ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label kali jenes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kali jenes. Tampilkan semua postingan

MOTIF KAIN BATIK TULIS DAN CAP.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Senin, 20 Juni 2011 0 komentar



Dikerjakan dengan menggunakan canting yaitu alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk bisa menampung malam (lilin batik) dengan memiliki ujung berupa saluran/pipa kecil untuk keluarnya malam dalam membentuk gambar awal pada permukaan kain.

Masih menyinggung seputar batik pesisir tepatnya batik Pekalongan, ada baiknya sehat dengan kundalini reiki perkenalkan salah satu karya anak bangsa yang merupakan pusaka warisan leluhur yaitu Batik Cap, Motif Truntum, Batik Jlamprang dan Batik tiga Negeri. Tak beda dengan batik gaya Solo, Jogja, Lasem, Cirebon, batik Pekalongan sendiri ada juga yang dibuat dengan Cap. Memang sebelumnya batik di Indonesia mengalami perkembangan sesuai dengan jamannya yang dimulai dengan Batik Tulis yang dikerjakan oleh pembatik wanita dengan menggunakan Canting.



Canting diisi malam cair warna coklat tua lalu digoreskan ke kain putih mengikuti pola yang telah digambar oleh Tukang Gambar yang diistilahkan Tukang Nyoret. Goresan canting ini digerakkan oleh tangan pembatik wanita. Begitu halusnya goresan canting berisi malam atau lilin ini, mengingatkan keluarga sehat dengan kundalini reiki sendiri yang juga bekerja sebagai buruh batik. Bahkan di kala senggang saat itu, Ibu, Bude, Pakde bahkan Kakek dan Nenek selalu membatik dan mencap kain batik di malam hari tatkala anak-anaknya sudah tidur semua.



Dalam perkembangannya setelah ada canting lalu pembatik juga menggunakan cap. Cap di sini disebut canting cap merupakan alat berbentuk stempel yang digambar pola batik misal pola burung Hong, suluran daun dan ranting, bunga , bintang dan bola. Umumnya pola canting cap dibentuk dari bahan dasar tembaga tetapi ada juga yang dikombinasikan dengan besi.


Batik Cap dikerjakan dengan menggunakan cap (alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai dengan gambar atau motif yang dikehendaki). Untuk pembuatan satu gagang cap batik dengan dimensi panjang dan lebar : 20 cm X 20 cm dibutuhkan waktu rata-rata 2 minggu.

Melalui cap ini pembatik bisa menghemat tenaga dan tidak perlu menggambar pola atau desain di atas kain putih. Pola pada cap terbuat tembaga ini di desain oleh tukang pembuat cap. Mereka biasa menggambar pola batik di selembar kertas minyak putih lalu menuangkan kreasinya ini dalam sebuah cap batik.



Batik cap lalu mengalami perkembangan dengan diperkenalkan Cap Kayu terbuat dari kayu, ringan dijinjing lebih ekonomis serta mudah pembuatannya. Pola pada kayu ini diukir dan dibentuk seperti stempel pada cap tembaga. Hanya saja cap kayu ini tidak menghantarkan panas maka lilin (malam) yang menempel pada kayu lebih tipis dan hasil capnya sendiri di kain putih terlihat ada gradasi warna pada pola antara pinggir motif dan tengahnya. Sebaliknya cap tembaga lilinnya meresap ke serat kain sehingga polanya tercetak sangat tebal.


MOTIF TRUNTUM.

Mengunjungi sentra Batik Pekalongan ada baiknya kita perkenalkan juga motip Truntum yang merupakan simbol cinta yang bersemi kembali. Alkisah motif trumtum ini diciptakan oleh Seorang Ratu Keraton Yogyakarta. Sang Ratu yang dicintai dan dimanja oleh Raja suatu saat dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru.



Untuk menghilangkan kesedihan sambil mengisi waktu senggangnya, Ratu pun mulai membatik. Tanpa disadari karena galaunya pikiran Sang Ratu membuat motif berbentuk bintang-bintang di langit tinggi yang kelam. Sekelam perasaan Sang ratu saat itu yang hidup dalam kesendirian karena Sang Raja telah berpaling dari padanya.



Ketekunan Ratu dalam membatik akhirnya menarik perhatian Raja yang kemudian kembali mendekati Ratu untuk melihat proses membuat batik ini. Sejak saat itu Raja mulai memantau perkembangan pembatikan Sang Ratu, akhirnya sedikit demi sedikit kasih sayang Raja pun bersemi kembali di hati Sang Ratu. Motif batik Sang Ratu ketika menggoreskan cantingnya disebut motif Tum-tum kembali yang merupakan perwujudan lambang cinta Sang Raja yang bersemi kembali kepada Sang Ratu.



