Pernahkan Anda menonton Sendratari Ramayana di Prambanan yang mementaskan cerita Shinta Obong? Bagi penggemar cerita wayang tentu sudah tidak asing lagi dengan cerita menegangkan itu. Dikisahkan bagaimana tidak menegangkan kalau Shinta yang masih mencintai Rama harus diobong dulu sebelum bertemu Rama.
Bermain dengan api tentu taruhannya nyawa. Shinta yang telah dibebaskan dari cengkeraman Rahwana harus membuktikan seratus persen kesuciaannya dengan terlebih dulu dibakar. Jika ternyata Shinta sudah digauli Rahwana maka api akan dengan mudah membakarnya. Sebaliknya jika dalam cengkeraman Rahwana, Shinta tidak di apa-apakan maka api tidak akan mampu membakarnya.
Singkat cerita peperangan antara pasukan Rama melawan pasukan Rahwana yang telah menewaskan satria antara kedua pasukan itu, dimenangkan oleh pihak Rama. Kemenangan Pasukan Rama tentu saja atas jasa Sugriwo dengan pasukan ribuan keranya yang berhasil masuk negara Alengka. Di bawah komando Hanoman si kera putih sakti yang bisa terbang, akhirnya Rahwana berhasil ditewaskan setelah tubuhnya ditimbun gunung oleh Hanoman.
Shinta lepas dari cengkeraman Rahwana kembali ke pangkuan Rama. Tentu saja Rama gembira mendapatkan kembali isterinya itu. Untuk membuktikan bahwa Shinta belum di apa-apa kan Rahwana, maka Rama meminta Shinta untuk membakar diri. Shinta tidak menolak permohonan Rama demi cintanya kepada sang suami. Sekali pun resiko membakar diri taruhannya nyawa, Shinta berani berkorban untuk mati.
Jika api ternyata menewaskan Shinta, Rama tidak menyesal kehilangan isterinya. Dewata di Khayangan Jonggringsaloko tentu saja tidak tinggal diam melihat adegan menegangkan ini. Berkat pertolongan dewata api yang sejatinya panas dan bisa menewaskan siapa saja, berubah menjadi dingin. Shinta berhasil keluar dari kobaran api dengan tubuh utuh, wajah berseri-seri kecantikannya semakin bertambah sehingga membuat Rama pangling.
Itu cerita dalam dunia pewayangan yang penuh dengan adegan peperangan. Perang melawan angkara murka dan tentu saja akhirnya kebatilan akan kalah oleh kebenaran. Rama berhasil menang perang dan memboyong kembali Shinta ke dalam pelukannya. Lain cerita wayang lain pula cerita keseharian saat ini.
Dalam cerita sehari-hari banyak juga orang yang membakar diri yang akhirnya tewas setelah tubuhnya terbakar api. Salah satunya seorang biksuni Tibet membakar diri sampai mati hari Kamis ( 3/11 ) di China barat daya. Menurut kantor berita Xinhua, pelaku bakar diri adalah etnis Tibet yang merupakan orang ke sebelas tahun ini yang membakar diri.
Di sebuah kawasan yang telah menjadi pusat penentangan terhadap kontrol China yang keras, Qiu Xiang ( 35 ) membakar dirinya di sebuah perempatan jalan di daerah Dawu, Ganzi, Propinsi Sichuan. Kantor berita resmi mengutip pemerintah setempat, menyatakan biksuni itu berasal dari desa Tongfoshan. Tidak dijelaskan alasan dia membakar diri sampai mati.
Pemerintah setempat telah melakukan penyelidikan. Pekan lalu seorang biksu Tibet juga menyiram dirinya dengan bahan bakar minyak. Peristiwa ini kembali terulang di Ganzi, Sichuan. Sebagian besar orang di Ganzi dan Aba, tempat terjadinya delapan kali perbuatan bakar diri, berprofesi sebagai gembala dan petani dari etnis Tibet.
Pelaku bakar diri merasa bahwa dirinya merupakan bagian warga Tibet yang lebih luas. Pemimpun spiritual Tibet, Dalai Lama, sebagaimana dikutip Reuters menyangkal menganjurkan kekerasan kepada warganya. Dia mengatakan hanya menginginkan otonomi sebenarnya bagi negerinya.
