ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label buruh batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buruh batik. Tampilkan semua postingan

HOMELESS IN JAPAN

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 07 Februari 2010 0 komentar

Sungguh hati membuat trenyuh melihat para gelandangan mengais rejeki dengan jalan meminta-minta. Tidak ada yang disalahkan dalam kondisi ini mengingat jumlah kaum miskin di negara tercinta kita saat ini semakin banyak di mana lapangan pekerjaan semakin langka dan susah didapat. Minggu Pagi 31/01/10 lalu suasana Tempat Pelelangan Ikan KUD Sarana Mino Desa Tasik Agung Rembang masih sepi dari kegiatan bongkar ikan dari kapal.



Dalam kondisi masih sepi ada beberapa buruh angkut ikan yang sudah bekerja. Salah seorang buruh angkut ikan yang kita temui untuk perbincangan seputar masalah perikanan adalah Mas Bahrudin. Pagi buta ia telah meninggalkan desanya dan bekerja. Demi sesuap nasi ia rela meninggalkan desanya di Wilayah Pamotan Lasem untuk bekerja serabutan sebagai kuli angkut ikan. Ia pantang menjadi pengemis dan berusaha bekerja apa saja asalkan halal.



Dia pernah bekerja di kawasan Industri Pulau Gadung Jakarta beberapa tahun silam. Karena krisis moneter dan pengurangan besar-besaran jumlah karyawan pabrik tempat dia bekerja, akhirnya dia terkena PHK. Suatu pukulan telak baginya mengingat upah sebagai buruh yang biasa dia kirimkan ke keluarga di kampung halaman setiap bulan mulai saat ini sudah tidak dia dapatkan kembali. Berbagai usaha telah dia lakukan untuk menyambung hidup mulai dari tukang batu, menjual koran hingga menjadi pelayan warung tegal di bilangan Pulau Gadung. Namun upah yang dia terima tidak seberapa dan kerasnya hidup di Jakarta memutuskan ia pulang kampung ke Lasem.



Di desa ia mulai menata diri kembali. Tanah warisan dari orang tua yang tidak seberapa luasnya ia olah dan tanami dengan singkong, ubi jalar dan pepaya. Sambil menunggu panen ia menggelandang ke tempat pelelangan ikan dan bekerja serabutan menjadi buruh angkut ikan. Pendapatan yang tidak seberapa ini ia tabung dan sisihkan buat keluarga di rumah. "Aku sudah biasa hidup keras di Jakarta Mbak, jadi tidak kaget bekerja seperti ini lagi. Yang aku khawatirkan dengan adanya perjanjian perdagangan bebas Asean dan China tahun 2010 ini akan banyak industri menengah yang gulung tikar. Akibatnya akan banyak terjadi lagi PHK masal seperti yang pernah aku alami saat di Jakarta dulu," katanya sambil menyeruput teh manis saat menemani kami berbincang di warung Soto depan Kantor Koperasi Unit Desa Sarana Mino. Lebih memprihatinkan lagi mudah-mudahan tidak banyak pengangguran di negeri kita ini.



Kalau kaum gelandangan di negara kita harus berjuang sendiri dengan cara mengemis dan meminta belas kasihan orang tidak demikian halnya dengan kaum gelandangan di negeri Matahari Terbit. Dampak krisis ekonomi berkepanjangan di Jepang mengakibatkan semakin banyak warga kehilangan pekerjaan dan sebagian menjadi gelandangan. Para gelandangan ini mendapat bantuan dari Organisasi Amal bernama Shinjuku Renkaru. Sekitar 430 gelandangan di Tokyo menerima bantuan makanan dan selimut tebal dari Organisasi Amal Shinjuku Renkaru Minggu 31/01/2010. Maklum saat ini Jepang sedang musim dingin. Para gelandangan antri selama beberapa jam untuk memperoleh nasi hangat yang dibagikan di dapur milik Shinjuku Renkaru.


Krisis ekonomi Jepang menyebabkan kaum muda ikut menggelandang menjadi pengemis.

Jumlah gelandangan di Jepang turun mencapai 15.000 orang di tahun 2009 dari 25.000 orang di tahun 2003.

Pengemis Jepang saat ini lebih banyak didominasi kaum muda korban phk.


