ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label sego kucing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sego kucing. Tampilkan semua postingan

WARUNG ANGKRINGAN MAS SOETRIMO.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Kamis, 10 November 2011 0 komentar

Kamis sore minggu lalu saat berkendara menuju kantor di bilangan kawasan Senayan, sehat dengan inti intinya reiki menyempatkan diri mampir ke Warung Angkringan di Jalan Kebayoran Lama, tepatnya sebelah selatan perempatan Jalan Panjang dengan Jalan Kebayoran Lama. Untuk apa di sore menjelang magrib blusukan ke tempat ini? Ya....untuk menikmati sensasi warung angkringan yang terbilang langka ada di Ibukota Jakarta ini.



Boleh jadi warung angkringan yang terlihat langka di Jakarta ini ada benarnya. Lalu dagangan apa yang dijual di warung angkringan ini? " Sego kucing beserta lauk pauk ikan teri, bandeng dengan secuil sambal terasi ada di dalam bungkusan kecil itu," kata Mas Sutrimo pemilik warung angkringan sambil mempersilahkan sehat dengan inti intinya reiki duduk di bangku panjang di bawah temaramnya lampu 25 watt yang mulai menerangi dagangan di bawah atap terpal sebagai pelindung dari air hujan yang masih saja turun sore itu.



Sambil mencicipi sego kucing khas jogja atau solo dengan bakwan goreng, kami berbincang soal warung angkringan yang mulai marak ada di Jakarta. " Nanti malam kalau Mbak pulang kerja, coba saja mampir ke warung angkringan lain yang juga berjualan di depan Kantor Indopos masih di Jalan Kebayoran Lama ini. Warung milik sahabat saya itu tutup sekitar jam 2 dinihari, " kata Mas Trimo menjelaskan. Menu yang disajikan di warung angkringan milik teman saya juga sama dengan menu yang ada di sini.



Ada kopi panas, wedang jahe, air jeruk panas atau dingin, susu panas dan teh manis. Sebagai pelengkap makanan khas sego kucing, ada sate telur puyuh, sate usus, bakmi mini, tahu goreng, tahu tempe bacem, kerupuk gendar dan tentu saja jadah yang bisa dipanaskan dalam bara api dari areng bakar. " Pokoknya sebisa mungkin dagangan yang ada ini saya adopsi persis dengan dagangan yang pernah saya jual di desa saya dulu," kata Mas Trimo menerangkan asal muasal dagangannya ini.


Menu sate telur puyuh, sego kucing dengan sejumput sambal merah, atau sate usus adalah menu wajib di warung angkringan yang juga ada di Jakarta ini.


Kalau warung angkringan di kota asalnya seperti Klaten, Solo bahkan Jogja yang dulu disebut dengan nangkring sambil duduk santai dengan kaki diangkat sebelah, saat ini sudah go public keluar dari habitatnya. Salah satunya ada di kawasan Jakarta Barat ini. Sore itu seorang pengunjung warung Mas Trimo ada yang lagi menyeruput wedang jahe panas. Tampaknya warung angkringan ini perlahan tapi pasti sudah mendapat tempat di kalangan penggemar warung angkringan di Jakarta.



Sejarah adanya warung angkringan di Jogja sudah ada sejak tahun 1950. Saat itu para pembeli hanya terbatas pada buruh angkut dagangan pasar, sais dokar, supir becak dan mbok-mbok bakul jamu. Kini warung angkringan itu terus tumbuh di Jogja. " Saat ini pelanggannya bukan buruh angkut barang di pasar. Ada pejabat pemda, mahasiswa, eksekutip muda hingga Pegawai Kantor Pemerintahan kota Jogja sangat gemar bersantap di warung angkringan, kata Mas Trimo menjelaskan seputar perkembangan warung angkringan yang ada di Klaten, Jogja dan Solo saat ini.



Berasal dari kata angkring atau nangkring yang dalam bahasa Jawa berarti duduk santai. Konsep warung ini berbentuk gerobak yang atasnya dilapisi dengan terpal atau tenda plastik. Ciri khas lainnya adalah, warung angkringan ini mulai beroperasi mulai siang hingga subuh dini hari. Ketika saya tanyakan kenapa mengadu nasib berjualan di Jakarta kendati pun pelanggannya belum tentu cocok dengan selera warung angkringan ini?



