Niatnya
sih berpromosi agar barang dagangan miliknya laku, maka perempuan yang
diidentifikasi sebagai Najileh Cekoc Sengbloh ( 24 ) malah berurusan
dengan pihak berwajib di negaranya. Pasalnya ia menjual barangnya lewat
layanan pesan singkat yang alamat calon pembelinya belum jelas siapa
orangnya dan berprofesi sebagai apa. Singkat kata dia berpromosi tetapi
ternyata jatuh ke target pasar yang salah.
Keberadaan pasar terapung di Banjarmasin yang sudah dikenal hingga mancanegara, seakan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik ataupun asing. Mereka sangat terkesan akan suasana pasar terapung tersebut mengingat keunikan transaksi antara penjual dan pembeli dilakukan di atas perahu. Di areal transaksi ini semua barang dagangan kebutuhan sehari-hari ada dan tersedia. Semua kegiatan pasar terapung ini dimulai sejak subuh hingga siang hari.
Demikian yang terlihat di Sungai Martapura 25 September 2010 kemaren. Semua kegiatan berawal ketika pagi tiba seiring terbitnya matahari di ufuk timur. Ratusan jukung atau perahu kecil yang biasa mangkal di depan Kantor Gubernur Kalimantan Selatan setiap hari, mulai bergerak ke sana kemari seiring terpaan ombak kecil yang menyentuh lambung perahu. Para pedagang di perahu mulai menjajakan dagangan berupa jeruk, pisang, durian, semangka, kue lapis legit dan aneka sayur hingga soto banjar yang menjadi ciri khas kuliner masyarakat setempat.
Semua berkumpul di Sungai Martapura dalam perhelatan festival Pasar Terapung tahun 2010. Kegiatan ini menjadi agenda pariwisata kota Banjarmasin yang mendapat perhatian warga setempat. Selain penduduk lokal Banjarmasin yang menyaksikan atraksi pasar terapung, ada juga pengunjung yang datang dari Jakarta dan Surabaya.
Eksotisme pasar terapung sebagai tradisi masyarakat Banjar tempo dulu perlu terus dilestarikan. Kegiatan yang terpotret dalam festival pasar terapung 2010 ini mengingatkan masyarakat Banjarmasin tempo dulu yang lebih akrab dengan Rumah Lanting yang sekarang ini mulai hilang, maka festival pasar terapung 2010 kali ini diharapkan menjadi upaya pelestarian budaya Banjar saat ini. Para pedagang yang terlibat dalam kegiatan ini berharap pemerintah daerah mampu berperan menjadi bapak asuh untuk pembinaan para pedagang yang semakin banyak jumlahnya dari hari ke hari.
Pasar terapung sebagai objek wisata dan ikon budaya warga Banjarmasin tentu saja sudah lama menjadi kebanggaan warga setempat. Bagi para pedagang apa pun yang dijual di atas perahu, harus terjual habis demi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Selain pasar terapung yang ada di Kuin Banjarmasin, pasar terapung di Lok Baintan Kabupaten Banjar pun perlu pembinaan para pedagangnya agar tetap eksis dan terus berdagang setiap hari. Tentu saja keberadaan pasar terapung sebagai pasar tradisional perlu terus dilestarikan dan tidak punah seiring berkembangnya pasar tradisionil dan modern di darat.
Photo by : Hasanzainudin.
Read More..
Sahabat blog ku yang tercinta...menjelang detik-detik Proklamasi Kemerdekaan yang ke-64 dalam kesempatan ini sehat dengan reiki ajak Anda semua tetirah ke daerah Perbukitan Menoreh di daerah Purworejo Jawa Tengah. Di daerah ini saudara akan menjumpai satu-satunya pasar hewan kambing peranakan Etawa dan P-E yang ada di Pasar Pandanrejo. Kesibukan pedagang di pasar hewan ini tak kalah pentingnya dengan kesibukan warga masyarakat lainnya yang sedang menyambut hari kemerdekaan republik ini yang akan jatuh hari Senen esok.
Kesibukan pasar hewan di Perbukitan Menoreh menjadi transaksi jual beli kambing sudah ada sejak tahun 1980. Di tempat ini antara lima ratus hingga seribu kambing peranakan etawa dari penjuru Kabupaten Purworejo, Kulon Progo bahkan dari Kabupaten Sleman dan Wonosobo memadati pasar hewan khusus kambing P-E. Transaksi penjualan kambing setiap hari Sabtu di pasar Pandanrejo Kecamatan Kaligesing Purworejo bisa mencapai puluhan juta rupiah dari kambing seharga 350 ribu rupiah hingga 25 juta rupiah.
Desa Pandanrejo di mana pasar ini berada sejak tahun 1980 telah ikut memetik hasil dari bea masuk pasar sebesar seribu rupiah per ekor kambing ternyata cukup memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat setempat. Tidak itu saja bahkan Pamong Desa bisa memasukkan kas desa dari transaksi jual beli kambing per hari kerja pasaran. Di sini puluhan pedagang dari luar kota yang datang berorombongan dan menyewa kendaraan sendiri bebas melakukan transaksi jual beli kambing.
Peminat kambing jenis Etawa atau P-E datang dari daerah Wonosari Gunung Kidul, Boyolali bahkan daerah Jawa Timur. Transaksi tidak terbatas dalam areal pasar saja, tetapi di luar pasar pun terjadi transaksi khususnya di rumah penduduk setempat. Untuk transaksi kambing perternakan Etawa Kategori B menurut peternak setempat yaitu Bapak Sarman, mengatakan bahwa berbisnis kambing P-E lebih menguntungkan katagori B atau A.
Untuk transaksi jenis kambing P-E katagori A harus dilengkapi ijin tertulis Bupati Purworejo yang pengurusan ijinnya dapat diurus belakangan. Nah...apakah anda tertarik berkunjung ke pasar ini dan ingin menjadi peternak kambing tak ada salahnya datang ke pasar ini. Siapa tahu hoki kambing menyertai Anda.Sehat berkat reiki menulis dari Kaligesing Purworejo.
Gambar : dokumentasi www.gunungkelir.com