Kalau Anda sedang galau karena ada Pil/wil dalam kehidupan rumah tangga Anda sebaiknya meniru resep Sang Ratu ini yaitu membatik menorehkan pola Tum-Tum pada kain putih dengan harapan pasangan hidup akan kembali lagi ke pelukan Anda. Siapa tahu? Anda yang berminat belajar membatik bisa mengambil kursus membatik di Kampung Batik Laweyan Solo.


BATIK MOTIP JAMPLRANG.


Motif Jlamprang di Jogja disebut Nitik. Motif ini begitu populer di Pekalongan yang diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan perkembangan kain Potala dari India berbentuk geometris. Terkadang motif ini berbentuk bintang atau arah mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Pekalongan.



Motif Batik Tiga Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo. Pada saat pendudukan penjajah kolonial Belanda di lanjutkan Jepang setiap wilayah industri batik memiliki otonomi sendiri dan disebut Negeri. Perpaduan motif batik khas daerah masing-masing ini masih terlihat wajar bahkan biasa, tetapi yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi adalah proses pembuatannya.



Menurut para pembatik yang sudah berpengalaman menyimpulkan bahwa air tanah di setiap daerah sentra industri batik memiliki pengaruh besar terhadap pewarnaan batik. Ini wajar mengingat kandungan mineral air tanah berbeda menurut letak geografisnya. Daerah Pesisir seperti Lasem, Pekalongan dan Cirebon berbeda dengan daerah pedalaman Jogja dan Solo. Karena perbedaan air tanah ini maka dibuatlah batik sesuai dengan lokasi pabriknya. Di Lasem batik dibuat dengan warna khasnya seperti merah darah, setelah itu kain batik dibawa ke Pekalongan dan dibatik dengan warna biru, terakhir kain batik diwarnai coklat sogan warna khas batik gaya Solo.


MOTIF KAIN BATIK TIGA NEGERI.


Mengingat sarana transportasi zaman dulu tidak sebaik sekarang, maka Kain Batik Tiga Negeri dapat dikatakan sebagai salah satu masterpiece batik. Nama Batik tiga Negeri ini diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Sentra Kampung Batik Laweyan Solo. Jalan ini membentang dari utara ke selatan dan berakhir di Jembatan Kali Jenes Masjid Laweyan Solo. Mengingat batik merupakan aset penting sebagai karya asli Bangsa Indonesia sudah sepantasnya kita ikut melestarikan dan merawatnya dengan baik. Karena pentingnya batik sebagai identitas bangsa produk dalam negeri Indonesia,"Apakah Anda merasa bangga jika memakai batik sebagai busana kerja, santai dan pergi pesta undangan perkawinan di mana batik yang dikenakan merupakan karya adiluhung Bangsa Indonesia dan bukan bangsa lain? "

Read More..

MAS RUBIMAN SAHABATKU.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Jumat, 10 Juni 2011 0 komentar

Selama dua hari....sehat dengan kundalini kembali mampir ke kampung halaman setelah melakukan perjalanan dinas ke luar Jakarta. Tidak banyak perubahan yang terjadi di kota kecil ku, kota Solo yang tenteram, tenang sangat adem ayem sebagai kota untuk hening sejenak istirahat setelah melakukan perjalanan jauh ke luar kota. Hanya saja sekarang ini banyak angkutan ojek sepeda motor mulai beroperasi di kota ini menemani angkutan becak yang menjadi ciri khas kota Solo.



Dengan naik becak itulah saya mengulang memori indah Rabu sore 8 Juni 2011 di saat melakukan perjalanan menuju stasiun kereta api Solo Balapan seperti peristiwa dua tahun lalu dengan pengemudi becak yang sama yaitu Mas Rubiman. Bedanya cuaca kota Solo kemaren sore cukup cerah dimana matahari menyemburatkan sinar merah lembayung senja menyongsong Solo menjelang malam hari. Di kanan kiri jalan yang kami lewati, penjual angkringan khas kota Solo sudah mulai menjajakan dagangannya. Penjual dengan gerobak khas itu oleh wong Solo menyebutnya sebagai warung hik atau warung angkringan yang menjual wedang jahe, nasi kucing dan makanan ringan lainnya selain minuman air jeruk, kopi dan teh manis.



Awal tahun 7 Januari 2009 saat itu udara kota Solo tidak bersabat. Pagi hari matahari bersinar sampai waktu Lohor saja. Selepas itu hingga petang hari cuaca yang pagi cerah berubah menjadi mendung dengan awan hitam mengantung di atas kota. Menjelang Waktu Asar tiba sebuah alat transportasi khas kota Solo parkir di depan rumah hidup sehat dengan reiki di Kampung Klaseman, sebuah kampung yang masuk kawasan Kampung Batik Laweyan Solo Barat.