" Saya terpaksa meninggalkan kampung halaman di Desa Cawas Klaten sejak 2 tahun lalu setelah gempa bumi hebat menggoncang Jogja dan sekitarnya, " kata Mas Trimo. Dia mengingat peristiwa Sabtu pagi itu. Sekitar pukul empat pagi saya menutup warung angkringan lalu pulang ke rumah. Pukul 5 pagi isteri dan kedua anak saya sudah bangun. Saya sendiri baru bisa tidur sekitar jam setengah enam pagi. Itu pun tidur-tidur ayam.



" Mendadak bumi bergoncang hebat lalu dinding rumah roboh dan atap genting rontok dengan bunyi gemuruh memekakkan telinga," urai Mas Trimo sambil memperagakan bagaimana dia menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja ketika lemari rumahnya roboh menimpanya. Gempa bumi hebat di pagi itu juga telah meyelamatkan isteri dan kedua puteranya karena pada saat bumi bergoncang keluarganya ada di halaman siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke sekolah.



Sejak Desa Cawas Klaten porak poranda karena gempa Mas Trimo berhenti berjualan warung angkringan ini. Dia sibuk membenahi bangunan rumahnya dan kini sudah selesai pembangunannya. Untuk menghilangkan trauma karena gempa, dia bertekad mengadu nasib ke Jakarta dan meneruskan profesi lamanya sebagai penjual warung angkringan yang sudah 2 tahun ini dijalaninya di Jakarta. Berbekal ketrampilan berjualan warung angkringan sebelumnya, akhirnya pelan tapi pasti warung angkringan Mas Trimo sudah mendapatkan tempat di hati pelanggannya yang rata-rata kaum pendatang dari Jawa.


Ciri khas warung angkringan adalah dagangan digelar di atas gerobak. Daya tariknya adalah sego kucing yang menjadi menu wajib bagi pengunjung.


Seperti sore hari itu salah seorang pelanggan setia warung Mas Trimo adalah supir taxi yang sengaja memesan sego kucing dan wedang jahe panas manis. Sambil bercakap dalam bahasa Jawa, saya perhatikan gerak-gerik Pak Supir ini saat menyantap sego kucing. Sesekali dia mencomot sate telur puyuh dan bakwan goreng membuat Pak Supir taksi itu begitu lahap makannya.



Sambil glegekan dia menyeruput sisa wedang jahe panas yang ada dalam gelas. Sesaat lalu dia mulai menghisap sebatang rokok. Asap rokok mulai menyelimuti wajah Pak Supir ini. " Tampaknya sensasi makan di warung angkringan ala Jakarta ini boleh jadi mirip dengan yang ada di Jogja ya? " tanya saya kepada Mas Trimo. Lalu apa bedanya pelanggan di Jogja dengan di Jakarta ini?



Jelas sekali perbedaannya. " Pelanggan setia warung angkringan gaya Jakarta ini tidak ada lagi sopir becak yang datang. Maklum sekarang becak sudah tidak boleh beroperasi lagi. Sebagai gantinya adalah tukang ojek banyak yang datang ke sini," ujar Mas Trimo lirih sambil menghitung jumlah uang yang harus sehat dengan inti intinya reiki bayar untuk secangkir wedang jahe panas manis, bakwan goreng dan sebungkus sego kucing dengan secuil sambal teri bandeng goreng.



" Empat ribu lima ratus rupiah saja Mbak? " sapa Mas Trimo ramah sambil merapikan piring dan gelas di atas meja. " Matur nuwun sanget sampun kerso rawuh mriki?, " katanya. Dawah sami-sami, jawab saya. Tak lama kemudian lamat-lamat Azan Maghrib untuk Ibukota berkumandang dan sehat dengan intinya inti reiki segera pamit menuju kantor yang berjarak hanya 1 km dari Warung Angkringan Mas Soetrimo ini.

Read More..