Sebagian gelandangan mengatakan tahun 2009 dan awal 2010 merupakan masa yang paling sulit dalam kehidupannya. Jumlah gelandangan di Jepang sebenarnya turun dari 25.000 pada tahun 2003 menjadi 15.000 orang pada tahun 2009. Akan tetapi tipe orang orang yang menjadi gelandangan saat ini mengalami perubahan. Di masa lalu mayoritas gelandangan adalah orang tua, tetapi sekarang banyak warga usia muda dan produktif dalam kerja telah kehilangan pekerjaan yang menjadikan kaum muda ini memilih menjadi gelandangan.



Krisis ekonomi berkepanjangan dan lemahnya konsumsi dalam negeri menyebabkan semakin banyak warga kehilangan pekerjaan. Walau pun ekonomi Jepang telah mulai pulih dari resesi menyusul meningkatnya permintaan terhadap produksi Jepang di Asia, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan pemulihan ekonomi Jepang lebih lamban dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia.

Sumber Reuters: Homeless in Japan

Read More..

SENTRA PRODUKSI BATIK LAWEYAN SOLO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Kamis, 03 September 2009 4 komentar



Bila Anda berada di Solo jangan lupa berkunjung ke sentra batik di Kampung Batik Laweyan. Begitu pesan beberapa kawan kepada sahabatnya yang belum pernah datang ke Solo. Memang betul anjuran itu yang sebenarnya sudah sering sehat dengan reiki dengar dari sahabat baik itu di forum blog, milis ataupun di pertemuan rutin dalam keseharian kerja, di mana sahabat yang pernah datang ke Laweyan ini menceritakan pengalamannya saat berkunjung ke Kampung Batik Laweyan. Apa yang akan diceritakan kalau bukan soal batik.

Sebenarnya Kampung Batik Laweyan sudah terkenal sejak awal kemerdekaan republik ini. Bahkan jauh sebelum itu kampung Laweyan sudah mengukir sejarah dengan munculnya Serikat Dagang Islam ( SDI ) yang dibentuk oleh KH Samanhudi, salah satu saudagar batik terkemuka. Lewat SDI inilah nafas Islam menjadi bagian yang penting dalam perdagangan di Indonesia. Di wilayah ini pula berdiri bangunan Mesjid Laweyan yang konon dibangun pada tahun 1546 Masehi.

Secara geografis Kampung Batik Laweyan berada di Solo Barat dan Selatan Kota Solo. Kawasan ini sejak dulu terkenal sebagai sentra industri batik. Keberadaan sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tahun 1546 Masehi. Karena terkenal dengan produksi batiknya maka kampung ini segera menjadi ikon batik pedalaman khususnya di Pulau Jawa di samping batik pesisir produksi Pekalongan, Lasem, Cirebon dan Indramayu. Kampung ini secara cepat menjadi ikon melegenda dan memantapkan diri sebagai pusat kejayaan perkembangan seni batik di kota Solo.

Letak Kampung batik Laweyan sebelah timur berbatasan dengan Kampung Jagalan Bumi Laweyan. Sebelah selatan dibatasi Kali Jenes dan paling barat Kampung Kwanggan. Sebelah utara terdapat ruas jalan Dr. Rajiman yang membentang dari Pasar Jongke hingga Pasar Kabangan. Di ruas utama kampung Batik Laweyan ada jalan Sidoluhur yang diapit bangunan legendaris bertembok tinggi milik para saudagar batik yang pernah mendapat julukan Mbok Mase dan nDoro Nganten Kakung..

Para saudagar batik tadi membuat batik dengan menggunakan cap atau canting sebagai peralatan kerja. Dalam proses pembuatannya menggunakan lilin yang ditorehkan di kain putih. Lilin atau malam digoreskan menggunakan cap tembaga atau canting. Karena dibuat dengan cap maka dinamakan batik cap sedangkan yang menggunakan canting disebut batik carik atau batik tulis. Malam atau lilin ini melekat dikain putih lalu dalam proses pengerjaannya disertakan warna untuk memperindah corak motif batik.

Selama masa pembuatan hingga selesai dipasarkan melibatkan tenaga kerja dari penduduk sekitar Laweyan. Tenaga kerja ini disebut buruh batik. Upaya promosi selanjutnya melalui stiker yang ditempelkan di kain batik yang sudah jadi. Selanjutnya batik dipasarkan di toko batik atau dijual dalam partai besar di Pasar Klewer. Upaya promosi juga dilakukan untuk mengangkat citra batik diantaranya melalui brosur dan sekarang ini menggunakan media internet sehingga penduduk negara lain akan tahu keberadaan batik sebagai hasil karya adiluhung bangsa Indonesia khususnya budaya Jawa.

