Para penduduk di Pulau YeonPyeong Korea Selatan berlindung di bunker saat militer mengadakan latihan penembakan rudal di pulau itu Senin 20/12 lalu. Sejauh ini Korea Utara belum memberikan respon terhadap latihan militer Korea Selatan di lokasi yang dekat dengan perbatasan kedua negara itu. Selama berlangsungnya latihan penembakan rudal di Pulau YeonPyeong, tentara Korea Selatan berjaga di dekat bunker dan membagikan makanan, selimut dan masker gas kepada warga yang berlindung di dalam bunker.
Seorang warga Oh Gyi Im berusia 69 tahun yang telah tinggal di Pulau YeonPyeong selama 50 tahun mengatakan ia merasa gugup ketika pertama kali memasuki bunker. Kini Oh Gyi Im merasa sedikit nyaman namun ia khawatir Korea Utara akan melancarkan serangan militer ke Korea Selatan.
Di dalam bunker Oh Gyi Im dan warga lainnya duduk di lantai yang dingin dengan memakai jaket tebal. Setelah sembilan jam berada di dalam bunker anti serangan udara, warga lainnya diijinkan keluar untuk menghirup udara segar. Sebagian besar penduduk Pulau YeonPyeong yang seluruhnya berjumlah 1600 jiwa mengungsi ke daerah lain ketika Korea Selatan melancarkan serangan artileri tanggal 23 November lalu.
Dari jumlah tersebut hanya 100 warga yang kembali ke desanya yang telah porak poranda diterjang roket Korea Utara. Kementerian luar negeri Korea Selatan mengatakan latihan militer dengan penembakan rudal bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Korea Selatan menghadapi agresi militer Korea Utara jika terjadi perang.
Sumber : Asia/Reuters/South Korea - Bunker.
Read More..Perdana Menteri Kamboja memimpin upacara berkabung di Phnom Penh untuk mengenang para korban tragedi festival air Kamis ( 25/11 ). Sedikitnya 456 orang tewas terinjak-injak di jembatan Koh Pich di Phnom Penh Senin malam lalu saat berlangsungnya festival air yang dipadati warga Kamboja.
Perdana Menteri Kamboja Hun Sen dan ratusan warga berkumpul di jembatan Koh Pich untuk mendoakan arwah para korban yang tewas. Korban tewas terjadi dalam kericuhan saat berlangsungnya festival air di ibukota Kamboja. Warga termasuk pejabat-pejabat pemerintah dan sanak saudara meletakkan bunga dan membakar hio.
Di lokasi terjadinya tragedi yang menewaskan lebih dari 400 orang, Hun Sen dan istrinya Bun Rany tak dapat menahan air mata saat meletakkan bunga di jembatan itu. Penghormatan kenegaraan di Phnom Penh diikuti pula oleh para pejabat senior pemerintahan Kamboja, termasuk Menteri Luar Negeri Hor Namhong. Bergantian, mereka ikut membakar dupa dan berdoa.
Raja Sihamoni tidak menghadiri upacara tersebut, tetapi ayahnya, Norodom Sihanouk yang masih sangat dihormati rakyat Kamboja, mengirimkan surat duka dari Beijing, di mana ia tengah menjalankan perawatan kesehatan. Norodom Sihanouk dan istrinya menyampaikan kedukaan yang dalam lewat surat tersebut, yang dipampang di halaman pertama koran koran lokal Kamboja.
Para bhiksu mendoakan mereka yang meninggal. Penguburan dan kremasi dilaksanakan di berbagai kota di Kamboja. Keluarga korban dan mereka yang selamat masih mempertanyakan, apa sebetulnya yang menjadi penyebab tragedi tersebut. Insiden terjadi di jembatan Koh Pich yang menghubungkan Phnom Penh dengan pulau Berlian di seberang. Kericuhan berawal ketika sejumlah warga tersengat aliran listrik lampu jembatan sehingga menimbulkan kepanikan dan saling dorong mendorong.
Menurut saksi mata jembatan Koh Pich sempat goyang ketika warga yang jumlahnya ribuan orang berlarian diatas jembatan. Karena beban berat pengunjung yang memadati badan jembatan, maka jembatan pun menjadi oleng seperti akan roboh. Pengunjung pun panik dan sebagian tercebur ke dalam sungai dan sebagian lagi tersengat arus listrik. Pengunjung lainnya saling dorong mendorong untuk menyelamatkan diri yang mengakibatkan banyak orang terinjak-injak jatuh pingsan bahkan meninggal dunia di tempat kejadian.
