
Penelitian
terbaru ahli geofisika di Geomar, Jerman, Marion Jegen dan rekan,
menunjukkan sebaliknya. Penelitian yang dimuat di jurnal Geology itu
menemukan perubahan iklim yang cepat juga meningkatkan aktivitas
vulkanik. Perubahan iklim sangat cepat beberapa juta tahun lalu membuat
gletser benua mencair dan meningkatkan permukaan air laut.
Respon Binatang liar atas perubahan iklim berlangsung lebih cepat dari perkiraan. Pergerakan binatang ke daerah yang lebih dingin merupakan proses adaptasi. Binatang bergerak ke arah kutub utara tiga kali lebih cepat dan ke arah pergunungan dua kali lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Temuan para peneliti dari Departemen Biologi, Universitas York, Inggris itu diumumkan dalam jurnal ilmiah Science.
Dari 2000 spesies hewan dan tumbuhan yang diteliti, diperoleh hasil bahwa hewan dan tumbuhan itu bergerak ke tempat lebih tinggi rata-rata 12,2 meter per dekade dan bergerak ke daerah lintang tinggi sejauh 17,6 kilometer per dekade. Artinya, habitat hewan dan tumbuhan menjauhi garis khatulistiwa dengan kecepatan 20 sentimeter per jam. " Kondisi ini sudah terjadi selama 40 tahun dan terus berlanjut hingga akhir abad ini, " kata pimpinan penelitian yang juga Guru Besar Konservasi Biologi di Universitas York, Chirst Thomas, kepada Sciencedaily Kamis ( 18/8 ).
- Sekitar 2.000 spesies yang diteliti sedang bergerak menjauh dari ekuator dengan kecepatan rata-rata lebih dari 15 kaki per hari, sekitar satu mil per tahun, menurut penelitian baru yang diterbitkan pada hari Kamis lalu dalam jurnal Science yang menganalisis studi-studi terdahulu. Spesies-spesies juga bergerak naik ke pegunungan untuk menghindari panas, tetapi lebih lambat, dengan rata-rata 4 kaki setahun. Kupu-kupu comma/( AP Photo/Butterfly Conservation, Jim Asher )
Kondisi itu turut mengubah keragaman hayati masing-masing wilayah. Kecepatan pergerakan setiap spesies hewan dan tumbuhan tergantung pada sensitivitas mereka terhadap perubahan suhu dan kerusakan habitat asalnya. Di Skotlandia, habitat kupu-kupu bergeser ke utara sejauh 200 kilometer dalam dua dekade. Di Indonesia nyamuk yang sebelumnya merupakan binatang daerah panas, kini mulai banyak ditemukan di daerah pegunungan yang tidak dingin lagi.
Sumber : Sciencedaily/MZW.
Read More..Di habitat aslinya berbagai hewan memiliki kemampuan penyesuaian diri secara alami terhadap kondisi di sekitarnya. Sejumlah penelitian menguatkan hal itu mulai adaptasi hewan terhadap racun ataupun iklim. Sebut saja burung hantu yang harus mampu menghadapi perubahan iklim.
Populasi burung hantu di Finlandia menjadi salah satu kelompok hewan yang harus berubah menghadapi perubahan iklim. Kini populasi burung hantu coklat naik menjadi 50 persen dari sebelumnya 30 persen. Salah satu dugaan penyebabnya adalah hamparan putih salju yang menyelimuti daratan tak separah dulu lagi, yang membuat keberadaan burung hantu coklat kian tersamar dari pemangsa.
Perubahan iklim membuat musim salju kian menghangat. "Musim dingin kini semakin hangat sehingga burung berwarna cokelat lebih bisa bertahan," ujar Dr Karell yang sudah mengumpulkan data burung hantu dalam waktu 30 tahun terakhir. Ia menerangkan bahwa musim dingin yang hangat membuat salju berkurang, burung-burung hantu coklat bisa terhindar dari pemangsa.
Di sisi lain para peneliti mengatakan perubahan komposisi populasi burung hantu di Finlandia itu sebagai bentuk respons perubahan iklim. Kesimpulan itu didasarkan atas data penelitian jangka panjang terhadap burung hantu coklat muda selama 30 tahun terakhir.
Menurut ketua penelitian, Dr Patrik Karell dari Universitas Helsinki, seperti dikutip BBC menyatakan, seleksi yang didorong iklim membawa perubahan evolusioner pada populasi burung hantu coklat muda. Namun secara detail belum diketahui penjelasannya. Hasil penelitian menyebutkan iklim yang berubah, pada beberapa spesies dapat mengurangi jumlah dan varietas karakter yang nantinya terwariskan.
