaran babak demi babak dengan durasi pementasan 2 jam.
Kisah Rama dan Shinta merupakan salah satu epos legendaris Ramayana yang hingga saat ini kisahnya masih relevan dengan tuntutan perkembangan jaman. Tuntutan perkembangan kemajuan jaman dengan hadirnya teknologi komunikasi khususnya teknologi komputer mampu menghadirkan perpaduan gambar hasil animasi komputer, teknik tata cahaya dan effek suara serta semburan asap dry smoke mampu memukau penonton yang hadir malam itu.
Pertunjukan Rama Shinta kemaren malam begitu unik karena berisi kolaborasi antara wayang dengan opera yang bertajuk "Kidung Shinta" di mana pertunjukan dimeriahkan dengan sentuhan seni modern seperti visualisasi multimedia, mini orkestra dan penggunaan bahasa Indonesia sehingga dapat diterima dengan lebih mudah opeh penggemar wayang atau masyarakat awam. Pertunjukan diawali dengan kosongnya panggung yang gelap gulita lalu layar putih panggung pun diisi dengan bayangan 2 orang penari yaitu Rahwana melarikan Dewi Shinta melintasi hutan sedang dikejar oleh seekor burung Jatayu .
Adegan demi adegan saat Raja Kera Sugriwo beserta pasukan kera menyerang Alengka dan kera Shakti Hanoman diutus Rama membawa cincin Rama agar diberikan Shinta di Alengka. Juga adegan peperangan Raksasa prajurit Alengka melawan pasukan kera pimpinan Sugriwa. Selain melibatkan ratusan penari profesional, pertunjukan ini juga melibatkan puluhan penari anak-anak yang memerankan pasukan kera yang begitu lincah berjumpalitan memanjat pohon dan bersalto layaknya kera yang sedang memanjat pepohonan di hutan.
Kidung Shinta ini disutradarai oleh Nanang Hape, seorang seniman tari yang telah melakukan berbagai eksplorasi terhadap wayang. Untuk pertunjukan kemaren malam Nanang Hape berharap penonton dapat tergerak untuk kembali mengapresiasi sebuah karya tradisional khususnya pertunjukan wayang.
Berikut di bawah ini sinopsis Ramayana dalam pagelaran malam kemaren:
Pengantar
Prabu Janaka, Raja Kerajaan Mantili memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Dewi Shinta. Untuk menentukan siapa calon pendamping yang tepat baginya, diadakanlah sebuah sayembara. Rama Wijaya, Pangeran dari Kerajaan Ayodya akhirnya memenangi sayembara tersebut.
Prabu Rahwana, pemimpin Kerajaan Alengkadiraja sangat menginginkan untuk menikahi Dewi Shinta. Namun, setelah mengetahui siapa Dewi Shinta, ia berubah pikiran. Ia menganggap bahwa Dewi Shinta merupakan jelmaan Dewi Widowati yang telah lama ia cari-cari.
Hutan Dandaka
Rama Wijaya beserta Shinta, istrinya, dan ditemani oleh adik lelakinya, Leksmana, sedang berpetualang dan sampailah ke Hutan Dandaka. Di sini mereka bertemu dengan Rahwana yang begitu memuja Dewi Shinta dan sangat ingin memilikinya. Untuk mewujudkan gagasannya, Rahwana mengubah salah satu pengikutnya bernama Marica menjadi seekor kijang yang disebut Kijang Kencana dengan tujuan memikat Shinta.
Karena tertarik dengan kecantikan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Rama menyanggupi dan meninggalkan Shinta yang ditemani Leksmana dan mulailah dia memburu kijang tersebut.
Setelah menunggu lama, Shinta menjadi cemas karena Rama belum datang juta. Ia meminta Leksamana untuk mencari Rama. Sebelum meninggalkan Shinta, Leksmana membuat lingkaran sakti di atas tanah di sekeliling Shinta untuk menjaganya dari segala kemungkinan bahaya.
Begitu mengetahui bahwa Shinta ditinggal sendirian, Rahwana mencoba untuk menculiknya namun gagal karena lingkaran pagar pelindung yang menjaganya. Kemudian ia mengubah diri menjadi seorang Brahmana. Shinta jatuh kasihan terhadap Brahmana yang tua tersebut dan hal tersebut membuatnya keluar dari lingkaran pelindung. Akibatnya, Rahwana - yang menjelma menjadi Brahmana tua tersebut - berhasil merebut dan membawanya terbang ke Kerajaan Alengka.
Memburu Kijang
Rama berhasil memanah kijang yang dikejarnya, namun tiba-tiba kijang tersebut berubah menjadi raksasa. Terjadilah perkelahian antara Rama dengan raksasa tersebut. Raksasa tersebut akhirnya dapat dibunuh Rama menggunakan panahnya. Kemudian tibalah Leksama dan meminta Rama untuk segera kembali ke tempat di mana Shinta berada.
