ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label bengawan solo meluap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bengawan solo meluap. Tampilkan semua postingan

MAS RUBIMAN SAHABATKU.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Jumat, 10 Juni 2011 0 komentar

Selama dua hari....sehat dengan kundalini kembali mampir ke kampung halaman setelah melakukan perjalanan dinas ke luar Jakarta. Tidak banyak perubahan yang terjadi di kota kecil ku, kota Solo yang tenteram, tenang sangat adem ayem sebagai kota untuk hening sejenak istirahat setelah melakukan perjalanan jauh ke luar kota. Hanya saja sekarang ini banyak angkutan ojek sepeda motor mulai beroperasi di kota ini menemani angkutan becak yang menjadi ciri khas kota Solo.



Dengan naik becak itulah saya mengulang memori indah Rabu sore 8 Juni 2011 di saat melakukan perjalanan menuju stasiun kereta api Solo Balapan seperti peristiwa dua tahun lalu dengan pengemudi becak yang sama yaitu Mas Rubiman. Bedanya cuaca kota Solo kemaren sore cukup cerah dimana matahari menyemburatkan sinar merah lembayung senja menyongsong Solo menjelang malam hari. Di kanan kiri jalan yang kami lewati, penjual angkringan khas kota Solo sudah mulai menjajakan dagangannya. Penjual dengan gerobak khas itu oleh wong Solo menyebutnya sebagai warung hik atau warung angkringan yang menjual wedang jahe, nasi kucing dan makanan ringan lainnya selain minuman air jeruk, kopi dan teh manis.



Awal tahun 7 Januari 2009 saat itu udara kota Solo tidak bersabat. Pagi hari matahari bersinar sampai waktu Lohor saja. Selepas itu hingga petang hari cuaca yang pagi cerah berubah menjadi mendung dengan awan hitam mengantung di atas kota. Menjelang Waktu Asar tiba sebuah alat transportasi khas kota Solo parkir di depan rumah hidup sehat dengan reiki di Kampung Klaseman, sebuah kampung yang masuk kawasan Kampung Batik Laweyan Solo Barat.



Ketika Mas Tukang Becak datang hujan sedang deras-derasnya turun di sore itu. Saya ajak Mas ini untuk masuk rumahku dan saya persilakan menunggu sebentar. Mengingat hujan semakin deras turunnya Mas tukang becak ini menyelimuti becaknya dengan terpal tebal agar tempat duduk jok becaknya tidak basah. Akhirnya hujan sedikit reda dan saya putuskan untuk segera berangkat ke Stasiun Kereta Api Solo Balapan dengan menumpang becak ini.



Kendatipun ada angkutan taxi, ojek sepeda motor juga motor milik kerabat, saya lebih nyaman naik becak ini. Ya..., kenyamanan naik becak ini memang sudah biasa saya rasakan manakala saya pulang kampung ke Solo. Bahkan keluargaku pun sudah akrab dengan Mas Tukang Becak ini. Kendati pun saya sudah meninggalkan kota Solo sejak 1976 sampai sekarang ini pun Mas ini masih tetap dengan profesi lamanya, pengayuh becak.


Becak sebagai angkutan umum bebas polusi yang dikayuh pengemudi becak masih tetap eksis di kota Solo sampai saat ini.


Angkutan murah, tidak bising, bebas polusi ini memang sudah akrab dengannya sejak tahun 1974. Jadi kalau dihitung-hitung sudah hampir 37 tahun Mas ini mengayuh becak untuk mencari sesuap nasi buat menghidupi keluarganya. Siapakah Mas ini? Dialah sahabat kecil saya ketika kami masih sama-sama duduk di sekolah dasar (sr) 6 tahun dulu. Seiring berputarnya roda becak menapaki jalan beraspal kota Solo yang basah karena hujan sore itu, berputar pula ingatan saya ke belakang ke masa kanak-kanak lalu remaja. Saat itu kami biasa bermain bersama-sama dengan teman-teman sekampung termasuk juga dengan Mas Rubiman pemilik becak yang sedang saya tumpangi ini.