Hal ini ternyata tidak sia-sia ketika Unesco mengakui batik sebagai warisan budaya Indonesia. Melalui Unesco keberadaan batik telah mendapatkan tempat secara internasional. Adanya pengakuan ini berarti batik telah mendapatkan pasar luar negeri terbukti dengan banyaknya turis asing atau domestik yang berkunjung ke Kampung Batik Laweyan untuk berbelanja sekaligus melihat jalannya proses produksi batik.

Dari kalangan pengusaha pengakuan ini seharusnya direspon pemerintah dengan segera menerbitkan undang-undang yang melindungi para pengusaha batik. "Misalnya perlu ditunjukkan definisi batik yang sebenarnya. Jika prosesnya tidak menggunakan lilin bukan termasuk batik," tutur Widiarso, Pengurus Forum Kampoeng Batik Laweyan sebagaimana dikutip Joglosemar beberapa waktu lalu.
Jika hal itu dilakukan akan bermunculan industri-industri kreatif baru khususnya dalam pembuatan batik.

Di Kampung Klaseman tempat sehat bersama reiki menghabiskan waktu kecil hingga sekolah lanjutan atas penduduknya pun kebanyakan bekerja sebagai buruh batik. Ada yang bekerja sebagai tukang cap batik, tukang tolet, nglorot, buruh cuci batik dan pembatik kain tulis yang umumnya dikerjakan oleh ibu-ibu. Mereka bekerja di pabrik batik dan ada juga yang membawa bahan batik untuk di kerjakan di rumah masing-masing. Umumnya pekerja ini bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Terkadang malam hari ada juga yang bekerja lembur.

Tahun 1968 saat produksi batik meningkat ada seorang saudagar batik yang cukup dermawan mengijinkan penduduk sekitar untuk menonton televisi hitam putih setiap malam minggu di pendopo rumahnya dengan syarat ada yang mau membantu melipat kain batik yang belum jadi. Begitu pekerjaan melipat kain batik selesai barulah pesawat hitam putih ukuran 20 inchi dihidupkan. Penduduk ramai-ramai menonton film akhir pekan yang kalau itu TVRI menyiarkan Daktari, Flipper, Bonanza dan siaran iklan niaga. Di kampung itu baru ada 1 pesawat televisi hitam putih milik saudagar batik dan menjadi satu-satunya hiburan akhir pekan bagi penduduk sekitar pabrik batik.

Nah bila ingin mengenal lebih lanjut proses pembuatan kain batik, Anda tidak perlu membantu melipat kain batik sebagaimana ilustrasi di atas. Anda bisa langsung datang sambil mencoba membatik menggunakan canting. Pada lebaran tahun ini kunjungan wisatawan baik turis asing atau domestik diharapkan meningkat ke Kampung Batik Laweyan. Di kampung batik Laweyan semuanya telah tersedia baik batik tulis atau pun batik cap. Silakan belanja dan pilih batik sesuai selera Anda semua.

Sumber gambar : www.kampoenglaweyan.com

Read More..

MEMASYARAKATKAN BATIK SEBAGAI PRODUK DALAM NEGERI

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Rabu, 21 Januari 2009 0 komentar




Akhir tahun 2008 kemaren Hidup sehat dengan reiki bersama keluarga besar berkunjung ke Kampung Batik Laweyan Solo. Kunjungan ini sekaligus rekreasi libur panjang juga sekaligus menengok kampung halaman yang sudah 33 tahun ditinggalkan. Sudah banyak perubahan di kampung Batik Laweyan ini, namun ciri khas rumah batik milik Saudagar Batik masih tampak nyata dengan bangunan tembok tinggi mengelilingi bangunan utama yang dijadikan tempat tinggal.

