

Mitch Joel, pakar pemasaran digital dalam buku Six Pixels of Separation yang ditulisnya menjelaskan, pada dasarnya setiap manusia itu dihubungkan satu dengan lainnya. Keterhubungan umat manusia di dunia semakin mewujud saat media sosial dan situs pertemanan lainnya telah menjadi bagian gaya hidup warga dunia. Tengok saja fenomena facebook, twitter, yahoo groups. Bagaimana seseorang dapat melakukan personal branding pencitraan pribadi melalui media sosial tadi , buku itu juga dapat menjelaskan mengapa para ibu di AS bahkan mungkin di Indonesia yang sudah melek internet...sangat berkeinginan memasang foto anak-anak atau bayi mereka yang baru saja dilahirkan ke internet.
Hal ini dilakukan bukan semata sebagai pencitraan pribadi bagi anak mereka tetapi sebagai hal untuk berbagi kebahagiaan saja melalui teknologi informasi yang bisa dilakukan pertama kali saat bayi mereka lahir di tempat persalinan. Yang harus diingat...masih menurut Smith bahwa ada juga effek negative menyimpan dan memajang foto anak-anak mereka ke dalam internet. Jika anak mereka protes di saat mereka telah dewasa dan keberatan foto dirinya dipasang di internet, maka satunya jalan ya menghapus file foto mereka di internet. Kejadian ini boleh saja terjadi di belahan dunia barat dimana privasi menjadi satu-satunya cara yang tidak boleh diganggu orang lain.
Yang harus diperhatikan saat memasang foto diri anak ke dalam internet adalah kemungkinan kejahatan melalui internet ( cyber crime ) terhadap bayi merah yang baru saja dilahirkan atau anak-anak yang sedang lucu-lucunya, yang memungkinkan terjadinya penculikan atau kejahatan seksual terhadap anak-anak yang fotonya terpasang jelas di internet. Jangan karena ingin bahagia tiada tara lalu seorang ibu buru-buru mengunggah foto bayi mereka yang baru saja dilahirkan atau foto anak-anak yang sedang lucu-lucunya lalu lupa akan ekses negative yang mungkin akan menimpa anak mereka jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Bagi Smith sendiri tidak terlalu mengkhawatirkan bahaya memasang atau berbagi foto anak secara on line. Tetapi bagi orang tua penting untuk mempertimbangkan bahwa bayi mereka suatu hari kelak akan jadi anak baru gede dan menjadi remaja, yang mungkin mempunyai masalah dengan foto mereka yang dipasang di internet. Karena itulah riset AVG mendorong perlunya orang tua mengatur privasi di profil situs jejaring sosial. Tidak hanya di Facebook, tetapi situs lain seperti You Tube, Flickr dan Picasa. " Semua situs jejaring sosial tersebut memiliki pengaturan privasi yang dapat melihat atau mengaksesnya. Selalu saja ada kemungkinan bahwa seseorang dengan akses yang dimilikinya dapat menyalin, menyimpan atau meneruskan apa pun yang Anda unggah," ujar Smith.
Sebelum terlambat alangkah lebih baik mengatur privasi di situs pertemanan Anda sehingga hanya orang-orang tertentu sajalah yang bisa mengakses foto anak-anak mereka. Kesimpulannya memasang foto buah hati di situs jejaring sosial seperti Facebook bisa berdampak positif ataupun negative. Tentunya yang kita harapkan semua adalah sisi positif saja yang terjadi dari pemasangan foto si buah hati. Namun kewaspadaan harus selalu dikedepankan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan menimpa si buah hati hanya gara-gara foto dirinya terpampang jelas di internet.
Sumber : Teropong Komunikasi Kompas oleh Pepih Nugraha. ( diedit ).
Read More..Pernahkan anda yang sering berselancar di internet sering menemukan blog yang semata menulis buku harian seputar diri sendiri beserta keluarganya yang dilengkapi foto diri khususnya foto diri si buah hati yang baru saja lahir ke dunia ini? Banyak blog yang menulis kegiatan harian keluarganya dilengkapi dengan foto diri si pemilik blog hanya sekedar untuk menunjukkan jati dirinya bahwa ia perlu tampil beda. Janganlah berharap tampil beda itu bisa dimuat dalam space koran atau majalah seandainya tidak ada wartawan yang menulis profil dirinya lalu memajang fotonya dan memuat berita dirinya dalam koran tempat wartawan itu bekerja.
Tapi sekarang jaman sudah berubah. Ada wahana blog atau website yang bisa mengakomodasi profil dirinya begitu gampang dimuat di blog pribadi sehingga orang lain bisa tahu dalam hitungan detik ketika profil dirinya di postingkan. Dengan ngeblog anda sudah menjadi publisher, redaktur, nara sumber, wartawan on line yang bisa menerbitkan tulisan beserta gambar dengan menyebutkan nara sumber seandainya tulisan dalam blog anda itu pernah dimuat media lain dan ditulis orang lain pula. Termasuk juga ngeblog menceritakan kehadiran anggota keluarga baru dalam keluarga yang ditandai telah lahirnya si buah hati dengan selamat lengkap dengan foto diri si buah hati yang masih orok .
