
Tim SAR China hingga kini masih mencari 90 orang yang hilang paska terjadinya longsor di wilayah selatan Propinsi Yunnan China. Musibah tanah longsor yang terjadi di sebuah lembah terpencil itu menewaskan dua warga setempat. Nasib warga sebanyak 90 orang itu hingga kini belum diketahui nasibnya paska terjadinya tanah longsor di daerah lembah terpencil itu.
Longsor terjadi di Puladi sebuah pemukiman di propinsi Yunnan akibat hujan deras mengguyur China selama musim panas tahun ini. Stasiun TV China CCTV memperlihatkan foto satelit para petugas penyelamat memasang papan-papan di sepanjang lokasi bencana untuk menjangkau wilayah terpencil yang hanya berpenduduk 100 orang tersebut.
Sebagian mereka merupakan pekerja sebuah tambang besi kecil di wilayah tersebut. Kantor Berita China Xinhua melaporkan sedikitnya sepuluh truk tambang dan 21 rumah tertimbun. Kondisi jalan yang terisolir dan berlumpur menyulitkan petugas penyelamat menemukan 90 orang hilang yang diperkirakan tertimbun dalam longsoran tanah lumpur bercampur batu yang terjadi Rabu 18 Agustus lalu.
- The landslide-hit town of Zhouqu in Gannan Tibetan Autonomous Prefecture, Gansu Province, China on August 9, 2010. Chinese rescuers armed with little more than shovels and hoes hunted for survivors of a huge mudslide, as relatives of the missing trekked into the disaster zone to look for their loved ones. (REUTERS/Aly Song)
Puladi terletak di lembah sungai Nu, sebuah wilayah China yang berbatasan dengan Myanmar. Menurut laporan cuaca setempat, hujan masih akan terjadi di wilayah tersebut selama beberapa hari kedepan. Operasi pembersihan masih berlanjut di wilayah lain yang juga mengalami longsor seperti di Propinsi Sichuan yang telah menewaskan puluhan orang. Di wilayah Zhouqu Propinsi Gansu sebelah utara, longsor paling besar terjadi menewaskan 1287 orang dan 450 orang lainnya dinyatakan hilang.
Sumber : Reuters/AFP/ China - Landslides
Read More..Malam pergantian akhir tahun 2009 ini sehat dengan reiki ada di Wonosari Gunung Kidul. Untuk apa kesana? Ya...untuk tetirah menjumpai saudara-saudara petani di daerah ini yang sampai sekarang ini masih rajin berladang dengan menanam polowijo. Di antara rimbunnya daun ketela singkong siang tadi mereka memanen singkong yang akan dipersiapkan sebagai makanan khas menyambut pergantian tahun dengan makanan khas
tradisionil yaitu Tiwul, Cenil dan singkong kukus.
Jika saudara telah bosan dengan kudapan modern tak ada salahnya mengikuti jejak saya di penghujung tahun 2009 ini untuk menyantap makanan khas tradisionil setempat yang terbuat dari tepung singkong dan parutan kelapa plus gula jawa. Sungguh enak bila kukusan makanan ini telah mengeluarkan asap putih berarti makanan khas telah siap dihidangkan. Kebanyakan orang telah memandang sebelah mata terhadap makanan ini tapi tidak dengan penduduk lokal sini. Mereka masih tiwul minded sekalipun di daerah ini telah masuk supermarket mini yang menjual makanan dan minuman kalengan.
Tiwul sebagai makanan khas daerah Wonosari ada juga di daerah Pacitan dan Wonogiri. Daerah ini terkenal dengan alam yang berbukit-bukit dan lembah curam. Masyarakat sini sudah biasa bercocok tanam singkong, jagung, kelapa dan padi tadah hujan. Singkong sebagai bahan baku Tiwul dari dahulu kala hingga kini masih dikonsumsi sebagai makanan pokok pengganti beras. Kudapan ini sangat lekat dengan masyarakat pedesaan Pegunungan Kendeng Selatan yang membujur dari Daerah Istimewa Jogjakarta hingga Pacitan dan Wonogiri.
Salah seorang penduduk desa Mardiyah mengungkapkan sejak tahun 1997 sudah menjual tiwul. Hingga kini dalam sehari mampu membuat 500 bungkus tiwul. Bahan baku tiwul berupa ketela pohon atau singkong yang dikeringkan kemudian dihaluskan dengan lumpang batu. Tepung singkong ini lalu dicampur dengan parutan kelapa dan gula jawa. Tanpa dicampur bahan pengawet dan pewangi makanan, tiwul khas desa ini mampu bertahan 24 jam.