KAFE SYBER KAFE ANGKRINGAN HIK SOLO.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Jumat, 24 Juni 2011 0 komentar


Cafe dalam pengertian sehat dengan reiki adalah kedai kopi tradisional, di mana saya dapat bersantai sambil minum kopi, teh atau wedang jahe sambil membaca koran atau majalah di pagi hari sebelum berangkat kerja atau sore hari selepas bekerja. Demikian pula di kampung saya di Laweyan Solo sejak dulu sudah ada cafe tradisional yang menempati emperan rumah orang dan berjualan sejak jam 5 sore hingga jam 3 pagi.



Hingga mau tidak mau cafe tradisional ini menjadi tempat sosial bagi sekelompok orang untuk bersantai sambil menonton siaran televisi atau mendengarkan siaran radio yang menyiarkan klenengan ( gending-gending Jawa ) , keroncong, gending campur sari bahkan sekarang ini lagu-lagu pop termasuk musik ndangdut. Cafe tradisional ini oleh wong Solo atau Jogja dikenal dengan istilah warung angkringan hik.



Yang dijual di sini makanan nasi kucing ( nasi seukuran kepalan tangan isi ikan teri dan sejumput sambal cabe terasi ), sate tempe gembus, sate telur puyuh, tempe goreng, tahu, tempe bacam, welut goreng bahkan mie rebus. Pokoknya istilah wong Solo makanan serba gayengan, murah meriah serba merakyat. Minumannya air serbat, wedang jahe, kopi dan jeruk manis panas atau dingin. Angkringan ini tersebar merata di setiap pemukiman, gang-gang bahkan berjualan bersebelahan dengan mall yang saat ini menjamur di kota Solo.


Warung hik alias warung kucing atawa angkringan jelas salah satu pilihan populer. Apalagi bagi yang mukim di kawasan Jogja atau Solo.


Sesuai dengan perkembangan jaman, cafe modern atau tradisional yang semula menjadi tempat bersosialisasi, kini berkembang menjadi tempat hiburan karena sekarang ini banyak cafe yang menawarkan hiburan kepada publik pengunjung cafe tersebut. Tengok saja di Jakarta ada Hard Rock Cafe, Jazz and Rock Cafe dan sebagainya, sedangkan di Solo ada Cafe Slonjor murah meriah nanging wareg tenan yang berjualan di kaki lima sambil menonton orang berlalu lalang dengan segala kesibukannya.



Bukan itu saja yang sehat dengan reiki tangkap dari perkembangan cafe saat ini. Sesuai dengan perkembangan jaman, cafe juga menyesuaikan diri dengan menyediakan sarana internet dalam cafe, di mana kita bisa bersantai sambil menjelajah dunia internet, hingga muncul istilah Cybercafe yang dalam arti harafiahnya sebuah kafe cyber ( dunia komputer/cybernetik atau sebuah proses yang menggunakan komputer).



Cybercafe yang pertama muncul di Eropa, dimana masyarakat masih senang berkumpul di cafe setiap ada kesempatan tepatnya di Paris dan menjadi populer di kalangan pengguna internet hingga akhirnya merambah dunia dan menjadi trend baru yang menjangkau semua orang, baik pengguna pemula hingga pengguna tingkat mahir di dunia internet. Cybercafe cukup membantu untuk menghilangkan kesan bahwa dunia internet itu ekslusif, hanya bagi pemilik komputer dan akses ke internet provider.



Dengan tersebarnya cybercafe di mana-mana , makin banyaklah orang yang akan menjelajah dunia internet dan internet sendiri makin memasyarakat. Memang tepat kalau kita ingin bersantai sambil minum kopi, teh dan minuman khas angkringan tadi atau cafe elit di mall sambil menunggu teman selingkuhan, sahabat karib bahkan keluarga, kita bisa menjelajah dunia internet, syukur di tempat cafe ini berada ada hotspot gratis sebagai bonus pengunjung cafe.

Keuntungan adanya cybercafe ialah kita dapat mengambil e-mail di manapun Anda berada, selama ada cybercafe, misalnya Anda berada di Jepang, Amerika, Eropa Anda tidak perlu mengakses langsung ke provider di Jakarta, namun tinggal mencari cybercafe terdekat, anda masukkan pop ( server tempat e-mail anda berada, biasanya di provider lokal ).