Di samping rumah utama berbentuk Pendopo (Joglo) terdapat pula bangunan Gandok yang juga dipakai untuk membatik yang dilakukan oleh Mbok-mbok yang sudah sepuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari yaitu membatik. Membatik merupakan pekerjaan turun-temurun yang sudah akrab dengan penduduk Laweyan di kota Solo. Nenek dan kakek almarhum dari pihak Bapak dan Ibu hidup sehat dengan reiki pun semasa hayatnya juga berprofesi buruh batik. Dengan menjadi buruh batik inilah roda ekonomi keluarga diputar dan semua keturunannya tidak satupun menjadi buruh batik saat ini. Semuanya hidup merantau ke luar daerah Solo sebagai pendidik dan ada yang tinggal dan hidup di Jakarta.

Masih teringat dengan kegiatan membatik dan menolet (menorehkan warna) pada kain batik dasar putih pada pola batik. Sebelum kain itu diberi paduan warna lain sehingga membentuk paduan warna serasi sebagaimana kita lihat di kain batik yang sudah jadi, batik sendiri dibuat oleh beberapa pekerja (buruh batik) secara berkelompok atau sendiri-sendiri. Di Kampung Batik Laweyan inilah saat ini dicanangkan sebagai Kampung Batik sebagai museum batik oleh Pemda Solo.
Tepatnya usaha batik ini ada di Kampung Klaseman, Lor Pasar, Kidul Pasar, Setono,Sayangan Wetan, Sayangan Kulon,Kwanggan dan Jagalan Bumi Laweyan..

Di Jalan Sidoluhur Laweyan yang membentang di ujung timur mulai dari Kampung Jagalan Bumi Laweyan ke arah barat menuju Kampung Kwanggan saat ini berdiri rumah batik, show room, bengkel usaha batik di mana turis asing dan domestik yang datang bisa melihat proses pembuatan batik. Bahkan kursus singkat selama 3 hari juga diadakan oleh pemilik usaha batik untuk pengunjung yang sekedar ingin belajar membuat batik. Turis asing dan domestik yang datang ke Solo bisa langsung berbelanja batik ke sentra industri Batik Laweyan di samping berbelanja di Pasar Klewer.

Batik salah satu kain tradisi Indonesia belakangan terlihat semakin menjamur dikenakan orang di mana-mana, di pusat perkantoran, perbelanjaan hingga acara pesta. Banyak orang mengenakan batik dengan gaya modern dan kontemporer. Terlepas dari kenyataan bahwa menjamurnya pemakaian batik semula lebih dibangkitkan rasa nasionalisme yang muncul akibat kasus pengklaiman batik oleh Malaysia.

Namum demam pemakaian batik membawa dampak positif bagi industri garmen dan fashion di tanah air. Di sisi lain demam pemakaian batik juga sejalan dengan gerakan pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri. Sebenarnya gerakan penggunaan produk dalam negeri lebih didorong untuk menyiasati agar industri dan masyarakat Indonesia tidak terimbas oleh krisis keuangan global.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam berbagai kesempatan bahkan terus mendorong kalangan dunia usaha dan masyarakat untuk meningkatkan produksi, pemasaran dan penggunaan produk-produk unggulan dalam negeri. Sudah pasti tujuannya dalah untuk mendorong geliat ekonomi nasional dengan cara memperkuat pasar domestik. Tampaknya pemerintah cukup serius dalam upaya menggalakkan penggunaan produk dalam negeri ini.

Keseriusan itu tampak dari disiapkannya Inpres penggunaan produk dalam negeri yang diikuti dengan dikeluarkannya SK Menteri Perdagangan (Mendag) nomor 44 Tahun 2008 tentang ketentuan impor produk tertentu. Tujuannya adalah mengantisipasi agar tidak terlalu banyak pelabuhan disalahgunakan untuk membantu membanjirnya produk impor yang mencari pasar baru dan bisa mengganggu produk nasional.

Tampaknya pelestarian batik tradisional sudah dimulai dari Kampung Batik Laweyan ini.Tempat lahir hidup sehat dengan reiki pun saat ini mendapat sebutan Kampung Batik Laweyan. Di kampung inilah batik dibuat, dipasarkan dan disebarluaskan melalui promosi baik dari mulut ke mulut, media massa dan kini sudah merambah ke internet. Di Jalan Sidoluhur Laweyan inilah usaha batik milik saudagar batik sudah memasang spanduk usaha di pintu masuk pendopo lengkap dengan alamat website dan alamat emailnya. Kalau sudah begini pengunjung internet diseluruh dunia tinggal klik saja alamat website ini dan transaksi online pun berlangsung.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.