Sumber : Reuters/DI.
Read More..Kalangan ilmuwan Kuba menggiatkan riset medis untuk mengembangkan ramuan tradisional racun kalajengking sebagai obat anti kanker. Demikian prolog artikel bersumber dari Garit 7 April 2010 lalu sebagaimana sehat dengan kundalini reiki kutip untuk blog kesehatan alami. Dikatakan Kementerian Kesehatan dan Kalangan Pakar Kuba juga mengundang peneliti Amerika Serikat dan para pengusaha guna mengembangkan obat yang diyakini dapat mengobati penyakit kanker stadium akhir.
Dalam keterangan pers di Havana Kuba, Dokter Jose Fraga dari Laboratoriom Farmasi dan Biologi Kuba, mengungkapkan racun kalajengking biru dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Dokter Fraga juga telah mendaftarkan obat tradisional Kuba yang dikenal dengan nama Escozul tersebut untuk penjualan internasional. Peneliti terakhir terhadap 8 ribu pasien kanker hasil positip.
Racun kalajengking tidak berbahaya bagi manusia serta tidak menimbulkan efek samping jika diberikan secara oral. Obat tradisional anti nyeri itu sesungguhnya telah digunakan secara luas oleh warga Kuba, namun pertama kali dikembangkan di tahun 1990-an di Provinsi Guantanamo. Effektifitas obat dari racun kalajengking kini semakin meningkatkan penelitian akademis terhadap kalajengking. Pihak berwenang Brasil juga mengundang peneliti asing untuk bekerja sama dengan Kuba mengembangkan anti kanker.
- Tahun 1998 saja, Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) mengkaji dan menyetujui peredaran empat obat berbahan dasar racun, baik bisa ular, kalajengking maupun kerang kerucut, yaitu Aggrostatin untuk mengobati angina, Captopril untuk tekanan darah tinggi, Conotoxin untuk anestesi saraf tulang belakang, serta Chlorotoxin untuk pengobatan tumor otak.
Kalajengking pun mempunyai ceritera tersendiri. Dikisahkan ada seorang gembala India yang kebetulan melihat seekor kalajengking mengambang berputar-putar di air. Ia memutuskan untuk menolong kalajengking itu keluar dengan mengulurkan jarinya, tetapi kalajengking itu menyengatnya.
Orang itu masih tetap berusaha mengeluarkan kalajengking itu keluar dari air, tetapi binatang itu lagi-lagi menyengat dia. Seorang pejalan kaki yang melihat kejadian itu mendekat dan melarang orang India itu menyelamatkan kalajengking yang terus saja menyengat orang yang mencoba menyelamatkannya.
Tetapi orang India itu berkata, “Secara alamiah kalajengking itu menyengat. Secara alamiah saya ini mengasihi. Mengapa saya harus melepaskan naluri alamiah saya untuk mengasihi gara-gara kalajengking itu secara alamiah menyengat saya?” Racun kalajengking ternyata dapat dipakai sebagai pembersih tumor. Para peneliti menggunakan bahan sintetisnya sebagai pembawa yodium yang bersifat radioaktif ke sel-sel tumor otak yang masih tertinggal setelah pembedahan.
Sejauh ini teknik ini telah diuji pada 18 pasien dan percobaan medis masih terus dilakukan, hasilnya sementara menunjukkan bahwa peruses pengobatan ini dapat diterima tubuh dan efektif. Analisis menunjukkan bahwa sifat radio aktif akan hilang secara keseluruhan setelah 24 jam zat disuntikkan. Radiasi tersebut juga bekerja disekitar luka operasi saja sehingga tidak merusak sel-sel otak yang sehat.
BISA dan racun tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerja bisa dan racun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Di antaranya untuk penghilang rasa sakit, pengencer darah, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, antikejang bahkan diteliti untuk anti-HIV. Pemanfaatan bisa dan racun itu dipaparkan oleh Prof P Gopalakrishnakone PhD DSc dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore dalam the 2nd National Symposium “The Recent Advances in Critical Care Management of Trauma Cases” yang diselenggarakan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Sabtu (19/7) dua tahun silam.
Sumber : Garit/Cuba - Medicine/www.ceritakan.com
Read More..