Artinya berkurangnya jenis tertentu dapat menyebabkan hilangnya jenis mereka dari daftar. Misteri evolusi hewan juga dijumpai pada ikan tomcod Atlantik di Sungai Hudson, New York, Amerika Serikat. Secara menakjubkan populasi ikan itu bertahan dari racun PCB yang mencemari sungai tersebut. Bahan berbahaya dan beracun yang memicu kanker itu tak lagi membunuh ikan-ikan tomcod Atlantik.
Para peneliti belum tahu benar penyebab semua fenomena itu. Fakta itu meruntuhkan anggapan selama ini bahwa evolusi hewan berlangsung ribuan tahun. Ikan tomcod Atlantik hanya butuh 50-an tahun untuk berevolusi.
Sumber : BBC Nature/GSA/Kompas.
Read More..Sebagian negara di Wilayah Asia yang saat ini tengah dilanda bencana angin ribut dan banjir besar akibat curah hujan cukup tinggi, ternyata tidak berlaku bagi negara Brazil. Negara Brazil justru tengah dilanda musim kering dimana pola cuaca ekstrim terjadi di hutan tadah hujan terbesar di kawasan Amazon Brazil, sehingga mengakibatkan sungai Amazon mulai mengering dan tandus.
Kalangan ilmuwan memprediksi musim kering aikan semakin berkepanjangan akibat fenomena El Nino, musim badai topan di Samudra Atlantik dan kerusakan hutan yang berpengaruh kuat terhadap perubahan iklim. Dampak dari keringnya Sungai Amazone mengakibatkan ribuan perahu motor tak dapat beraktivitas. Debit air anak sungai Amazone, sungai Rio Negro dan Solimoes juga terus menyurut drastis.
Sementara itu bantaran sungai mengalami longsor sehingga mengancam kawasan permukiman warga yang tinggal di pinggir sungai. Di kota kecil Careiro Da Varzea yang memiliki populasi penduduk 23 ribu jiwa, bencana tanah longsor terjadi di wilayah permukiman. Kendati tidak dilaporkan adanya korban jiwa, organisasi pecinta lingkungan Green Peace menyatakan 27 kawasan Brazil berstatus keadaan darurat.
Saat ini warga sekitar Sungai Amazon mulai bergantung pada bantuan darurat. Pemerintah Brazil mengumumkan bantuan darurat 13,5 milyar dolar Amerika untuk negara bagian Amazon dan sejauh ini telah mendistribusikan 600 ton bantuan. Studi internasional pada musim kering terburuk di tahun 2005 lalu mendapati adanya kerusakan hutan Amazon yang mengakibatkan pelepasan gas carbon lebih dari emisi gas rumah kaca negara Eropa dan Jepang.
Sumber : Reuters/Manaus Brazil. Photo by REUTERS/Bruno Kelly/Amazonaspress .
Read More..
Sekretaris Jenderal Asean Surin Pitsuwan menegaskan kembali sikap Asean untuk bekerjasama dengan Amerika Serikat guna mencari solusi bagi masalah-masalah global, dari mulai reformasi sistem keuangan global, stabilitas ekonomi, keamanan pangan hingga masalah perubahan iklim. Hal itu dikatakan kepada pers setelah menerima Hillary Clinton yang datang berkunjung ke Sekretariat Asean Rabu petang ini.
Saat menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton di Kantor Sekretariat Asean Jakarta Surin Pitsuwan menyatakan, masyarakat Asean dengan latar belakang budaya yang beragam mampu menunjukkan stabilitas dan hidup berdampingan secara damai. "Kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta menunjukkan pentingnya posisi Asean bagi Amerika Serikat," katanya.
Selanjutnya Sekjen Asean ini berharap Amerika Serikat tetap membuka pasarnya bagi perdagangan dunia, mampu mengatasi krisis ekonomi dalam negerinya mengingat keberhasilan Amerika Serikat sangat berarti bagi perkembangan ekonomi dunia. Terkait isu Palestina, Sekjen Asean berharap Hillary Clinton mampu mencari solusi bagi pemecahan masalah konflik Israel-Palestina dengan melibatkan beberapa negara yang ikut memainkan peranan penting dalam menciptakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menyatakan Pemerintah Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Barack Obama tetap menunjukkan komitmennya untuk memelihara stabilitas politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara. Hillary juga menyatakan keinginannya untuk menghadiri Asean Post Ministerial Meeting serta Forum Regional Asean ke-16 yang akan berlangsung di Thailand Juli mendatang.
Sehat dengan reiki menulis untuk sekolah internet.