Ketika Mas Tukang Becak datang hujan sedang deras-derasnya turun di sore itu. Saya ajak Mas ini untuk masuk rumahku dan saya persilakan menunggu sebentar. Mengingat hujan semakin deras turunnya Mas tukang becak ini menyelimuti becaknya dengan terpal tebal agar tempat duduk jok becaknya tidak basah. Akhirnya hujan sedikit reda dan saya putuskan untuk segera berangkat ke Stasiun Kereta Api Solo Balapan dengan menumpang becak ini.



Kendatipun ada angkutan taxi, ojek sepeda motor juga motor milik kerabat, saya lebih nyaman naik becak ini. Ya..., kenyamanan naik becak ini memang sudah biasa saya rasakan manakala saya pulang kampung ke Solo. Bahkan keluargaku pun sudah akrab dengan Mas Tukang Becak ini. Kendati pun saya sudah meninggalkan kota Solo sejak 1976 sampai sekarang ini pun Mas ini masih tetap dengan profesi lamanya, pengayuh becak.


Becak sebagai angkutan umum bebas polusi yang dikayuh pengemudi becak masih tetap eksis di kota Solo sampai saat ini.


Angkutan murah, tidak bising, bebas polusi ini memang sudah akrab dengannya sejak tahun 1974. Jadi kalau dihitung-hitung sudah hampir 37 tahun Mas ini mengayuh becak untuk mencari sesuap nasi buat menghidupi keluarganya. Siapakah Mas ini? Dialah sahabat kecil saya ketika kami masih sama-sama duduk di sekolah dasar (sr) 6 tahun dulu. Seiring berputarnya roda becak menapaki jalan beraspal kota Solo yang basah karena hujan sore itu, berputar pula ingatan saya ke belakang ke masa kanak-kanak lalu remaja. Saat itu kami biasa bermain bersama-sama dengan teman-teman sekampung termasuk juga dengan Mas Rubiman pemilik becak yang sedang saya tumpangi ini.



Tahun 1962 Koes Bersaudara mulai meluncurkan hit pertamanya yang lagu-lagunya populer di kala itu seperti lagu Bis Sekolah, Telaga Sunyi, Dewi Rindu dan Angin Laut, Mas Rubiman sudah fasih menyanyikan lagu-lagu Koes Bersaudara ini. Bersama teman-teman sekampung pula kami biasa lek-lekan ( gaya orang Solo ketika malam bulan purnama tiba) dengan tidur agak larut malam. Waktu itu bermain bersama anak laki-laki dan perempuan di malam hari sudah biasa. Tidak saru kata wong Solo untuk menegaskan bahwa hubungan pertemanan antara anak remaja laki-laki dan perempuan adalah wajar di saat masih kanak-kanak. Mas Rubiman pulalah yang memberi tahu kepada kami agar nanti malam kita ngelar kloso ( menggelar tikar ) di halaman sambil bernyanyi lagu Koes Bersaudara.



Ketika desa tetangga sukses panen padi dan mengadakan syukuran dengan menggelar hiburan wayang kulit dan ketoprak, Mas Rubiman pula yang mengajak saya beserta teman-teman lainnya untuk menonton pertunjukan itu. Jangan ditanya suasana desa tetangga saat itu kondisinya. Tahun 1965 Desa Banaran, Cemani dan Jati belum ada listrik. Masih gelap gulita. Dalam kegelapan malam itulah kami membawa obor menyusuri pematang sawah untuk mencapai lapangan desa tempat hiburan rakyat itu digelar. Dan Mas Rubiman pulalah yang memandu kami agar hati-hati meniti pematang sawah yang licin.



Di hari Minggu adalah hari libur sekolah. Agenda hari itu adalah mengunjungi stasiun kereta api Purwosari yang terletak di Solo Barat. Bersama Mas Rubiman pulalah kami menumpang kereta api uap ke Stasiun Ceper di Klaten. Sampai di Stasiun Ceper kami bermain di stasiun sambil menungu kereta api uap balik lagi ke Solo. Tahun 1964 kereta api dengan lokomotip uap merupakan angkutan rakyat yang melayani trayek Solo ke Jatinegara Jakarta dengan singgah di Jogja.


Banjir besar melanda Solo tahun 1966 dimana 2/3 bagian kota Solo wilayah timur terendam banjir.