Festival yang mengambil tempat di pertemuan sungai Tonle Sap dan sungai Mekong tersebut dihadiri setidaknya oleh 2 juta orang. Perdana Menteri Hun Sen menyatakan bahwa tragedi ini merupakan yang terburuk sejak Khmer Merah, yang berkuasa 1975 hingga 1979, menewaskan seperempat dari populasi penduduknya. Para pengritik menuding pihak penyelenggara festival dan aparat keamanan bertanggungjawab atas terjadinya tragedi tersebut. Setiap tahunnya sekitar lima juta warga dari berbagai desa di pedalaman Kamboja mendatangi Phnom Penh untuk mengikuti festival air.
Sumber : Asia/Reuters/DW-World/Cambodia - Mourning Ceremony.
Read More..Hutan wilayah K-R-P-H Tretes sebagai hutan tropis juga menyediakan alam yang indah untuk dikunjungi. Letaknya bukan di Kalimantan tetapi masih di wilayah Jawa Timur tepatnya di Kecamatan Temayang Bojonegoro. Saat ini sebagian warga Desa Kedungsari sering mendatangi hutan itu bukan untuk mencari kayu bakar apalagi piknik melainkan mencari ulat dan kepompong untuk dijual dan dimakan sendiri.
Setiap awal musim penghujan yang datang di akhir tahun, warga desa Kedungsari Kecamatan Temayang Kabupaten Bojonegoro yang mayoritas warganya mencari batu sebagai gantungan hidup untuk saat ini beralih profesi dadakan sebagai pengumpul kepompong. Di dalam hutan ini sejumlah wanita desa sedang mencari kepompong secara beramai-ramai. Pasalnya setiap musim penghujan tiba daun jati muda tumbuh dan pada saat bersamaan muncul ulat yang menggerogoti daun jati.
Sebagian ulat yang menggerogoti daun jati jatuh ke permukaan tanah. Jumlahnya bisa mencapai jutaan berserakan di sela-sela tanaman jati hutan dan menempel di daun jati yang rontok ke tanah. Ulat-ulat yang jatuh ini bersembunyi di balik berserakannya daun kering. Kondisi ini oleh warga setempat ditengarai terjadi di musim labuh awal musim hujan tiba. Warga desa itu mengaku sudah tiga hari mendatangai hutan jati. Dua atau tiga hari lagi kemungkinan kepompong itu berubah menjadi kupu-kupu.
Lantas untuk apa kepompong yang jumlahnya ribuan itu mereka kumpulkan ramai-ramai di tengah sunyinya hutan jati sekitar tempat tinggal mereka? Mereka mengaku kepompong yang telah dikumpulkan lalu dimasak oseng-oseng atau dimasak sayur asem-asem. Karena bisa dimasak, pencari kepompong itu merasa bisa mengirit biaya hidup keluarganya. Biasanya mereka harus mengeluarkan uang untuk membeli tempe atau tahu sebagai lauk santap makan tapi kali ini cukup dengan oseng-oseng kepompong dan sayur asem-asem sudah cukup terpenuhi keperluan lauk harian.
Bila warga desa ini mendapatkan banyak kepompong dan tidak dikonsumsi mereka menjualnya ke orang lain. Harga per satu wadah mencapai sepuluh ribu rupiah. Bahkan para pembeli banyak mendatangi tempat mereka mencari kepompong di dalam hutan jati. Namun disadari oleh warga setempat bahwa mencari kayu bakar atau kepompong mengandung resiko bahaya sebab di semak hutan belukar ini masih banyak ularnya. Karena itu demi keselamatan dalam menyusuri setiap jengkal areal hutan saat mencari kepompong dan ulat, warga memilih mencari kepompong secara bergerombol.
Anda sahabat sehat dengan reiki yang pernah merasakan sayur asem-asem dengan lauk pauk anak lebah muda tentunya bisa merasakan rasa sayur kepompong apalagi dibumbui dengan sedikit cabai dan garam plus 1 butir telor ayam kampung yang diceplok. Ada juga yang membuat tumis kepompong rasa sayur lodeh. Ada juga yang membuat menjadi peyek. Soal rasa kalau boleh menilai paling pas ditumis. Rasanya gurih bercampur asin jadi satu. Lumayan menu dadakan ini bisa menambah protein bagi penduduk desa.
Sayang musim enthung ini cukup singkat hanya sekitar 1-2 bulan saja waktunya antara Nopember dan Desember. Jika hujan turun lagi secara terus menerus maka ulat dan enthung kembali lenyap menghilang dan hutan kembali menghijau daunnya. Membaca gelagat alam ini kita pantas merenung bahwa Tuhan melalui alam semesta ciptaan-Nya begitu murah memberikan kehidupan terbaik buat manusia. Tinggal manusia sendiri mau berterima kasih atau tidak kepada alam ciptaan Tuhan ini.
Sumber berita: Sahabat sehat dengan reiki Heri Setiawan dari Televisi Jawa Timur ( diedit) dan gambar di http://berandakawasan.wordpress.com/
