ON LINE

Followers

Tampilkan postingan dengan label batik lasem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label batik lasem. Tampilkan semua postingan

SEJARAH BATIK LASEM.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Senin, 22 Agustus 2011 0 komentar


Bila orang menyebut batik Jawa Tengah tentu segera menyebut Solo, Jogja, Pekalongan dan Banyumas sebagai sentra perajin batik. Padahal selain empat daerah tadi masih ada daerah lain yang juga menghasilkan batik tulis yang tidak kalah indahnya, yaitu Lasem. Di kota Lasem inilah sehat dengan reiki bersama teman-teman kerabat kerja produksi film, 28 tahun silam bertepatan dengan bulan puasa 1981, berkunjung dan menyapa penduduk di sini sekaligus melakukan liputan film akhir pekan untuk program televisi nasional dengan lokasi full kota Rembang Lasem dan sekitarnya.



Namun dalam kunjungan kedua kalinya saat ini, yang bisa saya saksikan dari Kota Lasem adalah tetap terpeliharanya warisan budaya Etnis China dengan koleksi rumah kunonya berjajar berhadap-hadapan di seluruh pelosok kota. Masing-masing rumah kuno ini dipagari oleh tembok tinggi yang mengelilingi bangunan utama terbuat dari batu bata dengan pintu gerbang tebal dari kayu jati kuno.



Kota kecamatan Lasem terletak 12 km arah timur Ibukota Kabupaten Rembang berbatasan dengan Laut Jawa sebelah Utara luasnya 45,04 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 44.879 orang ( Litbang Kompas, 2003 ). Di kota ini juga terdapat sentra industri batik kendatipun tidak setenar batik produksi Solo atau Jogja atau Pekalongan. Namun kehadiran Batik Lasem merupakan kebanggaan sendiri bagi penduduk kota nelayan ini.



Batik produksi Lasem bercorak khas dengan warna merah darah ayam yang katanya tidak dapat ditiru oleh pembatik dari daerah lain. Kekhasan lain Batik Lasem ini terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara Jawa Tengah serta Budaya Keraton Solo dan Yogyakarta. Konon para pedagang Tionghoa perantauan yang datang ke Lasem memberi pengaruh terhadap corak batik di daerah ini. Bahkan banyak pedagang ini yang kemudian beralih menjadi pengusaha batik di kota Lasem ini.



Menurut sejarah industri batik nusantara kehadiran batik Lasem ini sudah ada sejak berabad silam, sempat menjadi komoditi di Asia dan sempat mengharumkan kota Rembang. Awalnya batik Lasem ini menjadi batik Encim, batik yang dipakai oleh wanita keturunan Tionghoa yang berusia lanjut. Pengaruh keraton juga ikut mewarnai corak,motif dan ragam batik tulis Lasem ini. Terbukti dengan adanya motif/ornamen kawung dan parang.



Pengaruh budaya China terasa kental di sini. Sedang pengaruh masyarakat pesisir utara terlihat pada kombinasi warna cerah merah, biru,kuning dan hijau.Ketika membuat desain motif batik tulis para pengusaha batik Lasem sangat dipengaruhi budaya leluhur mereka seperti kepercayaan dan legendanya. Misalnya terdapat corak ragam hias burung Hong dan binatang legendaris kilin atau singa.



Bahkan cerita klasik Tiongkok seperti Sam Pek Eng Tey pernah menjadi motif batik tulis Lasem ini. Oleh karena itu batik tulis Lasem ini kemudian dikenal sebagai batik Encim tadi. Batik Lasem bisa bersaing dengan batik Solo karena motifnya yang unik dan pernah diekspor ke Suriname. Namun saat Anda datang ke Lasem dan mencari batik tulis Lasem akan mengalami kesulitan bagaikan mencari barang antik saja.



Memang sentra industri batik Lasem agak lesu mengingat pengusaha batik yang masih bertahan tinggal 12 orang saja. Pada masa kejayaan batik tulis Lasem setiap rumah tinggal orang Tionghoa mengusahakan pembatikan dengan merekrut tenaga pembatik dari daerah desa sekitar Lasem, seperti Sarang dan Pamotan. Tenaga kerja ini melakukan pekerjaan sebagai sambilan saat menunggu musim panen dan musim tanam padi di sawah.