Bahkan ketika Bengawan Solo meluap dan membanjiri Solo tahun 1966 kami teman-teman sekampung bersama mas Rubiman melintasi banjir yang menggenangi Jalan Gatot Subroto dari Perempatan Pasar Singosaren menuju Perempatan Pasar Pon. Tidak ada rasa takut sama sekali, maklum saat itu anak-anak seusiaku sudah biasa mandi air Kali Jenes yang melewati kampungku. Jadi ketika banjir besar yang menenggelamkan 2/3 kota Solo itu aku dan teman-temanku termasuk Mas Rubiman bermain air banjir pula di tengah kota.



"Ketika sampeyan ke Jakarta dan teman-teman seusia kita pada merantau ke luar kota Solo aku tetap mengayuh becak. Ya, mau kerja apalagi kalau profesi ini yang bisa aku jalani. Tahun 1976 sampeyan ke Jakarta, aku bersama teman sekampung lain bekerja membatik dengan upah tak seberapa di samping ya...tetap mengayuh becak ini," kata Mas Rubiman seakan-akan menegaskan bahwa profesi tukang becak adalah pekerjaan mulia.



Memang ketika saudagar batik di kampungku membutuhkan tenaga buruh lepas untuk menolet ( memberi warna) pada kain putih sebelum dicap, Mas rubiman pula yang mengajakku bekerja paruh waktu. Pagi sekolah siang hari menolet di pabrik batik. Malamnya nonton televisi di rumah saudagar batik itu sambil membantu melipat tumpukan kain batik di gandoknya ( rumah samping ), sebelum diizinkan masuk ke Pendoponya untuk menonton televisi hitam putih yang menyajikan hiburan lepas senja dengan sajian lagu-lagu yang dinyanyikan Mbak Teti Kadi dengan iringan Ariyanto dari TVRI Jakarta dan hiburan Wayang Orang dan Ketoprak dari TVRI Jogjakarta.



"Aku tidak minder kok mengayuh becak ini. Inilah jalan untuk aku mengais rejeki Tuhan. Setiap hari dengan tetesan keringat aku kumpulkan rejeki ini untuk biaya sekolah anakku juga menghidupi anak biniku," masih kata Mas Rubiman sambil mengarahkan laju becaknya memasuki Stasiun Kereta Api Solo Balapan. "Betul Mas, tidak usah minder semua pekerjaan mulia asalkan kita tekuni dengan baik, jujur dan mengutamakan keselamatan penumpang," jawab saya menghibur Mas Rubiman.



Mumpung jadwal kereta masih lama dan Mas Rubiman tidak sedang dicharter orang, hidup sehat dengan reiki mengajak mampir ke warung nasi tumpang seberang stasiun kereta api. Nasi tumpang, tempe goreng, ayam goreng, empal daging dengan air teh manis menemani santap senja. Inilah makanan khas Solo. Di warung inilah kami membaur bersama tukang becak lainnya menikmati sajian makanan yang dipincuk sambil saling mengingat-ingat kejadian di kala kanak-kanak dulu.



Ingatan Mas Rubiman sungguh tajam. Ibaratnya tape recorder semua kejadian di masa silam masih diingatnya dan diceritakan kembali. Saya mengiyakan karena memang saya terlibat kejadian itu bersama Mas Rubiman. Kebersamaan ini sungguh berkesan di sore itu. Ketika pengeras suara stasiun kereta api mengumumkan bahwa jadwal kereta api tujuan Jakarta yang akan hidup sehat dengan reiki naiki tinggal 30 menit lagi berangkat, Mas Rubiman pamit dan saya selipkan uang lelah sebesar 5 kali lipat upah normalnya. Mas Rubiman terkejut..dan mengucapkan, " Matur nuwun sugeng tindak Mbak, mbenjing kepanggih malih, matur nuwun sanget," katanya seraya membungkukkan badannya. Artinya ....terima kasih selamat jalan Mbak, esok ketemu lagi, terima kasih banyak.



Saat itu aku tatap gerak laju becaknya keluar halaman Stasiun Kereta Api Solo Balapan. Begitu tegar kokoh berhati lembur sahabat kecilku ini. Sudah 37 tahun
keringat membasahi tubuhnya yang kekar sebagai pengayuh becak tapi Mas Rubiman tetap rendah hati. Hidup sehat dengan reiki hanya bisa mendoakan semoga Tuhan memberikan kesehatan jasmani kepadamu dalam menggeluti profesi ini. Selamat jalan Mas Rubiman Insya Allah saya datang ke Solo lagi. Masih banyak cerita masa remaja yang belum engkau tuturkan kali ini.



Foto Tukang Becak karya Mahwari Sadewa Jahutama.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.