Mendung
tebal masih saja menggelayut langit Jakarta dan sekitarnya Jumat pagi
tadi. Keinginan untuk berolahraga terpaksa ditunda saat kaki baru
melangkah keluar rumah, mendadak hujan turun dengan deras. Olahraga
urung dilakukan, dan sebagai gantinya saya lari ke tempat jemuran
pakaian untuk mengamankan pakaian yang baru saja dijemur agar tidak
terlanjur basah kena air hujan.
Matahari
pagi yang diharapkan muncul dan bersinar di ufuk timur yang beberapa
hari ini sengaja menyembunyikan wajahnya, kembali tertutup awan tebal.
Tentu saja tetangga saya Pak Panijan yang membuka usaha laundry terpaksa
memaksimalkan mesin pengering kain agar pakaian milik pelanggan yang
dititipkan padanya bisa segera kering dan diseterika. Pasalnya sukses
tidaknya usaha laundri memenuhi target pesanan orang yang mencucikan
pakaian, sangat tergantung pada kemurahan alam dari Tuhan YME, yaitu
teriknya sinar matahari untuk mengeringkan pakaian yang dijemur di
halaman.

