Bagi seorang pewaskita yang dapat melihat spektrum warna reiki, pada dasarnya reiki memiliki warna hijau tetapi bila sudah menyatu dengan energi non reiki milik seorang praktisi reiki, maka warna energi akan tampil laksana warna pelangi. Menurut Agung Hanggono Pribadi, seorang reiki master sebagaimana dituturkan oleh Reiki Master Prof. Dr. Sutan Remi dalam buku Hidup Sehat dengan Reiki dan Energi Non Reiki, menyatakan bahwa warna dasar reiki adalah hijau. Jika energi reiki sudah bercampur dengan energi non reiki, maka warna energi reiki berubah menjadi warna pelangi.
Seorang praktisi reiki apa pun tradisinya bila sudah menguasai energi non reiki, apabila hendak menyalurkan reiki dengan warna tertentu cukup meniatkan saja dengan menyebut warna sesuai dengan tujuan dia melakukan healing atas penyakit pasien. Reiki dengan warna tertentu memiliki daya penyembuhan atas penyakit yang dilawannya daripada reiki dengan warna campuran. Dengan kata lain bagi seorang praktisi reiki saat ingin memberikan healing dengan reiki warna tertentu cukup meniatkan saja lewat affirmasi.
Artinya bila praktisi reiki mengaffirmasi warna energi reiki muncul warna merah, maka energi reiki warna merahlah yang akan keluar lewat chakra telapak tangan sang praktisi. Demikian pula bila praktisi reiki menghendaki energi reiki warna kuning emas dari simbol reiki CKR, maka energi reiki warna kuning emaslah yang akan keluar dan melakukan penyembuhan sesuai dengan affirmasi yang diucapkan oleh praktisinya. Energi simbol Reiki warna kuning emas sangat effektif untuk menarik semua jenis energi negatife kiriman seseorang dari dalam tubuh pasien dan membuangnya ke dalam bumi.
Menggunakan terapi warna reiki tidak mudah. Selain praktisi reiki yang bersangkutan sudah waskita dia juga harus memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai efek masing-masing warna terhadap penyakit tertentu selain effek warna yang digunakannya terhadap tubuh pasien. Tidak mudah memahami terapi warna ini dan tidak semua orang mampu mempelajarinya termasuk sehat dengan kundalini reiki sendiri. Di kelas Prana Shakti Darana pun juga diajarkan bagaimana menggunakan warna reiki untuk tujuan healing. Semua butuh kesabaran dalam belajar praktek reiki, sekalipun praktisinya sudah dibekali dengan kemampuan mengakses energi non reiki dan energi penyembuhan khusus.
Masih menurut Prof. Dr. Sutan Remi dalam bukunya itu menyatakan bahwa perlu dicamkan oleh seorang penyembuh bahwa penyaluran energi dengan warna tertentu tidak dapat sembarangan diberikan kepada pasien. Warna energi reiki bukan mustahil akan mengakibatkan effek samping atas penyakitnya. Ibarat memberikan energi kepada pasien tidak berbeda dengan pemberian obat oleh dokter kepada pasiennya, maka harus memperhatikan effek samping apa yang akan timbul oleh pemberian energi reiki warna tertentu. Singkat kata sebelum memberikan penyaluran energi dengan warna khusus, hendaknya memperhatikan keadaan pasien menerima reaksi setelah dialairi energi reiki warna tertentu.
Sahabat sehat dengan kundalini reiki yang sudah bisa mengakses energi non reiki sebaiknya tidak usah berambisi mengetahui lebih luas peranan warna energi reiki terhadap jenis penyakit tertentu pasien. Tidak usah memusingkan jenis-jenis penyakit apa saja yang dapat disembuhkan dengan reiki dan energi non reiki warna tertentu. Singkat kata saat Anda tertarik untuk memberikan healing reiki warna tertentu atas kasus penyakit yang dihadapi pasien, sebaiknya berikan affirmasi yang tepat agar reiki memilih sendiri warna yang ingin ditampilkan. Biarkanlah reiki atau energi non reiki bekerja sesuai dengan kecerdasannya untuk menampilkan warna yang diinginkan. Bukankah Anda mengetahui bahwa Reiki adalah Energi yang cerdas dan tahu untuk apa dia diarahkan praktisinya?
