ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label burung jalak bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label burung jalak bali. Tampilkan semua postingan

JALAK BALI.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 11 Desember 2011 1 komentar

Sejarah keberadaan Jalak Bali tidak bisa dilepaskan dari laporan penemuan
Dr. Baron Stressmann seorang ahli burung berkebangsaan Inggeris pada tanggal 24 Maret 1911. Atas rekomendasi Stressmann, Dr. Baron Victor Von Plessenn mengadakan penelitian lanjutan (tahun 1925) dan menemukan penyebaran burung Jalak Bali mulai dari Bubunan sampai dengan Gilimanuk dengan perkiraan luas penyebaran 320 km2. Pada tahun 1928 sejumlah 5 ekor Jalak Bali di bawa ke Inggris dan berhasil dibiakkan pada tahun 1931. Kebun Binatang Sandiego di Amerika Serikat mengembangbiakkan Jalak Bali dalam tahun 1962 (Rindjin, 1989).



Habitat terakhir Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat hanya terdapat di Semenanjung Prapat Agung (tepatnya Teluk Brumbun dan Teluk Kelor). Hal ini menarik karena dalam catatan sejarah penyebaran Jalak Bali pernah sampai ke daerah Bubunan - Singaraja (± 50 km sebelah Timur kawasan). Keberadaan burung jalak Bali masuk katagori apendiks satu atau hewan yang sudah langka dan jelas-jelas dilindungi.



Burung ini hanya ditemukan di Bali, kini sudah bertambah jumlahnya seiring suksesnya penangkaran yang dilakukan Mario Blanco seniman lukis putera Maestro Seni Antonio Blanco. Mario berupaya melestarikan dan mengembangan burung jalak yang mempunyai ciri khas khusus yaitu bulu berwarna biru di sekitar matanya ini, telah mulai menangkarkan jalak Bali sejak empat tahun lalu.



Diawali dengan sepasang indukan dan dibantu oleh empat karyawan yang bertugas merawat, burung jalak Bali kini jumlahnya telah mencapai tujuh puluh ekor. Untuk mendapatkan izin memelihara jalak Bali yang merupakan kebanggaan masyarakat Bali, Mario Blanco harus mendapatkan izin dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam- KSDA Pusat di Jakarta.


Jalak Bali - Rare bird highly protected. Sebagai jenis satwa endemik Bali, satwa tersebut hanya terdapat di Pulau Bali, saat ini hanya ada di dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat, hidup liar tidak pernah dijumpai dibelahan bumi manapun di dunia ini.


Di samping adanya musium lukis yang sering didatangi wisatawan asing, berbagai jenis burung dan ayam juga ada di halaman musium ini. Tidak jarang wisatawan yang tujuan utamanya mengunjungi musium menjadi berubah pikiran dan asyik bercengkerama dengan berbagai burung.



Menurut Wikipedia berbahasa Indonesia, Jalak bali ( Leucopsar Rothschildi ) adalah sejenis burung pengicau berukuran sedang, dengan panjang lebih kurang 25cm, dari suku Sturnidae. Di habitat (alam) Jalak Bali menunjukkan proses berbiak pada periode musim penghujan, berkisar pada bulan Nopember sampai dengan Mei.



Jalak Bali memiliki ciri-ciri khusus, di antaranya memiliki bulu yang putih di seluruh tubuhnya kecuali pada ujung ekor dan sayapnya yang berwarna hitam. Bagian pipi yang tidak ditumbuhi bulu, berwarna biru cerah dan kaki yang berwarna keabu-abuan. Burung jantan dan betina serupa ujud fisiknya.



Jalak bali hanya ditemukan di hutan bagian barat Pulau Bali.Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 10991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang.



Jalak bali ditemukan pertama kali pada tahun 1910. Nama ilmiah Jalak bali dinamakan menurut pakar hewan berkebangsaan Inggris, Walter Rothschild, sebagai orang pertama yang mendeskripsikan spesies ini ke dunia pengetahuan pada tahun 1912. Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung.



Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas, menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran jalak bali.



Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia/www.tnbalibarat.com/FTP

Read More..

PENERBANG LINTAS BENUA MENDARAT DI SINI.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Sabtu, 16 April 2011 0 komentar


Kuburan masyarakat desa Adat Trunyan. Kawasan ini terdapat Pohon Tarumenyan yang diyakini menyerap aroma bau busuk mayat sehingga mayat tidak bau ketika didekati.

TRUNYAN, INDONESIA - MARCH 21: Skulls are positioned at a village cemetery in Kuban, on March 21, 2007 near Trunyan, Bali resort island, Indonesia. Unlike the Balinese people, the people of Trunyan do not cremate or bury their dead but lay them out in bamboo cages to decompose. The stench is masked by the perfumed scents from a huge Banyan tree growing nearby. Trunyan ancient village is inhabited by people who call themselves "Bali Aga" or original Balinese who have maintained many of the old Balinese customs. (Photo by Dimas Ardian/Getty Images)

Kawasan Danau Batur dilihat dari arah Penelokan Kintamani. Nun jauh di bawah seberang danau bermukim Masyarakat Trunyan. Di kejauhan berdiri kokoh Gunung Batur, menyambut wisatawan berkunjung ke Kawasan Desa Trunyan.

Bali memang makin terang benderang namanya disebut warga belahan dunia di luar Indonesia. Tentu saja aura mistiknya selalu mengundang siapa saja untuk datang ke sini. Masih teringat dalam ingatan sehat dengan kundalini reiki tatkala mendapat tugas membuat film dokumenter budaya Masyarakat Trunyan tahun 1988 . Di daerah ini kita bisa melihat dan merasakan suasana mistis ketika kaki melangkah masuk ke areal pekuburan Desa Trunyan di mana mayat manusia dikuburkan di atas tanah tidak ditutupi dan dibiarkan saja membusuk.



Anehnya tidak ada aroma bau busuk mayat menyebar di areal makam ini. Yang ada hanyalah bau daun kering Pohon Tarumenyan yang jatuh berserakan di areal makam ini. Konon menurut cerita masyarakat adat Trunyan, bau mayat membusuk diserap oleh Pohon Tarumenyan sehingga bau busuk tidak menyebar kemana-mana. Itulah salah satu sisi magis dari keberadaan Pohon Taru Menyan yang legendaris itu.



Bali Aga bukan milik masyarakat Trunyan saja yang terkenal akan kuburan Trunyan. Namun Bali masih banyak menyimpan cerita unik lain berkaitan dengan satu kawasan tertentu yang sangat erat sekali hubungannya dengan kehidupan binatang. Tengok saja kawasan Lagoon seluas 30 hektar di kawasan Nusa Dua.



Lagoon saat itu menjadi tempat tinggal persinggahan burung yang terbang lintas benua. Setidaknya ada 77 spesies burung yang mendarat dan tinggal sebentar setelah itu terbang kembali meninggalkan kawasan ini. Menurut Made Mandra, Direktur Utama Bali Tourism Development Corporation ( BTDC ) Lagoon ini sekarang ini juga menjadi tempat tinggal beberapa jenis ikan. " Keberadaan ikan akhirnya mengundang berbagai komunitas burung untuk bermukim dan membuat ekosistem baru di wilayah ini, " katanya.



Kawasan pariwisata berbasis pada alam tampaknya akan diwujudkan di Lagoon ini. Lahan hijau terbuka yang tersisa di Kawasan Nusa Dua dibiarkan terbuka yang dapat diakses masyarakat umum. Dengan dibangunnya fasilitas pengamatan burung untuk pengunjung berupa menara pandang, dengan sendirinya akan membuat pengunjung betah berlama-lama mengamati tingkah polah burung hinggap di dahan pohon. Keunikan satwa lain seperti biawak kecil yang disebut alu pun ada di sini. Banyaknya burung lokal di tambah burung migran tinggal di Lagoon ini mulai dilirik wisatawan domestik dan mancanegara sebagai wisata pengamatan burung atau bird watching.