Kecuali Anda memiliki alamat e-mail berbentuk homepage seperti Hotmail, Starmail dan Rocketmail, Anda tinggal memasuki alamat situs mereka dan mengambil e-mail sesuai petunjuk yang ada di situs mereka. Keuntungan lain bagi para pelajar dengan adanya cybercafe, mereka dapat tempat untuk mencari bahan kuliah, artikel, informasi dalam lingkungan santai di cafe, juga mereka dapat menyelesaikan paper di sana.


Bukan orang dewasa saja hobi nge-hik. Anak kecil pun senang dengan sego kucing di warung hik. Selain itu ada minuman teh nasgitel, plus aneka gorengan.


Daripada mereka menghabiskan uang di cafe biasa tanpa fasilitas hotspot, mengapa mereka tidak menghabiskan waktu di internet cafe? Toh uang yang mereka belanjakan hampir sama, cuma keuntungan yang didapatkan pasti lebih banyak jika mereka berkumpul di Cybercafe. Berbicara masalah hotspot yang dikaitkan dengan warung angkringan hik Solo, beruntunglah Anda yang jajan di warung hik yang berlokasi di depan Balai Kampung Laweyan Solo tepatnya di areal parkir Pasar Kabangan, dapat menikmati internet gratis sepanjang hari un limited quota yang dipancarkan dari pendopo Balai Kelurahan Laweyan.



Sambil berselancar di internet menikmati makanan ringan hik Solo, berikut ini tip-tip ala sehat berkat reiki mengenai cybercafe :
1. Jika Anda bepergian keluar negeri, usahakan selalu mencari lokasi cybercafe di lokasi negara yang akan Anda tuju, caranya dengan mencari di search engines seperti Yahoo dan Google. Biasanya dengan menggunakan key word cybercafe lalu telusuri situs mereka yang akan menerangkan segala fasilitas yang dapat digunakan, lokasi cafe bahkan Anda dapat melihat menu makanan yang mereka sediakan.
2. Selalu minta petunjuk untuk mengubah pop guna mengambil e-mail Anda, walaupun Anda sudah terbiasa untuk mengubah setting komputer, karena tiap komputer itu unik dan untuk menghindari kesalahan setting, minta bantuan pramusaji mereka untuk mengubahnya.
3. Siapkanlah alamat situs yang Anda butuhkan guna menghemat waktu penjelajahan dan menghemat pengeluaran uang dalam berselancar di dunia internet. Alamat situs sebaiknya Anda catat secara manual di selembar kertas atau menyimpannya di hand phone bahkan bila Anda sudah jadi Praktisi Reiki dengan mudah alamat diingat kembali hanya dengan menyebutkan afirmasi yang ingin dimunculkan semudah anda menelusuri dengan Google.



Pertanyaan saya, " Sudahkah Anda berkunjung ke Solo dan menikmati angkringan hik di malam hari sambil berselancar di internet kawan? " Saat ini banyak tersedia areal hotspot gratis yang bersanding dengan kafe atau pun warung hik. Semua bertujuan untuk memanjakan pengunjung yang semula terlihat ndeso sekarang modern dengan adanya fasilitas ini. Tapi ingat jangan sering bergadang di warung angkringan hik setiap malam. Nanti mudah kena penyakit masuk angin.

Foto-foto by Made Adhi.

Read More..

WARUNG ANGKRINGAN MAS SOETRIMO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Sabtu, 20 Maret 2010 1 komentar

Kamis sore 18/3 kemaren saat berkendara menuju kantor di bilangan kawasan Senayan, sehat dengan inti intinya reiki menyempatkan diri mampir ke Warung Angkringan di Jalan Kebayoran Lama tepatnya sebelah selatan perempatan Jalan Panjang dengan Jalan Kebayoran Lama. Untuk apa sore menjelang magrib blusukan ke tempat ini? Ya....untuk menikmati sensasi warung angkringan yang terbilang langka ada di Ibukota Jakarta ini.