Sumber : Hidup Sehat dengan Reiki dan Energi Non Reiki Prof. Dr. Sutan Remi S.H
Read More..Toni Buzan penulis buku laris Head Strong bilang, otak manusia itu bagaikan raksasa sedang tidur. Para neurolog memang membuktikan segala sesuatu bermula dari organ ini. Setelah era kecerdasan intelektual, para psikolog meyakini ada kecerdasan lain yang juga penting yaitu, kecerdasan emosional dan spiritual. Semua dikendalikan oleh pikiran. Jika kecerdasan intelektual membuat seseorang pandai, lalu kecerdasan emosional menjadikannya bisa mengendalikan diri, maka kecerdasan spiritual memungkinkan hidupnya punya arti bagi diri sendiri dan orang lain. Ia adalah sebagai satu-satunya kecerdasan tertinggi yang setiap orang belum tentu bisa mencapainya dalam hidup ini.
Seminar kecerdasan anak sekarang ini begitu gencar dipasarkan lewat iklan baik di radio, televisi dan surat kabar. Tentu saja orang tua anak yang ikut seminar sangat bangga dan berbesar hati manakala seminar ini menjadikan anaknya pandai, cerdas dan mumpuni dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Apa betul kecerdasaan otak atau intelektual nantinya bisa mengubah hidup seseorang menjadi baik atau bahkan buruk ? Jawabannya....kecerdasan intelektual bukan faktor utama yang menentukan kesuksesan hidup seseorang. Ada faktor lain yang lebih menentukan dan berperan. Goleman bahkan berpendapat, kecerdasan intelektual hanya menyumbang sekitar 20% terhadap keberhasilan hidup seseorang.
Dalam buku Emotional Intelegence, Daniel Goleman menceritakan pengamatannya selama bertahun-tahun terhadap perkembangan lulusan Harvard University. Di sini terdeteksi mahasiswa saat kuliah nilainya pas-pasan saja tetapi berhasil dan bahagia dalam hidupnya. Artinya tidak sukses dalam kuliah tetapi sukses dalam praktek kehidupan sosialnya. Sebaliknya banyak mahasiswa ketika kuliah nilainya duduk di peringkat pertama, namun tidak sukses dalam hidup sosialnya.
Dalam kondisi hidup sehari-hari pun kita sering menjumpai orang-orang seperti itu. Mungkin tetangga, keluarga, kawan lama, kawan sekolah, sahabat di dunia maya bahkan Anda sendiri. Ini membuktikan bahwa kecerdasan intelektual bukan faktor utama penentu keberhasilan dan kesuksesan hidup seseorang. Ada faktor lain yang lebih berperan. Goleman bahkan berpendapat kecerdasan intelektual hanya menyumbang sekitar 20% terhadap keberhasilan hidup seseorang. Selebihnya adalah faktor di luar kecerdasan itu. Salah satunya yang sangat penting yaitu kecerdasan emosional.
Dalam kehidupan sehari-hari orang sering menyamakan istilah antar kecerdasan intelektual dengan intelligence qoutient (IQ). Padahal keduanya berbeda. IQ sebenarnya merujuk kepada angka relatif untuk menunjukkan tingkat kecerdasan intelektual. Sekedar contoh, seorang anak yang usia kalendernya baru 8 tahun, tapi bisa mengerjakan tugas sekolah anak usia 10 tahun dalam pelajaran matematika. Berarti IQ anak adalah 10/8 x 100 alias 125. Dengan kata lain tingkat kecerdasan intelektualnya di atas rata-rata.
Sebaliknya jika usia kalender anak sepuluh tahun tapi usia mentalnya baru delapan tahun berarti IQ nya 8/10 x 100 atau 80. Artinya tingkat kecerdasan intelektual anak ini di bawah rata-rata. Pada umumnya orang menunjuk kecerdasan intelektual yang selama ini dikenal dengan istilah pinter. Namun sesuai dengan perkembangan jiwa manusia, maka muncul kecerdasan emosional (emotional intelligence) sebagai jenis kecerdasan lain yang dimiliki manusia.
Sekali pun diakui kecerdasan emotional tidak bisa diukur secara eksakta seperti halnya kecerdasan intelktual, kecerdasan ini bisa kita asah dan latih melalui olah jiwa. Yang jelas IQ dan EI adalah dua hal yang integral di dalam jati diri manusia. Keduanya saling bersinergi satu sama lain. Menurut Sartono Mukadis, Psikolog dalam Mind Body and Soul Intisari menyebutkan dalam praktiknya ada lima komponen penting menjadi ciri kecerdasan emosional, yakni self awareness, self regulation, empati, motivasi dan social skills.