Tahun 1962 Koes Bersaudara mulai meluncurkan hit pertamanya yang lagu-lagunya populer di kala itu seperti lagu Bis Sekolah, Telaga Sunyi, Dewi Rindu dan Angin Laut, Mas Rubiman sudah fasih menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara ini. Bersama teman-teman sekampung pula kami biasa lek-lekan ( gaya orang Solo ketika malam bulan purnama tiba) dengan tidur agak larut malam. Waktu itu bermain bersama anak laki-laki dan perempuan di malam hari sudah biasa. Tidak saru kata wong Solo untuk menegaskan bahwa hubungan pertemanan antara anak remaja laki-laki dan perempuan adalah wajar di saat masih kanak-kanak. Mas Rubiman pulalah yang memberi tahu kepada kami agar nanti malam kita ngelar kloso ( menggelar tikar ) di halaman sambil bernyanyi lagu Koes Bersaudara.



Ketika desa tetangga sukses panen padi dan mengadakan syukuran dengan menggelar hiburan wayang kulit dan ketoprak, Mas Rubiman pula yang mengajak saya beserta teman-teman lainnya untuk menonton pertunjukan itu. Jangan ditanya suasana desa tetangga saat itu kondisinya. Tahun 1965 Desa Banaran, Cemani dan Jati belum ada listrik. Masih gelap gulita. Dalam kegelapan malam itulah kami membawa obor menyusuri pematang sawah untuk mencapai lapangan desa tempat hiburan rakyat itu digelar. Dan Mas Rubiman pulalah yang memandu kami agar hati-hati meniti pematang sawah yang licin.



Di hari Minggu adalah hari libur sekolah. Agenda hari itu adalah mengunjungi stasiun kereta api Purwosari yang terletak di Solo Barat. Bersama Mas Rubiman pulalah kami menumpang kereta api uap ke Stasiun Ceper di Klaten. Sampai di Stasiun Ceper kami bermain di stasiun sambil menungu kereta api uap balik lagi ke Solo. Tahun 1964 kereta api dengan lokomotip uap merupakan angkutan rakyat yang melayani trayek Solo ke Jatinegara Jakarta dengan singgah di Jogja.


Banjir besar melanda Solo tahun 1966 dimana 2/3 bagian kota Solo wilayah timur terendam banjir.


Bahkan ketika Bengawan Solo meluap dan membanjiri Solo tahun 1966 kami teman-teman sekampung bersama mas Rubiman melintasi banjir yang menggenangi Jalan Gatot Subroto dari Perempatan Pasar Singosaren menuju Perempatan Pasar Pon. Tidak ada rasa takut sama sekali, maklum saat itu anak-anak seusiaku sudah biasa mandi air Kali Jenes yang melewati kampungku. Jadi ketika banjir besar yang menenggelamkan 2/3 kota Solo itu aku dan teman-temanku termasuk Mas Rubiman bermain air banjir pula di tengah kota.



"Ketika sampeyan ke Jakarta dan teman-teman seusia kita pada merantau ke luar kota Solo aku tetap mengayuh becak. Ya, mau kerja apalagi kalau profesi ini yang bisa aku jalani. Tahun 1976 sampeyan ke Jakarta, aku bersama teman sekampung lain bekerja membatik dengan upah tak seberapa di samping ya...tetap mengayuh becak ini," kata Mas Rubiman seakan-akan menegaskan bahwa profesi tukang becak adalah pekerjaan mulia.



Memang ketika saudagar batik di kampungku membutuhkan tenaga buruh lepas untuk menolet ( memberi warna) pada kain putih sebelum dicap, Mas rubiman pula yang mengajakku bekerja paruh waktu. Pagi sekolah siang hari menolet di pabrik batik. Malamnya nonton televisi di rumah saudagar batik itu sambil membantu melipat tumpukan kain batik di gandoknya ( rumah samping ), sebelum diizinkan masuk ke Pendoponya untuk menonton televisi hitam putih yang menyajikan hiburan lepas senja dengan sajian lagu-lagu yang dinyanyikan Mbak Teti Kadi dengan iringan Ariyanto dari TVRI Jakarta dan hiburan Wayang Orang dan Ketoprak dari TVRI Jogjakarta.



