Kubu pemberontak Libya telah mendapatkan pelatihan senjata berat untuk anstisipasi serangan kubu pemerintah Khadafi. Kabar pelatihan bersenjata pemberontak tersebut akan menambah tekanan bagi kubu Khadafi. Pemberontak Libya yang berbasis di Misrata telah menerima pelatihan senjata berat untuk mengantisipasi sewaktu-waktu serangan yang dilancarkan pasukan pemerintah.
Tentara pemberontak telah lama berlatih dan kini mereka telah menjelma menjadi pasukan terlatih. Situasi ini secara diplomatik dan militer menguntungkan kubu pemberontak dan NATO yang mulai menunjukkan keputusasaan dalam menghadapi pasukan pemerintah. Sementara kubu barat berharap akan melakukan penyerangan mematikan untuk membuat frustasi pengikut Khadafi yang masih tersisa.
Secara umum kemajuan kaum pemberontak terhadap masa 41 tahun rezim Khaddafi berjalan lamban, sejak serangan NATO tiga bulan lalu. Namun tentara pemberontak mulai bergerak mendekati kota Tripoli. Sedangkan pemberontak yang berada di pegunungan barat daya membuat kejutan serangan ke kubu Khadaffi dalam beberapa pekan terakhir. Kaum pemberontak telah mencapai kota Bir Al Ghanam yang masih dikuasai kubu pemerintah Libya.
Sumber : Reuters/Libya Rebel Training.
Read More..Dua pengunjuk rasa anti pemerintah Yaman tewas dan ratusan lainnya cidera dalam bentrokan dengan aparat keamanan di kota Taiz, sebelah selatan ibukota Saana, Senin 04/04/2011. Korban berjatuhan setelah pasukan keamanan menggunakan peluru tajam dan gas air mata untuk membubarkan pengunjuk rasa.
Sepuluh orang pengunjuk rasa anti pemerintah Yaman terkena tembakan peluru tajam yang dilontarkan aparat kepolisian dalam bentrokan di kota Taiz. Dua di antara korban tewas tak dapat diselamatkan. Tim dokter yang menangani para korban menyebutkan, ratusan korban cedera lainnya harus menjalani perawatan karena menghirup gas air mata.
Gubernur propinsi Taiz menyangkal adanya korban tewas dalam insiden itu. Ia malah menyebutkan di antara korban terluka terdapat 8 orang tentara. Unjuk rasa anti pemerintah yang dipicu oleh aksi massa di Mesir dan Tunisia sebelumnya, telah mengakibatkan pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh nyaris jatuh ke ambang kehancuran.
Namun presiden yang tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan mundur itu malah menghimbau warga untuk menghentikan aksi kekerasan. Partai yang berkuasa juga menyatakan mereka belum menerima proposal rencana transisi dari partai-partai oposisi. Pihak oposisi sendiri mengusulkan agar Presiden Saleh menyerahkan kekuasaaan pada wakil presiden. Sementara itu langkah-langkah pembentukan pemerintahan bersatu nasional dan pemilu sedang dilakukan.
Sumber : Reuters/Yemen in Taiz Violence.
Read More..