Kelima komponen tadi dalam ilmu psikologi sering disinggung dalam mata kuliah. Sedangkan pelatihan di luar bangku kuliah berbentuk lokakarya yang bertujuan mendewasakan kecerdasan emosional seseorang bisa didapat melalui pelatihan khusus setingkat lebih tinggi dari kelas reiki. Pelatihan ini disebut G'Tumo Esoterik yang menekankan pada pengolahan energi dan menyalurkannya untuk suatu kepentingan tertentu.
G'Tumo Esoterik dalam kelas reiki lebih menekankan pada aspek kedewasaan emosional. G'Tumo Esoterik memang berbeda dengan Reiki aliran G'Tumo. Dalam postingan lalu sehat dengan waskita reiki pernah menyinggung bahwa reiki adalah ilmu penyembuhan yang mengacu pada tradisi Tibet, sedangkan G'Tumo Esoterik adalah ilmu yang lebih menjurus pada pengolahan energi.
Menurut Ciptadinata Effendi dalam buletin seminar G'Tumo Esoterik menulis, dalam perkembangan zaman sejarah mencatat bahwa orang-orang yang memiliki kemampuan kecerdasan yang luar biasa, bahkan disebut genius alias super pinter, namun karena tidak diimbangi dengan kedewasaan emosional, ternyata bukan saja tidak berguna bagi sesama manusia, malahan ternyata menghancurkan kehidupan orang lain. Sebalikna ada anggapan lain berpendapat bahwa kalau dua aspek yaitu kecerdasan intelektual dan kedewasaan emosional mampu dipertahankan ada dalam diri seseorang, maka ia akan mampu menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.
Contoh hangat yang sekarang ini sedang beredar adalah kasus pembobolan dana nasabah bank yang dilakukan oleh orang pintar dan berpendidikan tinggi khususnya di bidang IT. Orang ini mampu membuat progam dan menggandakan kartu ATM fiktif untuk tujuan menarik dana yang bukan haknya. Karena tidak diimbangi dengan kedewasaan emosional maka tindakan melawan hukum dilakukan demi kepentingan pribadi yaitu mencuri uang orang lain lewat perangkat ATM. Akibatnya banyak orang lain menjadi korban karena keisengannya ini. Ia bersenang-senang di atas penderitaan orang lain.
Zaman terus berubah sesuai dengan perkembangan waktu. Pendapat bahwa kecerdasaan intelektual dan kedewasaan emosional yang seimbang harus dipertahankan, akhirnya dikoreksi juga. Disebutkan bahwa seseorang baru dikatakan masuk ke dalam tahap pencerahan apabila di dalam perjalanan hidupnya mampu menerapkan ketiga aspek secara seimbang di antaranya kecerdasan intelktual, kedewasaan emosional dan kematangan spiritual. Bagaimana mencapai tingkat ini agar menjadi balan (seimbang dalam hidup)?
Salah satu cara menuju keseimbangan ketiga aspek tadi dengan melatih meditasi keseimbangan. Meditasi ini dilakukan dalam upaya memberikan suatu kerangka dalam hidup kita, tentang pola hidup bagaimana yang ingin kita terapkan dalam perjalanan hidup kita. Sekali pun meditasi ini bukanlah jaminan bahwa apa yang kita inginkan pasti tercapai, namun setidaknya jalan menuju ke tingkat hidup yang lebih luhur telah ada di depan mata kita. Tergantung bagaimana kita akan menjalaninya.
Bahkan menurut hasil penelitian di Australia, seandainya setiap orang mau meluangkan waktunya hanya 5 menit saja setiap harinya untuk melakukan meditasi, maka akan menjadi jaminan bagi dirinya, sampai setua apa pun tidak akan pikun, dapat hidup mandiri tanpa harus menggantungkan diri pada belas kasihan orang lain. Karena itu tujuan pelatihan G'Tumo Esoterik mengharuskan setiap praktisinya menjalankan meditasi dalam keseimbangan. Tujuan meditasi ini menuju hidup sehat jiwa dan raga menuju pencerahan.
Read More..

Saat belajar reiki akan diperkenalkan istilah chakra. Apakah chakra itu? Chakra adalah pintu gerbang energi dari alam semesta ke dalam tubuh energi manusia dan keluar kembali ke alam semesta juga lewat chakra.Ketika pertama kali mempraktekkan self healing, sehat dengan reiki belum merasakan aliran energi tetapi seiring berjalannya waktu aliran energi akan mengalir begitu saja ketika diniatkan bekerja.
