

Sepotong wilayah berbentuk segitiga di mulut Lough Foyle, Irlandia Utara, merupakan tempat berkumpulnya bukit pasir, yang dikenal dengan nama Bukit Pasir Magilligan. Kawasan bukit pasir purba ini jejaknya bisa ditelusuri sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Sebagai padanan dari bukit pasir ini, jika sahabat sehat dengan kundalini reiki pernah berkunjung ke Lautan Pasir Pegunungan Tengger Bromo atau Kawasan Pantai Samas Jogjakarta, bukit pasir putih ini selalu tampak menggunung dan permukaannya akan berubah seiring tiupan angin kencang dari arah pantai laut selatan Jogja.
Ketika air laut naik saat itu, air laut membanjiri muara Lough Foyle. Beberapa ribu tahun kemudian, permukaan air laut surut dan memunculkan dataran rendah berpasir. Apa yang tersisa saat ini adalah punggung-punggung bukit dan juga dataran pasir yang terbentuk dari kisaran angin. Demikian dikupas GeoWeek sebagaimana dikutip Kompas yang menunjukkan di kawasan bukit pasir embryonic, yang merupakan batas pantai dengan laut dan merupakan bukit pasir termuda yang umumnya gundul. Hanya sejumlah tanaman yang tumbuh di sini.
Badai musim dingin biasanya menghanyutkan sebagian besar dataran di wilayah ini yang kemudian berbentuk lagi pada saat musim panas. Dataran pasir yang usianya lebih tua dan letaknya lebih tinggi, foredune ditumbuhi lebih banyak rerumputan meskipun tetap ada bidang-bidang yang kosong. Dataran ini tersambung dengan bukit pasir yang tertinggi, yang dijuluki bukit pasir kelabu.
Dataran pasir berikutnya umumnya berupa hutan belukar yang ditumbuhi beberapa jenis pepohonan, seperti willow, birch dan oak. Kanopi beserta semak ini didiami beragam tumbuhan, serangga dan beberapa binatang kecil. Sebagian wilayah Bukit Pasir Magilligan telah ditetapkan sebagai kawasan lindung, tetapi Kementerian Pertahanan membangun penjara dan lokasi latihan tembak di kawasan yang luasnya sekitar 32 kilometer persegi.
Sumber : GeoWeek.
Read More..Keberadaan sekolah daun yang terletak di Dusun Topesino Desa Mantikole Kabupaten Sigi sungguh sangat memprihatinkan. Janganlah bertanya apakah bangunan sekolah ini atapnya bocor atau dindingnya kusam bahkan daun pintunya sudah pada copot dari engselnya sehingga mengundang siapa saja untuk ikut prihatin. Di sekolah daun ini tidak ada bangunan tembok penyekat ruang kelas atau ada halaman sekolah tempat siswa beraktivitas olahraga. Semuanya tidak ada dan memang sekolah ini tidak mempunyai ruang-ruang kelas layaknya sekolah megah di perkotaan besar. Semuanya apa adanya dan alami dengan suasana khas desa terpencil di pedalaman Sulawesi Tengah.
Karena kondisi yang memprihatinkan inilah beberapa waktu lalu TVRI Sulawesi Tengah telah mengadakan liputan ke lokasi sekolah itu dan mempublikasikan lewat tayangan Selamat Pagi Nusantara Jakarta 2 bulan lalu dan tayangan dengan versi sama tetapi tetap mengambil setting lokasi sekolah daun, disiarkan ulang Minggu siang ( 26/09) kemaren dalam Warta Siang. Maksud penayangan tersebut mengingat televisi Sulawesi Tengah sebagai media kontrol sosial, berharap melalui tayangan itu Pemerintah dan Masyarakat Indonesia dapat memberikan bantuan agar proses belajar mengajar di sekolah itu tetap berlangsung.
Setelah melihat tayangan Sekolah Daun beberapa waktu lalu melalui TVRI Sulawesi Tengah, akhirnya Staf Pemerintah Kabupaten Sigi mengunjungi sekolah tersebut dengan menempuh perjalanan cukup berat menuju lokasi yang terletak di atas bukit dengan lembah curam di bawahnya. Letak sekolah memang di tempat terpencil jauh dari hiruk pikuk keramaian kota besar. Seorang pengajar sekolah daun, Indrawati dalam kunjungannya ke Kantor TVRI Sulawesi Tengah kemaren, mengatakan setelah menyaksikan tayangan sekolah daun itu, Pemerintah Kabupaten Sigi berjanji akan memberikan bantuan pada tahun 2010 ini.
Sementara itu Kepala Stasiun TVRI Sulawesi Tengah, Ir. Syafrullah dalam kesempatan ini mengatakan bahwa tujuan penayangan program acara sekolah daun itu agar masyarakat Indonesia dan Pemerintah dapat mengetahui lokasi keberadaan sekolah tersebut. Jika pemerintah Kabupaten Sigi akan memberikan bantuan, masih menurut Syafrullah, agar kondisi bangunan sekolah yang akan didirikan harus sesuai dengan kondisi alamnya. "Jangan sampai ciri khas sekolah daun tersebut menjadi hilang. Bangunan sekolahnya tidak perlu terlalu mewah, tetapi fasilitas sekolah tersebut harus tetap memadai," katanya.
- Untuk menuju lokasi Sekolah Daun di Dusun Topesino ini cukup melelahkan. Tidak main-main, kemiringan tebing bisa mencapai 45 derajat. Hal itu memaksa perjalanan ditempuh dengan mendaki tanjakan terjal yang sulit. Ditambah lagi jalan setapak yang rentan longsor dan berada di bibir jurang di kanan kiri nya. Lengah sedikit saja, maka bisa tergelincir.
Yang penting dari semua bantuan itu adalah status sekolah daun itu. Agar para siswa yang bersekolah di sekolah daun ini dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi setelah tamat dari sekolah daun, maka status sekolah daun harus jelas lebih dulu. Selain bantuan fisik fasilitas berdirinya sekolah daun itu yang memadai, Ir. Syafrullah berharap pihak Pemerintah Sigi dapat memberikan training kepada para guru yang mengajar di sekolah daun tersebut.
Sumber : Lensa Publik TVRI Sulawesi Tengah ( 25/09 ). Foto by katulutu.blogspot.com
Read More..