"Aku tidak minder kok mengayuh becak ini. Inilah jalan untuk aku mengais rejeki Tuhan. Setiap hari dengan tetesan keringat aku kumpulkan rejeki ini untuk biaya sekolah anakku juga menghidupi anak biniku," masih kata Mas Rubiman sambil mengarahkan laju becaknya memasuki Stasiun Kereta Api Solo Balapan. "Betul Mas, tidak usah minder semua pekerjaan mulia asalkan kita tekuni dengan baik, jujur dan mengutamakan keselamatan penumpang," jawab saya menghibur Mas Rubiman.



Mumpung jadwal kereta masih lama dan Mas Rubiman tidak sedang dicharter orang, hidup sehat dengan reiki mengajak mampir ke warung nasi tumpang seberang stasiun kereta api. Nasi tumpang, tempe goreng, ayam goreng, empal daging dengan air teh manis menemani santap senja. Inilah makanan khas Solo. Di warung inilah kami membaur bersama tukang becak lainnya menikmati sajian makanan yang dipincuk sambil saling mengingat-ingat kejadian di kala kanak-kanak dulu.



Ingatan Mas Rubiman sungguh tajam. Ibaratnya tape recorder semua kejadian di masa silam masih diingatnya dan diceritakan kembali. Saya mengiyakan karena memang saya terlibat kejadian itu bersama Mas Rubiman. Kebersamaan ini sungguh berkesan di sore itu. Ketika pengeras suara stasiun kereta api mengumumkan bahwa jadwal kereta api tujuan Jakarta yang akan hidup sehat dengan reiki naiki tinggal 30 menit lagi berangkat, Mas Rubiman pamit dan saya selipkan uang lelah sebesar 5 kali lipat upah normalnya. Mas Rubiman terkejut..dan mengucapkan, " Matur nuwun sugeng tindak Mbak, mbenjing kepanggih malih, matur nuwun sanget," katanya seraya membungkukkan badannya. Artinya ....terima kasih selamat jalan Mbak, esok ketemu lagi, terima kasih banyak.



Saat itu aku tatap gerak laju becaknya keluar halaman Stasiun Kereta Api Solo Balapan. Begitu tegar kokoh berhati lembur sahabat kecilku ini. Sudah 37 tahun
keringat membasahi tubuhnya yang kekar sebagai pengayuh becak tapi Mas Rubiman tetap rendah hati. Hidup sehat dengan reiki hanya bisa mendoakan semoga Tuhan memberikan kesehatan jasmani kepadamu dalam menggeluti profesi ini. Selamat jalan Mas Rubiman Insya Allah saya datang ke Solo lagi. Masih banyak cerita masa remaja yang belum engkau tuturkan kali ini.



Foto Tukang Becak karya Mahwari Sadewa Jahutama.

Read More..

MAESTRO KERONCONG TELAH TIADA.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Kamis, 20 Mei 2010 0 komentar

Bengawan Solo , riwayatmu kini, sungai yang mengalir jauh hingga wilayah Gresik Jawa Timur dan Jembatan Merah Surabaya, adalah dua lagu yang cukup populer di kalangan pencinta musik Keroncong. Kini pencipta lagu legendaris itu telah tiada meninggalkan semua ciptaannya dan telah berpulang ke Rahmattullah Kamis sore waktu Solo di RS PKU Muhamaddiyah Solo. Seniman gaek Pak Gesang Martohartono begitu orang menyapa dia , masuk rumah sakit sejak tanggal 12 Mei 2010 lalu. Menurut Ketua Tim Dokter Dr Suryo Adi Wibowo, Gesang meninggal pada pukul 18.10 WIB. “Kondisinya memang semakin drop semenjak setengah dua siang,” kata Suryo saat di temui di RS PKU Muhammdyah, Solo, Kamis (20/5/2010).



