Tampil rapi di depan umum dan mampu memikat setiap pasang mata tentu menjadi idaman setiap orang. Wajar kalau untuk mencapai keinginan ini setiap wanita dengan berbagai macam cara, mulai dari ujung rambut hingga ujung jari kaki berusaha merawat dirinya agar tampil mempesona. Namun tanpa disadari bahwa setiap fisik seorang wanita di dunia ini akan selalu ada perbedaan derajad kesehatan satu satu sama lain sangat berbeda.
Setiap siklus hidup wanita akan melewati fase perubahan fisik yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Sebut saja menstruasi, mengandung, melahirkan hingga monopouse. Tentu saja perubahan fisik itu memiliki resiko untuk menimbulkan gangguan kesehatan. Karena itu menjaga kesehatan sangat perlu dilakukan oleh setiap wanita. Salah satunya dapat memulai dengan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Topik utama dalam menjaga kesehatan wanita adalah organ reproduksi menyangkut kanker leher rahim dan penyakit osteoporosis. Pasalnya kanker leher rahim dan osteoporosis sering ditemukan pada wanita dewasa dan merupakan penyakit yang berbahaya karena kalau tidak ditangani dengan cepat akan mengiring pada kematian. Di sisi lain penyakit ini dapat dicegah dengan deteksi dini. Sedangkan untuk osteoporosis atau pengeroposan tulang kerap dialamai oleh wanita paska monopause yang sangat mengganggu aktivitasnya.
Pemeriksaan kesehatan wanita utamanya masalah kesehatan Premarital ( sebelum menikah ) dan Prenatal ( awal kehamilan ). Kedua tema pemeriksaan ini mutlak dilakukan oleh calon ibu muda dan ibu yang sudah mempunyai anak menjelang dan sesudah masa monopause datang. Pemeriksaa premarital merupakan sekumpulan pemeriksaan laboratoriom untuk memastikan status kesehatan kedua calon mempelai. Tujuannya untuk mendeteksi adanya penyakit menular, menahun atau penyakit keturunan yang dapat mempengaruhi kesuburan pasangan maupun kesehatan janin.
Masuk tahap pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mendeteksi risiko gangguan kesehatan pada ibu hamil yang dapat berakibat buruk pada janin. Selain pemeriksaan kesehatan janin yang dikandung ibu muda, pemeriksaan Pap Smear mutlak juga dilakukan pada diri seorang wanita. Selain kanker leher rahim, osteoporosis atau pengeroposan tulang patut pula diwaspadai oleh kaum wanita sejak awal. Cara yang baik adalah mulailah dari sekarang ini berusaha hidup sehat dengan baik. Anda bisa mulai hidup sehat ala medis kedokteran dipadu dengan kesehatan alami. Cara alami dan tidak mengandung resiko dari gangguan penyakit yang disebutkan di atas adalah menjalankan hidup sehat dengan bermeditasi secara rutin baik ketika Anda masih gadis, sudah berumah tangga dan mencapai manula. Dengan mengenal dan belajar praktek meditasi inner beauty dan penguatan aura tubuh fisik setiap wanita akan selalu memancarkan aura positip dalam hidup ini.
Sumber : Inspiratorial Kompas ( diedit ).
Read More..Kalangan ilmuwan Kuba menggiatkan riset medis untuk mengembangkan ramuan tradisional racun kalajengking sebagai obat anti kanker. Demikian prolog artikel bersumber dari Garit 7 April 2010 lalu sebagaimana sehat dengan kundalini reiki kutip untuk blog kesehatan alami. Dikatakan Kementerian Kesehatan dan Kalangan Pakar Kuba juga mengundang peneliti Amerika Serikat dan para pengusaha guna mengembangkan obat yang diyakini dapat mengobati penyakit kanker stadium akhir.
Dalam keterangan pers di Havana Kuba, Dokter Jose Fraga dari Laboratoriom Farmasi dan Biologi Kuba, mengungkapkan racun kalajengking biru dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Dokter Fraga juga telah mendaftarkan obat tradisional Kuba yang dikenal dengan nama Escozul tersebut untuk penjualan internasional. Peneliti terakhir terhadap 8 ribu pasien kanker hasil positip.
Racun kalajengking tidak berbahaya bagi manusia serta tidak menimbulkan efek samping jika diberikan secara oral. Obat tradisional anti nyeri itu sesungguhnya telah digunakan secara luas oleh warga Kuba, namun pertama kali dikembangkan di tahun 1990-an di Provinsi Guantanamo. Effektifitas obat dari racun kalajengking kini semakin meningkatkan penelitian akademis terhadap kalajengking. Pihak berwenang Brasil juga mengundang peneliti asing untuk bekerja sama dengan Kuba mengembangkan anti kanker.
- Tahun 1998 saja, Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) mengkaji dan menyetujui peredaran empat obat berbahan dasar racun, baik bisa ular, kalajengking maupun kerang kerucut, yaitu Aggrostatin untuk mengobati angina, Captopril untuk tekanan darah tinggi, Conotoxin untuk anestesi saraf tulang belakang, serta Chlorotoxin untuk pengobatan tumor otak.
Kalajengking pun mempunyai ceritera tersendiri. Dikisahkan ada seorang gembala India yang kebetulan melihat seekor kalajengking mengambang berputar-putar di air. Ia memutuskan untuk menolong kalajengking itu keluar dengan mengulurkan jarinya, tetapi kalajengking itu menyengatnya.
Orang itu masih tetap berusaha mengeluarkan kalajengking itu keluar dari air, tetapi binatang itu lagi-lagi menyengat dia. Seorang pejalan kaki yang melihat kejadian itu mendekat dan melarang orang India itu menyelamatkan kalajengking yang terus saja menyengat orang yang mencoba menyelamatkannya.
Tetapi orang India itu berkata, “Secara alamiah kalajengking itu menyengat. Secara alamiah saya ini mengasihi. Mengapa saya harus melepaskan naluri alamiah saya untuk mengasihi gara-gara kalajengking itu secara alamiah menyengat saya?” Racun kalajengking ternyata dapat dipakai sebagai pembersih tumor. Para peneliti menggunakan bahan sintetisnya sebagai pembawa yodium yang bersifat radioaktif ke sel-sel tumor otak yang masih tertinggal setelah pembedahan.
Sejauh ini teknik ini telah diuji pada 18 pasien dan percobaan medis masih terus dilakukan, hasilnya sementara menunjukkan bahwa peruses pengobatan ini dapat diterima tubuh dan efektif. Analisis menunjukkan bahwa sifat radio aktif akan hilang secara keseluruhan setelah 24 jam zat disuntikkan. Radiasi tersebut juga bekerja disekitar luka operasi saja sehingga tidak merusak sel-sel otak yang sehat.
BISA dan racun tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerja bisa dan racun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Di antaranya untuk penghilang rasa sakit, pengencer darah, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, antikejang bahkan diteliti untuk anti-HIV. Pemanfaatan bisa dan racun itu dipaparkan oleh Prof P Gopalakrishnakone PhD DSc dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore dalam the 2nd National Symposium “The Recent Advances in Critical Care Management of Trauma Cases” yang diselenggarakan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Sabtu (19/7) dua tahun silam.
Sumber : Garit/Cuba - Medicine/www.ceritakan.com
Read More..