Pada bulan Oktober hingga November misalnya, dari Lagoon ini kita bisa menikmati dan mengamati burung-burung yang singgah dalam penerbangan mereka dari Siberia menuju belahan bumi Selatan. Karena itulah penerbangan burung ini disebut penerbangan lintas benua. Burung-burung Siberia seperti burung trinil dan cerek cukup banyak. " Kalau sekitar bulan Juni umumnya burung-burung dari Australia seperti jenis kirik-kirik dan cekakak suci terbang dan hinggap tinggal di sini beberapa saat lamanya, " ujar Deni Purwandana, seorang penggiat Komunitas Kokokan Denpasar seraya mengungkapkan Lagoon yang ada di Nusa Dua ini memang menjadi habitat bagus bagi burung-burung lokal dan tempat transit beberapa jenis burung migran.


Burung jangkung dengan warna dominan hitam, coklat dan putih sedang berjemur di pinggir kolam.





Kenapa burung memiliki peran penting bagi perkembangan ekosistem? Menurut Inspiratorial Kompas, satwa ini turut membantu penyebaran tumbuhan di suatu daerah. Dalam rantai makanan, posisi burung berada di bagian atas. Burung dianggap juga sensitip terhadap pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas makanannya.


Kawasan Lagoon sebagai surganya burung memanjakan mata bagi pencinta burung untuk mengabadikan ke dalam pita seluloid atau digital kamera.


Oleh para peneliti burung sering dijadikan indikator untuk menilai tingkat kerusakan lingkungan atau hutan. Penelitian burung sendiri di kawasan Nusa Dua sudah dilakukan beberapa tahun silam, antara bulan Januari 1999 sampai tiga tahun berikutnya jakni bulan Januari 2002.



Menurut Jurnal Elektronik Universitas Udayana Bali, mencatat pada penelitian tersebut ternyata berhasil diamati berbagai jenis burung yang hidup di kawasan itu dimana keberadaannya sangat mendukung pengembangan atraksi ekowisata pengamatan burung. Kesimpulan tersebut diambil para peneliti Unud dengan sandaran fakta bahwa 83 jenis burung ditemukan di kawasan ini.


Cakakan Sungai yang berada dipohon kering membuat formasi berjajar di batang pohon. Langit biru mengkilap sebagai latar belakang menggantikan dedaunan yang hilang.


Dalam persentasi angka tersebut mencapai 27 persen dari total spesies burung yang ada di Pulau Bali. Burung-burung itu banyak tinggal di daerah Lagoon. Burung yang ada di Nusa Dua sebagian besar merupakan burung non-migran yang jumlahnya mencapai 87 persen. Sementara burung migran sebanyak 13 persen dan burung endemik Indonesia sebanyak 6 persen.



Di luar Nusa Dua kawasan yang strategis untuk menjadi lahan konservasi burung dan dapat dikembangkan menjadi tempat wisata adalah sekitar Bedugul Bali bagian tengah. Objek yang mendukung lokasi ini adalah Kebun Raya Ekakatya, Danau Beratan, Danau Buyan dan Tambingan. Selain itu daerah Karangasem di Bali Timur yang banyak disinggahi burung-burung migran pemangsa seperti elang.



Atau Taman Nasional Bali Barat yang menjadi lahan konservasi jalak Bali ( culik Bali ) yang nyaris punah itu. Bila semakin banyak daerah di Bali dikembangkan sebagai habitat burung , liburan kita ke Bali makin variatip saja. Selain Anda dapat mengunjungi Penelokan di Kintamani sambil menikmati hamparan Danau Batur di mana di seberang danau tinggal Masyarakat Adat Bali Trunyan sebagaimana prolog postingan ini, Anda pun dapat melihat penangkaran burung Jalak Bali di Ubud.



Sumber : Inspiratorial Kompas ( diedit ) / Foto : Andry Khusnul/Dimas Ardian.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.