Selama dirawat di RS Pemerintah Kota Surakarta menanggung seluruh biaya perawatan Pak Gesang. Mengingat jasa beliau bagi Kota Solo yang dianggap sebagai tokoh yang memiliki jasa di bidang seni dan budaya dan telah melambungkan Solo sebagai kota Budaya ke mancanegara, maka Pemberian Kartu Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta ( PKMS ) katagori Gold diberikan kepada beliau selama dirawat. Kartu tersebut diberikan Gesang secara khusus. "Bapak Gesang merupakan pemegang kartu PKMS, kategori gold. Pemegang Kartu jenis ini biaya pengobatan yang akan ditanggung tidak terbatas," ujar Budi Suharto, Sekda Pemkot Solo.



Pemerintah Kota Surakarta mengambil kebijakan khusus untuk Pak Gesang dengan pertimbangan sebagai tokoh masyarakat Solo. Melalui karyanya " Bengawan Solo " beliau telah berjasa melambungkan kota Solo ke seluruh penjuru dunia lewat musik keroncong. Bahkan masyarakat Jepang sendiri telah mengundang Pak Gesang untuk tampil menyanyi di Jepang beberapa tahun lalu dan mendapatkan Bintang penghargaan dari Kaisar Akihito, Jepang ( 1992 ). Beliau juga mencipta Lagu/musik Seto Ohasi (diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang ( 1988 ).




Gesang lahir dengan nama lengkap Gesang Martohartono di Solo, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917. Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Muhammadiyah, Solo (1929.


Karena jasanya itulah maka pemberian kartu perawatan jenis Gold layak diberikan kepada beliau. Pihak keluarga yang diwakili Yani Effendi membenarkan bahwa selama Pak Gesang dirawat semua biaya perawatan ditanggung Pemkot Solo. Sejak dirawat beberapa hari di rumah sakit tersebut, kondisi kesehatan Gesang sempat membaik, bahkan sempat bisa berbicara. Namun, kondisi kesehatannya menurun sejak Kamis siang hingga mengembuskan napas terakhirnya. Gesang lahir dengan nama lengkap Gesang Martohartono di Solo, Jawa Tengah, 1 Oktober 1917. Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Muhammadiyah, Solo (1929).



PERJALANAN KARIER :
Pekerjaan :
- Pemain orkes keroncong
- Penyanyi
- Pencipta Lagu
- Membantu perusahaan batik orang tua ( 1935 – 1941 )
- Pengusaha Warung ( 1941 – 1945 )

KARYA :
- Lagu/musik : Keroncong Tembok Besar
- Lagu/musik : Keroncong Piatu ( 1938 )
- Lagu/musik : Keroncong Roda dunia ( 1939 )
- Lagu/musik : Bengawan Solo ( 1940 )
- Lagu/musik : Saputangan ( 1941 )
- Lagu/musik : Tirtonadi ( 1942 )
- Lagu/musik : Keroncong Pemuda Dewasa ( 1942 )
- Lagu/musik : Dunia Berdamai ( 1942 )
- Lagu/musik : Jembatan Merah ( 1943 )
- Lagu/musik : Dongengan Jawa ( 1950 )
- Lagu/musik : Sebelum Aku Mati ( 1962 )
- Lagu/musik : Keroncong Bumi Emas Tanah Airku ( 1963 )
- Lagu/musik : Langgam Luntur ( 1970 )
- Lagu/musik : Seto Ohasi (diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang ( 1988 )

PENGHARGAAN :
- Piagam dari Komando Wilayah Pertahanan (Kowilhan) II ( 1976 )
- Piagam Hadiah Seni 1977 dari Menteri Pendidikan & Kebudayaan RI (Mendikbud) ( 1977 )
- Penghargaan TVRI stasiun Yogyakarta ( 1978 )
- Piagam Penghargaan dari OISCA International Indonesia ( 1978 )
- Hadiah rumah Perumnas Palur dari Gubernur Jawa Tengah ( 1979 )
- Penghargaan PWI HUT XXXIX dan HUT VI Museum Pers Nasional ( 1985 )
- Penghargaan Walikota Surakarta, Dalam rangka Fespic Games IV ( 1986 )
- Bintang penghargaan dari Kaisar Akihito, Jepang ( 1992 )
- Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI ( 1992 ).



