Berita seputar kecelakaan tambang batubara kembali terjadi di Guangxi Zhuang China, Minggu ( 03/07). Tiga penambang tewas dan 19 lainnya masih terjebak di bawah tanah. Musibah runtuhnya tambang batubara terjadi setelah hujan lebat turun dalam beberapa minggu terakhir.
Seratus anggota tim penyelamat mulai membersihkan lumpur sejak malam kemaren. Mereka menggunakan pompa untuk menetralkan gas dalam pertambangan yang mudah meledak. Terlihat ukuran puing-puing reruntuhan sangat besar sehingga menyulitkan upaya evakuasi tim penyelamat yang menggunakan sekop.
Jika kondisi mulai membaik, otoritas lokal akan mengirimkan tim penyelamat lebih banyak lagi. Kepala biro keselamatan Meng Qingguan mengungkapkan, pertambangan batubara di wilayah tersebut berpotensi memicu bencana geologi. Mengingat hujan deras masih turun dalam beberapa hari terakhir, akan memperburuk kondisi pertambangan yang mudah runtuh. Tercatat curah hujan di Heshan sudah melampaui tiga sentimeter.
Dengan curah hujan yang sudah melampaui tiga sentimeter, jelas kondisi tersebut sangat berbahaya bagi tim penyelamat yang ada di kedalaman 390 meter di bawah tanah. Ledakan gas, banjir dan kebakaran tercatat sebagai bencana paling mematikan di China. Tahun lalu lebih dari 2400 penambang tewas. Jumlah tersebut sedikit lebih kecil dibandingkan jumlah korban tahun sebelumnya.
Sumber : Reuters/China Mine Accident.
Read More..Energi nuklir memang memiliki bahaya besar jika pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. Namun tingkat bahaya energi nuklir jauh lebih kecil ketimbang penggunaan energi lain, seperti batu bara, gas alam dan minyak bumi. Dana Christensen dalam majalah Scientific American pada 2007 menyebutkan batu bara mengeluarkan bahan radioaktif 100 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang dihasilkan nuklir untuk menghasilkan energi dalam jumlah sama.
p>Data Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO ) menyebutkan, perbandingan tingkat kematian akibat penggunaan energi nuklir dan batu bara adalah 1 berbanding 4,025. Penggunaan gas alam 100 kali lebih mematikan dibandingkan dengan energi nuklir dan pembakaran minyak bumi 900 kali lebih mematikan daripada nuklir. Christopher Wanjek dalam LiveScienc, Selasa ( 26/4 ) mengungkapkan, pembakaran batu bara menyebabkan kematian lebih dari 1 juta orang setiap tahun.
Jumlah ini termasuk ribuan petambang yang meninggal akibat tambang runtuh dan ribuan petambang lain meninggal karena penyakit paru-paru. Hanya kasus runtuhnya tambang Chili tahun lalu merupakan keajaiban, dimana 33 petambang bertahan hidup selama dua bulan lebih di dalam tanah yang akhirnya berhasil dikeluarkan dengan selamat. Selain pembakaran batubara, ratusan ribu orang awam juga meninggal karena penyakit jantung dan paru-paru akibat menghirup gas pembakaran batu bara serta berbagai dampak negative lain.
Sumber : Livescience/Mzw.
Read More..