Dengan kata lain memajang atau menulis profil diri sendiri, keluarga dan kerabat dekat di blog atau situs jejaring sosial semacam facebook, twitter, yahoo group diperbolehkan tetapi ada pula yang berpendapat bahwa tindakan itu dianggap narsis. Tindakan hanya sekedar menunjukkan jati diri sendiri ke orang lain sebagai hal berlebihan. Akan tetapi , riset terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 92 persen anak-anak umur dua tahun saat ini sudah mejeng gambarnya secara on line di internet.
Riset yang dilakukan perusahaan pengamanan AVG ini diulas oleh Larry Magid di CNet.com. Magid seorang jurnalis teknologi dan penasihat penggunaan internet secara aman, khususnya memproteksi anak dari pengaruh buruk internet. Riset selanjutnya menunjukkan sepertiga ibu telah memuat foto bayi mereka sesaat dilahirkan ke dalam internet. Penelitian ini mengambil responden ibu-ibu di negara Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Spanyol, Kanada, Australia, Selandia Baru dan Jepang selama sepekan pada 27 September lalu. Sayang seribu sayang responden dari penelitian ini tidak menyasar ibu-ibu di Indonesia.
Masih menurut hasil penelitian ini, orang tua di Amerika Serikat lebih sering berbagi foto bayi di internet dibandingkan di negara lain. Sebanyak 73 persen orang tua di Inggris, Spanyol, Perancis, Jerman dan Italia mengatakan bersedia berbagi foto bayi mereka di internet. Riset selanjutnya mengumumkan bahwa kelahiran bayi yang fotonya dipajang di internet ini sebagai kelahiran anak-anak digital, foto dirinya sudah dipasang ke dalam internet 6 bulan sejak kelahirannya. Itulah salah satu cara kebanggaan seorang ibu memajang foto bayinya ke internet lewat situs pertemanan sosial facebook, twitter atau pun blog pribadi.
Yang menjadi pertanyaan adalah memajang foto buah hati di situs jejaring sosial itu bisa berdampak positif atau negative? Dari sisi positif karena mengungkapkan kebahagiaan memiliki momongan baru bisa dilakukan dengan mudah, gratis tanpa perlu pasang iklan serta cepat. Tujuannya kerabat, sahabat langsung bisa tahu telah lahirnya buah hati melalui facebook atau MMS di ponsel pintar. Memajang foto anak yang baru lahir ke dunia bisa disebut menorehkan jejak sejarah kemanusiaan bahwa telah bertambah satu anggota umat manusia lahir ke dunia.
Sebaliknya hampir mustahil ada orang yang berani memasang foto kematian anggota keluarganya di Facebook. Foto kematian anggota keluarga bisa disebut sebagai lara atau kesedihan biasanya disimpan saja dalam ingatan atau hati tidak untuk dibagikan kepada orang lain apalagi lewat situs pertemanan sosial. Namun kebalikan dari lara yaitu bahagia seperti mendapatkan anak yang baru lahir layak dishare-kan kepada kerabat dan keluarga dekat dan jika kurang puas bisa dipublikasikan kepada khalayak luas lewat situs pertemanan. ( bersambung )
Sumber : Teropong Telekomunikasi Kompas oleh Pepih Nugraha ( diedit ).
Read More..Kisah percintaan klasik karya William Shakespeare yang terkenal Romeo dan Juliet akan dirilis di situs jejaring sosial Twitter dan Youtube. Dalam situs ini karakter akan dikembangkan melalui postingan pemain yang berinteraksi dengan para pengikut atau follower. Salah satu karya William Shakespeare yang terkenal, Romeo Juliet akan dipublikasikan di situs jejaring Twitter dan Website Multimedia Youtube dengan versi baru, abad ke 21.
Percobaan proyek dengan judul Such Tweet Soorow ini merupakan kerjasama antara perusahaan Royal Shakespeare dan Mudlark, sebuah perusahaan produksi hiburan pada telepon seluler. Penyedia layanan telah menyusun narasi komtemporer berdasarkan tragedi asli dan pemain akan berimprovisasi melalui Tweet yang dapat dilihat pada Website www.suchtweetsorrow.com
Twitter ini akan diproduksi selama 5 minggu di mana pemain diharapkan dapat mengembangkan karakternya melalui tweet dan memungkinkan berinteraksi dengan pengikut atau follower mereka. Pengembangan karakter akan dibimbing oleh alur cerita yang ada serta buku harian petualangan mereka. Tokoh yang memerankan Romeo, James Barret menuturkan karakter Romeo hidup di zaman modern. Karakter Juliet yang dimainkan Charlotte Wakefield, mengungkapkan sangat susah membedakan dirinya dengan karakter Juliet di Twitter.
Juliet modern ini telah aktip menjadi anggota Twitter dengan nama Juliet16. Direktur artistik RSC, Michael Boyd mengatakan proyek ini berharap dapat mendekatkan aktor dengan para penggemar Shakespeare melalui kecanggihan teknologi yang ada. Kisah cinta Romeo Juliet ini berawal dari perseteruan dua keluarga, Montague dan Capulet yang berawal dari sebuah kecelakaan mobil fatal di sebuah pasar di Inggris pada tahun 2000.
Sumber : Reuters/ Twitter Play.
Read More..