Penculikan Shinta
Dalam perjalanan ke Alengka, Rahwana bertemu dengan burung garuda bernama Jatayu. Mereka kemudian terlibat pertengkaran karena Jatayu mengetahui bahwa Rahwana menculik Dewi Shinta - yang adalah anak Prabu Janaka, teman dekatnya. Sayangnya, Jatayu berhasil dikalahkan oleh Rahwana saat mencoba membebaskan Shinta dari cengkeraman Rahwana.
Mengetahui bahwa Shinta tidak lagi berada di tempat semula, Rama dan Leksmana memutuskan untuk mencarinya. Dalam perjalanan pencarian tersebut, mereka bertemu dengan Jatayu yang terluka parah. Saat bertemu pertama kali tersebut, Rama mengira bahwa Jatayulah yang menculik Shinta sehingga ia berniat membunuhnya namun Leksmana mencegahnya. Jatayu menjelaskan apa yang terjadi sebelum akhirnya ia meninggal.
Tidak lama kemudian, seekor kera putih bernama Hanoman tiba. Ia diutus oleh pamannya, Sugriwa, untuk mencari dua pendekar yang mampu membunuh Subali. Subali adalah seorang Kera yang suci dan telah mengambil Dewi Tara, wanita kesayangan Sugriwa. Setelah dipaksa, akhirnya Rama memutuskan untuk membantu Sugriwa.
Gua Kiskendo
Pada saat Subali, Dewi Tara dan anak lelakinya sedang berbincang-bincang, tiba-tiba datanglah Sugriwa dan langsung menyerang Subali. Sugriwa yang dibantu oleh Rama akhirnya mampu mengalahkan Subali. Sugriwa berhasil merebut kembali Dewi Tara. Untuk membalas kebaikan Rama, Sugriwa akan membantu Rama mencari Dewi Shinta. Untuk tujuan ini, Sugriwa mengutus Hanoman untuk mencaritahu mengenai Kerajaan Alengka.
Kemenakan Rahwana, Trijata, sedang menghibur Shinta di taman. Rahwana datang untuk meminta kesediaan Shinta menjadi istrinya. Shinta menolak permintaan tersebut. Hal ini membuat Rahwana kalap dan mencoba membunuhnya namun Trijata menghalanginya dan memintanya untuk bersabar. Trijata berjanji untuk merawat Shinta.
Saat Shinta merasa sedih, ia tiba-tiba mendengar nyanyian indah yang disuarakan oleh Hanoman, si kera putih. Hanoman memberi tahu Shinta bahwa ia adalah utusan Rama yang dikirim untuk membebaskannya. Setelah menjelaskan tujuannya, Hanoman mulai mencari tahu kekuatan seluruh pasukan Alengka. Ia kemudian merusak taman tersebut.
Indrajit, anak lelaki Rahwana, berhasil menangkap Hanoman namun Kumbokarno mencegahnya untuk membunuhnya dan Hanoman dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar. Namun saat dibakar, Hanoman berhasil lari dan justru membakar kerajaan dengan tubuhnya yang penuh kobaran api.
Segera setelah membakar kerajaan, Hanoman datang kepada Rama dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Rama kemudian pergi ke Alengka disertai dengan pasukan kera. Ia menyerang kerajaan dan membuat pasukan Alengka kocar-kacir setelah Indrajit - sebagai kepala pasukan kerajaan - berhasil dibunuh.
Rahwana kemudian menunjuk Kumbokarno - raksasa yang bijaksana - untuk memimpin pasukan kerajaan Alengka melawan balatentara Rama yang dibantu Raja Kera Sugriwo. Namun kemudian Kumbokarno berhasil dibunuh oleh Rama dengan panah pusakanya. Rahwana mengambil alih komando dan mulai menyerang Rama dengan bala tentara seadanya. Rama akhirnya juga berhasil membunuh Rahwana. Dibawa oleh Hanoman, mayat Rahwana diletakkan di bawah gunung Sumawana.
Rama Bertemu Shinta
Setelah kematian Rahwana, Hamonan menjemput Shinta untuk dipertemukan dengan Rama. Namun Rama menolak Shinta karena ia berpikir bahwa Shinta sudah tidak suci lagi. Shinta kecewa dan untuk membuktikan kesetiaannya kepada suaminya, ia menceburkan diri ke dalam kobaran api dan membakar diri. Karena kesuciannya dan atas bantuan Dewa Api, ia tidak terbakar dan selamat. Hal tersebut membuat Rama bahagia dan akhirnya menerimanya kembali menjadi istrinya.
Dengan didukung oleh seniman seniwati lulusan Institut Seni Tari Solo yang berada di Jakarta serta banyaknya warga Solo menyaksikan pagelaran ini suasana Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marjuki malam itu layaknya seperti Gedung Wayang Orang Sriwedari Solo yang sedang mementaskan wayang orang dengan lakon sama Rama dan Shinta. Di gedung ini yang terdengar hanya celotehan, guyonan dalam bahasa Jawa Kromo Inggil dan Ngoko. Suasana pas seperti di Solo.
Dari Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marjuki, Sehat dengan reiki yang dibantu forum.cekinfo.com menulis untuk Sekolah Internet.