Dalam pembelajaran reiki dalam tubuh kita terdapat sekitar 320 titik chakra yang masing-masing dihubungkan oleh 72.000 meridian. Berbagai penyakit dapat dideteksi sekaligus diterapi penyembuhannya melalui chakra.Namun ada juga yang menyebut keberadaan chakra dalam tubuh berjumlah 365. Chakra mengatur masuk dan keluarnya energi kepada organ-organ tubuh sekitar chakra agar tetap berfungsi dengan baik dan sehat.
Walau Anda menggunakan mikroskop secanggih apa pun, titik chakra tak mungkin terlihat mata telanjang. Mengapa? Tubuh manusia terdiri atas tubuh fisik, eterik atau bioplasma (tubuh energi), tubuh astral dan roh. Menurut Sumarsono Wuryadi dalam buku Mind, Body and Soul Majalah Intisari menyebut bahwa chakra ini berada dalam tubuh energi kita. Itulah maka ia tak bisa ditangkap dengan mata bugil kita.
Dari ratusan chakra tadi kita hanya perlu memahami tujuh chakra utama saja dalam tubuh energi kita yaitu chakra dasar, seks, solar plexus (pusar), jantung, tenggorokan, ajna dan mahkota.Chakra berfungsi sebagai pengendali dan pembangkit tenaga listrik, chakra juga memberi energi pada organ-organ yang ada didekatnya. Bahkan bisa pula mengendalikan kondisi phisik dan spiritual seseorang.
Bentuk chakra utama mirip cakram berputar dengan garis tengah 7.7 - 10.2 cm. Chakra minor bergaris tengah2.5 - 5 cm dan chakra super minor ( mini ) bergaris tenah kurang dari 2.5 cm. Dengan bentuk bagai corong yang mengecil diujungnya mengarah ke dalam dan membesar ke arah luar tubuh fisik. Karenanya chakra utama berfungsi mengendalikan dan memberi energi pada organ-organ vital di sekitarnya. Sementara chakra minor dan mini hanya ke bagian tubuh yang kurang penting.
Jika seorang penyembuh melakukan scaning pada chakra jantung yang terletak di antara dua puting susu, maka saat tangan diposisikan sekitar 10 cm di atasnya akan terasa chakra itu berputar seperti baling-baling. Sangat terasa ada gerakan menyerap energi positif dan kebalikannya akan membuang energi negatif. Dengan latihan teratur scaning chakra akan membuat peka telapak tangan penyembuh.
Bahkan ketika menyalurkan energi reiki ke pasien dengan sistem distance healing terkadang di tangan praktisi akan terasa kesemutan bahkan kebas. Ini menandakan bahwa energi negatif pasien yang direki mengumpul di tangan penyembuh dan untuk menghilangkan rasa ini segera gerakkan telapak tangan kanan dan kiri mengarah ke bumi dengan cepat sehingga rasa tak nyaman tangan ini akan hilang segera.
Kembali ke masalah chakra dapat dikatakan chakra berfungsi sebagai jendela dalam berhubungan dengan alam semesta. Selama energi alam semesta (kosmis) ini masuk ke dalam tubuh manusia, kita akan tetap hidup."Orang hidup karena adanya suatu pengaliran energi di dalam tubuhnya. Jika ia mati, maka auranya juga hilang," tandas Sumarsono yang menyandang gelar Lightarian Reiki Master ini.
Energi alam semesta juga masuk melalui pori-pori tubuh, tapi yang terbanyak melalui chakra. Oleh karena itu fungsi chakra mayor ini antara lain menyerap energi, memprosesnya, kemudian membagi-bagikannya kepada organ vital manusia.Begitu pentingnya chakra dalam belajar reiki, kita dituntut selalu membersihkan chakra setiap saat dengan melatih self healing, berpikiran positif dan menjalankan meditasi.
Sehat dengan reiki juga sependapat dengan Pak Sumarsono bahwa Energi Ilahi ( Reiki ) ini bekerja otomatis karena memiliki kecerdasan sendiri, Jadi tak perlu pusing apakah chakra perlu dibersihkan atau tidak. Asalkan kita rajin melakukan healing maka chakra dalam tubuh penyembuh dengan sendirinya akan terjaga bersih sebab setiap saat akan dialiri energi Ilahi.
Sumber : Mind,Body and Soul Intisari ( telah diedit )
