Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Jurnal Glasiologi ( Journal of Glaciology ), Senin ( 8/8 ), menyebutkan tsunami yang dipicu oleh gempa tektonik berkekuatan 9 magnitudo di perairan Jepang pada 11 Maret menghancurkan bongkahan gletser di Antartika. Padahal jarak antara pusat tsunami dan Antartika mencapai 13.600 kilometer.
Pecahnya gletser di daerah Sulzberger, Antartika, itu terdeteksi melalui satelit yang mengamati wilayah pesisir Antartika. Pengamatan dilakukan oleh Kelly Briunt, ahli kriosfer ( lapisan es bumi ) dari Pusat Penerbangan Antartika Goddard di Greenbelt, Maryland, AS. Pecahnya gletser terjadi 18 jam sejak gempa atau sesaat sesudah gelombang tsunami menghantam wilayah Antartika.
Sumber : LiveScience/ MZW.
Read More..Obat-obatan yang lazim dikonsumsi orang lanjut usia ( lansia ) untuk mengatasi penyakit serangan jantung, depresi dan alergi ditemukan berkaitan dengan kematian dan penurunan fungsi otak. Hasil penelitian ilmuwan Inggris yang dipublikasikan di jurnal American Geriatrics Society seperti dikutip BBC, Jumat ( 24/)6 ) menyebutkan, orang-orang berusia 65 tahun sering mendapat resep obat-obat itu.
Pengaruh yang kuat terutama bagi para lansia yang menjalani pengobatan beragam. Peneliti mengatakan, pasien tidak perlu panik dan menghentikan obat-obatan yang dikonsumsi. Hubungan itu ditemukan saat peneliti sedang menginvestigasi obat-obat yang mempengaruhi zat kimia di otak, yaitu asetilkolin.
Peneliti mengurutkan 80 obat untuk kegiatan antikolinergik. Obat dengan efek ringan diberi nilai satu, nilai dua untuk sedang dan tiga untuk berat. Kombinasi dinilai dihitung dari 13.000 pasien berusia 65 tahun ke atas dengan menambahkan skor untuk semua obat yang diambil. Seorang pasien mengambil satu obat berat dan dua obat sedang akan bernilai lima.
Dalam kurun tahun 1991 - 1993 sebanyak 20 persen pasien dengan skor empat lebih banyak meninggal dunia. Mereka yang tidak mengonsumsi obat antikolinergik hanya 7 persen yang meninggal. Namun studi ini belum menyimpulkan bahwa 0bat-obat yang dikonsumsi lansia meningkatkan penyebab kematian dan penurunan fungsi otak, tetapi ada kaitannya.
Sumber : BBC/ELN/Kilasan Iptek Kompas.
Read More..Effektivitas obat-obatan Bumi yang dibawa ke luar angkasa menurun secara drastis. Akibatnya, masa kedaluwarsa obat-obatan tersebut jauh lebih singkat dibandingkan dengan masa kedaluwarsa ketika obat-obatan itu berada di bumi. Hasil penelitian para ahli di Pusat Penelitian Antariksa NASA Johnson di Houston, USA yang dipublikasikan dalam jurnal AAPS, menyebutkan, penurunan tingkat kemanjuran obat itu diduga disebabkan oleh paparan radiasi pada pesawat yang tinggi dan terus menerus, getaran masif pada pesawat.
Lalu kecilnya gravitasi , lingkungan sekitar yang kaya akan karbon dioksida hingga perubahan kelembapan dan temperatur yang sangat drastis. Penelitian dilakukan dengan membandingkan efektivitas 35 jenis obat-obatan dalam empat kotak yang dibawa ke Stasiun Antariksa Internasional ( ISS ) mulai 13 hari hinga 28 bulan dengan empat kotak obat-obatan yang disimpan dalam kondisi terkendali di Pusat Penelitian Antariksa Johnson.
Di bumi tempat penyimpanan obat uymumnya terjaga suhu dan temperaturnya serta terhindar dari paparan langsung sinar matahari. Kondisi ini harus diantisipasi oleh para ahli obat agar membuat tempat penyimpanan obat yang terkontrol seperti di bumi. Kebutuhan ini mendesak mengingat waktu tinggal antariksawan di luar angkasa semakin lama. Bahkan seiring kemajuan teknologi antariksa, diperkirakan akan semakin banyak manusia yang ke luar angkasa.
Penasihat informasi sains pada komunitas farmasi Inggris ( Royal Pharmaceutical Society ) Colin Cable mengatakan, obat-obatan di bumi diuji berdasarkan pengaruh suhu, kelembapan, oksigen dan cahaya matahari. Karena itu obat-obatan dikemas khusus agar tetap stabil dan effektif untuk jangka waktu yang lama. Jika akan dibawa ke luar angkasa, kondisi penyimpanan obat harus disesuaikan dengan kondisi di bumi.
Sumber : BBC/MZW Kompas.
Read More..
