
Lokasi yang terletak antara California dan Jepang, di sebelah utara Samudra Pasifik, dijuluki sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di lautan. Titik ini merupakan pembuangan sampah terbesar di bumi, luasnya hampir sama dengan Amerika Serikat dan penghuninya lebih banyak sampah plastik daripada kehidupan dasar laut itu sendiri.
Arus dasar laut yang terus berputar mengocok sampah-sampah yang terkumpul di lokasi itu semakin lama semakin menumpuk dan meluas sampai mencapai ribuan mil. Namun, karena tak terlihat kasatmata, tempat pembuangan sampah tersebut nyari tidak diketahui semua orang. Demikian yang dilansir Kompas dari Situs GeoWeek yang peduli pada kelestarian lingkungan hidup.
Disebutkan hampir 90 persen sampah yang terbuang ke lokasi itu berasal dari daratan dan terbawa oleh aliran sungai ke laut. Jenis sampah yang menumpuk di dasar laut lautan itu sebagian besar adalah plastik, alas kaki, kantong plastik dan berton-ton mainan anak-anak. Timbunan sampah ini mengancam kehidupan binatang laut, khususnya penyu laut yang sering mati sia-sia karena terperangkap dalam sampah kantong plastik.
Meskipun kini sampah plastik perlahan mulai berkurang, tetap saja mematikan. Lihatlah burung-burung laut sulit membedakan antara sobekan plastik dan telur-telur ikan. Memamah sobekan plastik dapat membuat burung-burung itu mati perlahan. Para ilmuwan yang sedang mempelajari tempat sampah yang ada di Samudra Pasifik saat ini juga tengah mengamati tempat sampah serupa di Samudra Atlantik. Mereka berharap dapat menemukan solusi mengurangi dampak yang mematikan tersebut.
Yang pasti hal ini memberi pelajaran kepada publik tentang daur ulang dan penggunaan material yang sedikit mungkin mengancam lingkungan, merupakan upaya pencegahan terpenting. Tentu saja kita menginginkan kondisi air laut tetap jernih bebas dari polusi sehingga kehidupan binatang laut tetap lestari keberadaannya dan manusia pun bisa menggunakan air laut untuk sarana berekreasi sebagaimana terlihat seorang penyelam wanita tengah menyelam di kejernihan air laut Kepulauan Maldives sebagaimana terpampang di header blog ini.
Sumber : GeoWeek.
Read More..Usaha budidaya ikan biasanya akan menunggu hasil panen sampai ikan berukuran besar agar dapat dipasarkan. Tapi berbeda dengan usaha budidaya ikan yang dilakukan sebagian warga desa Cibeber Jawa Barat ini. Bagi warga Cibeber, ikan seukuran ibu jari saja sudah dapat dijual ke pasar-pasar dan restoran di sekitar Cianjur. Tentu saja ikan kecil ini diolah dan disajikan dalam bentuk kemasan. Berikut ini laporan Rekan Nursidik dari Televisi Jawa Barat dalam segmen asli Indonesia.
Usaha budidaya ikan balita di jalan Didi Prawira Kusuma, desa Cibeber Cianjur Jawa Barat oleh pemilik usaha sengaja membudidayakan anak-anak ikan mas dan nila untuk bisa langsung dijual ke pasar tradisional maupun ke restoran bahkan ke minimarket dalam bentuk kemasan siap saji. Usaha ini tidak harus menunggu panen ikan yang memakan waktu berbulan-bulan sejak bibit ditaburkan ke kolam penampungan.
Pemilik usaha Iyan Solihin mengaku bisa panen dua kali sehari. Ikan yang dipanen lalu dibersihkan isi perutnya hingga bersih. Setelah dibersihkan ikan langsung dibungkus dalam plastik dan pembeli bisa memasaknya segera. Para pelanggan ikan balita juga dapat langsung menggorengnya dengan tambahan bumbu penyedap.
Harga per kilo tiga puluh lima ribu rupiah untuk ikan kecil basah. Sedangkan untuk ikan balita goreng dijual dua puluh ribu rupiah per kemasan plastik. Untuk pemasaran pemilik usaha tidak mengalami kesulitan karena sudah mempunyai pelanggan tetap seperti restoran, rumah makan tradisional khas Sunda, perusahaan katering dan pasar tradisional seputar Cianjur.
Yang menggembirakan penjualan ikan balita ini tidak saja di Cianjur saja. Pemasaran ikan balita sudah sampai wilayah Jabodetabek dan Bandung. Pemilik usaha ini mengaku dalam sebulan mampu meraup omset penjualan sampai dua ratus juta sampai tiga ratus juta rupiah. Suatu usaha skala kecil dari masyarakat desa yang mampu memperdayakan masyarakat sekitar desa agar bisa bekerja dengan penghasilan tetap. Yang menjadi perhatian saat ini adalah ketersediaan bibit ikan balita setiap saat untuk mengisi kolam penampungan.
Read More..