Boleh jadi warung angkringan langka ada di Jakarta ada benarnya. Lalu dagangan apa yang dijual di warung angkringan ini? " Sego kucing beserta lauk pauk ikan teri, bandeng dengan secuil sambal terasi ada di dalam bungkusan kecil itu," kata Mas Sutrimo pemilik warung angkringan sambil mempersilahkan sehat dengan inti intinya reiki duduk di bangku panjang di bawah temaramnya lampu 25 watt yang mulai menerangi dagangan di bawah atap terpal sebagai pelindung dari air hujan yang masih saja turun sejak sore.



Sambil mencicipi sego kucing khas jogja atau solo dengan bakwan goreng, kami berbincang soal warung angkringan yang mulai marak ada di Jakarta. "Nanti malam kalau Mbak pulang kerja, coba saja mampir ke warung angkringan lain yang juga berjualan di depan Kantor Indopos masih di Jalan Kebayoran Lama ini. Warung milik sahabat saya itu tutup sekitar jam 2 dinihari, " kata Mas Trimo menjelaskan. Menu yang disajikan di warung angkringan milik teman saya juga sama dengan menu yang ada di sini. Ada kopi panas, wedang jahe, air jeruk panas atau dingin, susu panas dan teh manis. Sebagai pelengkap makanan khas sego kucing ada sate telur puyuh, sate usus, bakmi mini, tahu goreng, tahu tempe bacem, kerupuk gendar dan tentu saja jadah yang bisa dipanaskan dalam bara api dari areng bakar. " Pokoknya sebisa mungkin dagangan yang ada ini saya adopsi persis dengan dagangan yang pernah saya jual di desa saya dulu," kata Mas Trimo menerangkan asal muasal dagangannya ini.


Menu sate telur puyuh, sego kucing, sate usus adalah menu wajib di warung angkringan khas Jogja/Solo dan Klaten.

Warung angkringan gaya Jogja milik Lik Man di Jalan Mangkubumi, utara stasiun kereta api Tugu Jogja.


Boleh jadi kalau di kota asalnya Klaten, Solo bahkan Jogja warung angkringan yang dulu disebut dengan nangkring duduk santai sambil kaki diangkat sebelah, menyeruput kopi dan jahe panas perlahan tapi pasti sudah mendapat tempat di kalangan penggemar warung angkringan di Jakarta ini. Merujuk kepada sejarah adanya warung angkringan di Jogja sekitar tahun 1950 para pembeli hanya terbatas pada buruh angkut dagangan pasar, sais dokar, supir becak kini warung angkringan sudah mendapat tempat di hati pelanggannya mulai dari Pejabat Pemda, Mahasiswa, Eksekutip Muda hingga Pegawai Kantor Pemerintahan kota Jogja atau Solo, kata Mas Trimo menjelaskan seputar perkembangan warung angkringan yang ada di Klaten, Jogja dan Solo saat ini.



Berasal dari kata angkring atau nangkring yang dalam bahasa Jawa berarti duduk santai. Konsep warung ini berbentuk gerobak yang atasnya dilapisi dengan terpal atau tenda plastik. Ciri khas lainnya adalah warung makan Angkringan ini mulai beroperasi mulai siang hingga subuh dini hari. Ketika saya tanyakan kenapa mengadu nasib berjualan di Jakarta kendati pun pelanggannya belum tentu cocok dengan selera warung angkringan ini? " Saya terpaksa meninggalkan kampung halaman di Desa Cawas Klaten sejak 2 tahun lalu setelah gempa bumi hebat menggoncang Jogja dan sekitarnya. Sabtu subuh sekitar pukul empat pagi saya menutup warung angkringan lalu pulang ke rumah. Pukul 5 pagi isteri dan kedua anak saya sudah bangun. Saya sendiri baru bisa tidur sekitar jam setengah enam pagi. Itu pun tidur-tidur ayam. Mendadak bumi bergoncang hebat lalu dinding rumah roboh dan atap genting rontok dengan bunyi gemuruh memekakkan telinga," urai Mas Trimo sambil memperagakan bagaimana dia menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja ketika lemari rumahnya roboh menimpanya. Gempa bumi hebat di pagi itu juga telah meyelamatkan isteri dan kedua puteranya karena pada saat bumi bergoncang keluarganya ada di halaman siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke sekolah.


