

Sejumlah besar ikan mati mengambang di danau Taal, dekat gunung api Taal di propinsi Batangas, Philipina yang sejak pekan terakhir Mei 2011 mulai menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Kematian ikan dalam jumlah besar di danau Taal ini pernah terjadi beberapa kali sejak tahun 2006 dan diduga akibat kenaikan suhu air menyusul aktivitas gunung api itu.
Sejak pekan lalu warga sekitar danau melihat ikan mati dalam jumlah besar. Warga setempat mengungkapkan kepada Reuters, telah mengumpulkan hingga berton-ton ikan mati mengambang dari danau Taal. Kematian ikan terus berlanjut seiring aktifnya Gunung Taal yang mengakibatkan kenaikan suhu air danau meningkat. Dalam catatan dinas vulkanologi Philipina, gunung ini pernah meletus beberapa kali sejak April lalu dan kini masih terus dalam pengawasan para pakar vulkanologi Philipina.
Kematian ikan dalam jumlah besar juga pernah terjadi di dermaga Redondo Los Angeles beberapa bulan lalu yang menyebabkan ribuan ton ikan sarden mati mengambang di areal dermaga.
Sumber : Reuters/Philippines in Dead Thousand of Fishs.
Read More..Pada musim semi 2010, lalu lintas penerbangan udara komersial di beberapa wilayah Eropa terganggu selama beberapa pekan oleh ulah letusan gunung berapi Eyjafjoell di Islandia. Erupsi kedua yang terbesar segera memuntahkan debu dan batuan setinggi 9.150 meter ke udara, mengganggu hampir 100.000 penerbangan. Meskipun para ahli gunung berapi sudah memperkirakan terjadinya erupasi Eyjafjoell sejak awal tahun 1800 -an, letusan yang terjadi tahun lalu itu tetap mengejutkan kalangan ahli vulkanologi.
Gunung berapi dekat glasier di selatan Islandia meletus. Letusannya mengakibatkan semburan asap dan debu ke daerah sekitarnya. Minggu (21/03/2010), Pemerintah Islandia mulai mengevakuasi pemukiman warga di sekitar gunung tersebut. Dimulai setahun sebelum letusan, ketika para ahli selama beberapa bulan mengawasi dengan seksama semakin melebarnya panggul gunung, pembengkakan seperti itu menjadi isyarat bahwa erupsi semakin dekat. Awal 2010 kekuatan dan jumlah gempa semakin meningkat sebagai indikasi bahwa magma sedang bergerak memasuki celah-celah di bawah puncak gunung.
Awal Maret 2010 mulai terjadi muntahan magma di pinggiran gunung. Aktivitas ini mengempiskan panggul gunung tetapi sekaligus menyebabkan banjir dan sejumlah evakuasi dilakukan terhadap penduduk yang tinggal di kawasan itu. Beberapa minggu kemudian pinggiran gunung perlahan mengempis dan tekanan pun berkurang. Tim pemantau gunung api menyatakan kondisi gunung Islandia mulai stabil.
Tetapi apa yang terjadi kemudian di luar dugaan para pengamat gunung api Islandia ini. Pada 22 April 2010 setelah dua hari tanpa aktivitas, erupsi kedua berupa letusan besar terjadi di puncak gunung yang tingginya 1600 meter itu. Terbentuk awan panas, magma bercampur gas merupakan materi yang berasal dari kerak bumi yang kemudian bereaksi dengan es, menambah kekuatan dan kedahsyatan letusan gunung itu.
Sebagaimana ditulis GeoWeek dalam situsnya, para ahli masih kesulitan menjelaskan mengapa erupsi yang kedua terjadi begitu dahsyat. Sepertinya ada sistem yang rumit dalam hal penyaluran magma ke kamar-kamar di dalam perut gunung. Akibatnya menyebabkan terjadinya dua jenis erupsi magma dalam peristiwa letusan gunung berapi yang sama yaitu Gunung Eyjafjoell di Islandia.
Perkiraan jangkauan awan abu pada 21 April 2009 setahun sebelum letusan hebat itu terjadi, meliputi kawasan daratan Eropa. Setelah gunung meletus negara yang terkena terpaan abu dan debu vulkanik mencakup daratan Inggris, Madrid, Spanyol, Perancis, Italia, Yunani, Ukrania, Jerman, Belanda, Belgia, Swedia, Norwegia, Finlandia, Rusia dan sejumlah negara di Eropa timur.