Selamat jalan Pak Gesang, semoga segala amal kebajikan yang telah Bapak perbuat mendapatkan balasan setimpal dari Tuhan Yang Maha Kuasa dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menerima musibah ini. Kami....warga Solo dan tentu juga warga pencinta musik Keroncong yang ada di Indonesia dan mancanegara menghantar kepergian Bapak menghadap Sang Khalik dan beristirahatlah dengan tenang di Makam Keluarga Hastana Pracimaloyo Makamhaji Sukoharjo Jawa Tengah.



Sumber tulisan : Joglo Pos dan diedit seperlunya.

Read More..

BENGAWAN SOLO MELUAP LAGI

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 01 Februari 2009 0 komentar




Akibat diguyur hujan hingga lebih dari 10 jam, air Sungai Bengawan Solo Jawa Tengah sejak Jumat malam (30/1) terlihat terus meluap hingga merambah pemukiman warga. Hingga Sabtu dinihari (31/1) ratusan rumah warga di sejumlah kawasan termasuk kampung hidup sehat dengan reiki di Klaseman Laweyan Solo, masih tergenang air sehingga warga harus mengungsi. Air baru surut Sabtu siang (31/1) dengan meninggalkan jejak banjir berupa tumpukan sampah dan lumpur yang menerjang perkampungan.

Luapan air Bengawan Solo mulai masuk pemukiman sekitar pukul 23.00 wib, setelah hujan deras mengguyur kawasan kota Solo sejak siang hari. Kawasan terparah terkena banjir ini terjadi di sejumlah kawasan bantaran Sungai Bengawan Solo, seperti Kampung Sewu, Jagalan, Pucangsawit, Jebres, Gandekan, Sangkrah, Semanggi, Joyotakan. Kawasan tersebut memang merupakan daerah langganan banjir.

Tak hanya di wilayah tersebut, luapan air juga terjadi di sejumlah kawasan yang berdekatan dengan anak Sungai Bengawan Solo seperti Laweyan, Pajang, Premulung, Tipes dan Baron. Akibatnya ribuan warga harus mengungsi ke lokasi lain untuk menyelamatkan diri, seperti sekolah, balai desa atau membangun tenda-tenda darurat di lokasi yang lebih tinggi.

Akibat luapan Sungai Bengawan Solo, sebelas ribu 2 ratus 86 rumah di kecamatan Jebres Banjarsari, Laweyan, Pasar Kliwon dan Serengan terendam air. Banjir di kota Solo kali ini diluar perkiraan merendam pemukiman yang tahun lalu tidak kebanjiran seperti di daerah Pajang dan Bumi Laweyan. Sampai Minggu sore (1/2) warga masih membersihkan tumpukan sampah yang berserakan di pemukiman dan jalan-jalan kampung.

Di Kabupaten Sukoharjo banjir melanda empat ribu seratus 30 keluarga di Kecamatan Gatak, Polokarto, Grogol, Mojolaban dan Kartosura. Sedangkan di Sragen Banjir melanda 34 desa di delapan kecamatan diantaranya kecamatan Sidoharjo, Sragen dan Gondang. Ribuan warga Solo dan Sukoharjo yang tinggal di pinggiran Bengawan Solo mengungsi di tenda yang dibangun di bantaran sungai atau posko di kelurahan setempat.

Hujan deras yang mengguyur menyebabkan air anak Kali Pepe yang bermuara di Bengawan Solo membanjiri sejumlah desa di Kecamatan Ngemplak. Sementara akibat luapan Sungai Bengawan Madiun yang bersatu dengan Sungai Bengawan Solo dan sejumlah anak sungainya juga merendam ratusan rumah warga di sejumlah desa di Kabupaten Madiun, Ngawi dan Magetan. Dilaporkan pula tanggul Sungai Pemali sungai terbesar di Kabupaten Brebes ambrol.

Banjir terbesar yang pernah terjadi merendam 2/3 luas kota Solo terjadi di tahun 1966. Selanjutnya banjir terulang kembali di tahun 2006. Saat itu perkampungan dan perkantoran di dalam kota termasuk ruas jalan utama dan jalan perkampungan terendam air selama 4 hari.

Sumber : hasil penyuntingan dan play back berita banjir redaksi tvri (1/2/09)
Foto : Arief Fajar Nursyamsu/ arief-disolo-com

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.