Menikmati warung angkringan di salah satu sudut Kota Karanganyar Solo. Hidangan tengah malam menu wedang jahe, air jeruk peres panas dan tentu saja sego kucing.


Sejak Desa Cawas Klaten porak poranda karena gempa Mas Trimo berhenti berjualan warung angkringan ini. Dia sibuk membenahi bangunan rumahnya dan kini sudah selesai pembangunannya. Untuk menghilangkan trauma karena gempa, dia bertekad mengadu nasi ke Jakarta dan meneruskan profesi lamanya sebagai penjual warung angkringan yang sudah 2 tahun ini dijalaninya di Jakarta. Berbekal ketrampilan berjualan warung angkringan sebelumnya, akhirnya pelan tapi pasti warung angkringan Mas Trimo sudah mendapatkan tempat di hati pelanggannya yang rata-rata kaum pendatang dari Jawa.



Seperti sore hari itu salah seorang pelanggan setia warung Mas Trimo adalah supir taxi yang sengaja memesan sego kucing dan wedang jahe panas manis. Sambil bercakap dalam bahasa Jawa, saya perhatikan gerak-gerik Pak Supir ini menyantap sego kucing. Sambil sesekali mencomot sate telur puyuh dan bakwan goreng Pak Supir begitu lahap makannya. Sambil glegekan dia menyeruput kopi panas sambil menghisap sebatang rokok. Tampaknya sensasi makan di warung angkringan Jakarta ini boleh jadi mirip dengan yang ada di Jogja. " Hanya saja pelanggan setia warung angkringan Jakarta ini tidak ada lagi sopir becak yang datang. Maklum sekarang becak sudah tidak boleh beroperasi lagi. Yang ada adalah tukang ojek saja berdatangan ke sini," ujar Mas Trimo lirih sambil menghitung jumlah uang yang harus sehat dengan inti intinya reiki bayar untuk secangkir wedang jahe panas manis, bakwan goreng dan sebungkus sego kucing dengan secuil sambal teri bandeng goreng. "Empat ribu lima ratus rupiah saja Mbak?" sapa Mas Trimo ramah sambil merapikan piring dan gelas di atas meja. " Matur nuwun sanget sampun kerso rawuh mriki?, katanya. " Sami-sami", jawab saya. Lamat-lamat Azan Maghrib untuk Ibukota berkumandang dan sehat dengan intinya inti reiki segera pamit menuju kantor yang berjarak hanya 1 km dari Warung Angkringan Soetrimo ini.


Salah satu warung angkringan gaya Solo di mana interaksi penjual dan pembeli begitu guyub sambil mendengarkan klenengan gending Jawa.

Read More..

MALAM HARI DI PASAR KABANGAN SOLO

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 26 Juli 2009 5 komentar




Salah satu Pasar Tradisionil yang sehat dengan reiki datangi di minggu ketiga Juli 09 ini adalah Pasar Kabangan di daerah Solo Barat tepatnya berada di Utara Balai Kampung Laweyan. Sesuai dengan namanya yang agak aneh ditelinga orang luar Solo sebenarnya pasar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Lokasi tepatnya pasar ini ada di Kelurahan Sondakan berada di sudut persimpangan antara Jalan Perintis Kemerdekaan dengan Jalan Dr. Rajiman.

Menurut ceritera dari warga Kampung Klaseman Laweyan yang sudah sepuh, pasar ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sewaktu pemerintahan Paku Buwono IX pasar ini disebut Pasar Laweyan. Disebut demikian karena pasar ini berada di utara Kampung Laweyan yang lebih dikenal dengan Kampung Batik Laweyan saat ini. Letak persisnya berhadapan dengan Balai Kelurahan Laweyan sebelum kepindahan dari Kantor Kelurahan Laweyan lama di Jalan Sidoluhur.

Sebelum menjadi kantor Kelurahan Laweyan sekarang ini, lokasi Balai Kelurahan ini dahulu adalah tempat pemakaman umum Kampung Lor Pasar Laweyan dan makam ini lalu dipindah sekitar tahun 1963. Pasar Kabangan sendiri sejak berdiri memang menjadi pasar tradisional bagi warga Laweyan, Sondakan, Kabangan, Bumi Laweyan dan warga Kidul Kali Jenes atau warga Talang Banaran..