Akibatnya maskapai penerbangan di kawasan negara yang terkena limpasan abu vulkanik terpaksa membatalkan sejumlah penerbangan yang mengakibatkan transportasi di kawasan Eropa lumpuh hingga berminggu-minggu. Setelah kondisi normal baru ada satu maskapai penerbangan mulai uji coba penerbangan.
Sumber : GeoWeek Kompas.
Read More..Kalangan ilmuwan Islandia meyakini aktivitas letusan gunung berapi Eyjaf-Jalla-Jokul akan segera stabil meskipun aktivitas gunung berpotensi mengganggu lalu lintas penerbangan sipil. Berdasarkan penelitian debu vulkanik yang berada di atas ketinggian 3 kilometer akan terus terbawa angin barat menuju wilayah udara benua Eropa.
Kalangan ilmuwan Islandia sejauh ini telah mengevaluasi kandungan debu vulkanik yang telah berkurang cukup signifikan Jumat 23/4. Para pakar yang memantau perkembangan gunung berapi Eyjaf-Jalla-Jokul dalam 24 jam terkahir mengungkapkan, letusan semakin reda dan diprediksi aktivitas gunung tersebut akan segera stabil.
Kendati demikian debu vulkanik yang pada ketinggian di atas 3 kilometer akan mengarah ke wilayah Eropa. Sebagian besar kabut asap saat ini berada di bawah ketinggian 3 kilometer dan telah menyebar mengikuti arah angin. Kalangan ilmuwan juga memperingatkan level air menunjukkan peningkatan dan hal ini mengindikasikan es akan terus mencair.
Gunung api di bawah gletser atau bukit salju Eyjaf-Jalla-Jokul yang terletak di wilayah tenggara Ibukota Reykjavik meletus selama 6 hari terakhir. Kabut asap dan debu vulkanik akibat letusan gunung api di Islandia itu telah mengganggu lalu lintas penerbangan di wilayah udara Eropa. Berikut ini gambar kegiatan gunung api Eyjaf-Jalla-Jokul yang sempat diabadikan oleh Fotografer Kantor Berita AP.
Sumber : Garit/Iceland-Civil Protection.
Read More..Pesawat uji coba Jerman telah melakukan penerbangan ke wilayah udara Eslandia guna mengevaluasi situasi setelah letusan gunung api yang mengakibatkan gangguan lalu lintas udara di kawasan Eropa Utara 29/04 lalu. Namun pihak otoritas penerbangan Jerman DLR menyatakan kabut asap pada ketinggian 5 km masih tebal dan akan memungkinkan menutupi bandara-bandara di kawasan sebelah barat daya Eslandia.
Letusan gunung api Eyjafjallajokul yang terletak sekitar 120 km sebelah tenggara ibukota Reykjavik telah 9 telah mengakibatkan kekacauan jadwal penerbangan di kawasan Eropa selama enam hari. Dalam uji coba penerbangan, pesawat dari pusat dirgantara Jerman DLR telah mendarat di Eslandia dan hari itu juga telah kembali pulang ke Jerman.
Selama penerbangan pesawat Falcon 20E ini kalangan pakar memantau penyebaran dan kandungan kabut asap dan partikel debu vulkanik yang telah dimuntahkan gunung api itu. Doktor Oliver Reitbuch menyatakan kabut asap masih sangat kental pada ketinggian 5 km setelah pertengahan April mencapai 9 km. Jika arah angin berubah mungkin saja menutupi bandara-bandara sebelah barat daya Eslandia.
Debu yang dikeluarkan gunung berapi itu berupa partikel abu dan potongan kaca vulkanik yang kecil tapi tajam, dan dapat mencelakakan pesawat yang terbang melintasinya. Asosiasi Angkutan Udara Internasional atau IATA mengatakan tindakan pengamanan untuk melindungi penerbangan komersial itu membuat maskapai penerbangan rugi lebih dari 200 juta dolar per hari.
Sumber : Garit/Iceland - Flight Test.
Read More..