Dahulu pasar Kabangan ini memiliki luas lahan 3.660 meter persegi dan menyediakan berbagai variasi barang kebutuhan seperti sembako, sayur mayur dan lebih dikenal dengan istilah bumbon pasar. Dengan datangnya pedagang pindahan dari Pasar Kadipolo yang mengkhususkan berdagang plastik dan seng di tahun 1989 maka perubahan perdagangan terjadi. Sejak itu pasar ini menjadi sepi dari aktivitas jual beli sembako dan pedagang pindahan ini pun mulai berusaha dengan membuat barang-barang kebutuhan berbahan dasar plastik dan seng.

Melihat dagangan yang teronggok di pinggir jalan Dr. Rajiman ingatan sehat berkat reiki pun berputar mundur ke waktu menjelang peristiwa G-30-S di tahun 1965. Waktu itu keramaian pasar ini hampir terjadi setiap hari. Transaksi jual beli sembako pun ramai. Keramaian pasar tidak mengenal hari pasaran. Kendaraan becak, dokar dan sepeda memenuhi ruang parkir di sisi selatan pasar di ruas jalan Dr. Rajiman. Bahkan pedagang makanan dan minuman pun selalu menjajakan makanan siap saji bagi keperluan pengunjung pasar. Tengok saja Makanan Bakmi Pak Mangun yang cukup terkenal di era tahun 60. Beliau kini telah tiada dan bekas warungnya pun telah berganti menjadi warung kelontong.

Saat ini pedagang Pasar Kabangan telah menjadi Pasar Gembreng. Kenapa berubah menjadi gembreng? Sebab, mayoritas pedagang rata-rata berjualan barang keperluan rumah tangga selain sembako yaitu kompor minyak, dandang besar, kubah mesjid, wajan, jerigen dan pernak pernik kebutuhan rumah seperti tong sampah. Pasar Kabangan juga menyediakan barang-barang bahan bekas misal ember plastik, pot bunga dari ban bekas.

Selain kios jualan dipenuhi barang dari seng pedagang di sini juga menerima pesanan pembuatan barang-barang yang terbuat dari seng atau aluminium. Karena riuh rendahnya suara palu beradu bersautan-sautan di hampir setiap kios maka dentuman tong bekas yang dipukul bertalu-talu menjadikan pasar ini lebih dikenal dengan pasar Gembreng. Memang wong Solo pintar menggunakan istilah. Dari Pasar Kabangan menjadi Pasar Gembreng.

Jumat malam 24 Juli 09 kemaren sehat bersama reiki dan teman-teman sekampung dulu mampir ke Pasar Gembreng bukan untuk mendengarkan pukulan tong bertalu-talu melainkan ingin bernostalgia dengan menikmati kafe angkringan hik. Sambil kaki selonjor mereguk wedang jahe kami ingin menikmati sepenggal malam hari di Solo bukan untuk bicara Bom Kuningan melainkan bicara ke masa lalu saat Pasar Kabangan masih berjualan bumbon dapur di tahun 1963.

Lamat-lamat suara radio milik Mas Penjual Hik terdengar Irama Klasik Gending Jawa Klenengan. Solo memang identik dengan Keroncong dan Klenengan dan di Pasar Kabangan inilah sehat berkat reiki telah menemukan jawaban. Jawaban yang tidak ada di Jakarta dan hanya ke Solo saja jawaban ini didapat. Mari ikut saya sambil bersantai gaya khas wong Solo. Malam itu makanan hik terasa sedap untuk dinikmati. Pria dan wanita pelanggan makanan hik ini tidak canggung linggih lincak atau berselonjor di tikar di emperan toko sambil makan sego kucing.

Anda ingin ke Solo...jangan lupa ya mencoba cafe selonjor dan hirup wedang jahe agar badan menjadi hangat pengusir masuk angin di malam hari sambil mendengarkan klenengan musik tradisional Jawa.

Sumber gambar : www.tentangsolo.wordpress.com/www.kampunglaweyan.com




Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.