Karena tenaga kerja yang direkut adalah petani desa sekitar Lasem, pada saat musim tanam dan panen padi mereka pulang ke desa. Akibatnya tenaga pembatik ini berkurang dan dengan sendirinya proses produksi batik terganggu. Anak pengusaha batik pun lebih senang bekerja sebagai pegawai kantor dan merantau keluar kota Lasem.



Menurut Sigit Wicaksono pengusaha batik tulis Lasem yang pernah diwawancarai Kompas beberapa waktu lalu mengatakan,"Teknologi sablon ikut andil mematikan Batik tulis Lasem ini. Batik sablon harganya sekitar Rp. 25.000,- per lembar jauh lebih murah dari batik tulis yang harganya ratusan ribu rupiah per lembar," katanya sambil terus bertahan menjadi pengusaha batik demi menghidupi karyawannya yang tinggal beberapa orang ini. "Kasihan kalau saya tutup pabrik ini, mereka akan bekerja di mana? ungkapnya.



Apakah batik tulis Lasem hanya akan tinggal kenangan saja mengingat generasi penerus pengusaha ini sudah tidak mau meneruskan usaha orang tuanya ini? Tentunya kita semua berharap kejayaan batik tulis Lasem akan tetap bertahan lalu bangkit menjadi besar kembali seperti jaman dulu. Entah kapan waktu yang akan menjawabnya.

Flash Back tulisan yang pernah terbit di blog lama 21/03/09.

Read More..

LASEM KOTA KENANGAN.

Diposting oleh BLOG SEHAT ALAMI Minggu, 21 Agustus 2011 0 komentar

LASEM KOTA ZIARAH SUNAN BONANG.


Matahari benar-benar terik membakar perjalanan sehat dengan reiki bersama kerabat kerja dalam kendaraan yang dipacu kencang selepas Kota Rembang. Siang tadi pemandangan yang bisa dijumpai selepas Rembang menuju Lasem adalah tambak garam milik penduduk yang terhampar di kanan kiri jalan raya. Dalam cuaca terik matahari menjelang asar, banyak petani garam sedang bekerja mengairi sawahnya dengan air laut yang merupakan modal pembuatan garam laut.



Ya kota Lasem tujuan perjalanan kali ini. Kunjungan ini adalah kunjungan yang kedua kalinya. Dua puluh delapan tahun ( 28 ) silam, tepatnya di bulan Juli 1981 selama hampir 1 bulan penuh, bersama kerabat kerja produksi film kami melakukan shooting film TVRI dengan mengambil lokasi Rembang, Lasem dan sekitarnya. Masih ingat saat itu bertepatan dengan bulan puasa yang mana cuaca Lasem begitu terik dengan panas matahari cukup menyengat di siang hari bolong.



Yang khas dari kota Lasem selama ini adalah keberadaan bangunan kuno khas Pecinan sampai saat ini masih dijumpai dan terawat dengan baik. Jangan membandingkan Lasem dengan Semarang dalam hal pertumbuhan tata kota ya? Lasem sudah maju dalam hal pertumbuhan tata kota kecamatan yang saat ini banyak berdiri pertokoan dan mini market bersanding dengan pasar tradisional. Yang jelas di tahun 1981 lalu, Lasem masih sunyi dan keramaian hanya ada di sepanjang jalan utama karena ruas jalan inilah satu-satunya jalan penghubung antara Lasem di Jawa Tengah ke Tuban di Jawa Timur dan sering dilalui bus antar kota dan truk pengangkut sembako.



Siang tadi kami tiba dan hadir di kota Lasem kembali. Menatap bangunan kuno khas Lasem di Kampung Sumber Girang yang ditemui adalah kesunyian layaknya kita berada di Perkampungan Kuno Tiongkok. Bangunan kuno yang 28 tahun lalu dijadikan lokasi shooting pun masih tertata rapi dan kesan kunonya makin terlihat manakala kita menyusuri gang-gang sempit di kampung ini.


Pintu gerbang kayu jati kuno sebagai penanda rumah khas Pecinan Lasem.


Bangunan kuno bergaya China dengan tembok tinggi melingkari halaman seakan-akan sedang menyapa kehadiran saya yang kedua kalinya di kampung ini.
Di dalam bangunan kuno itulah Aktor Farouk Afero, Conni Sutejo dan Fery Fadly yang kemudian terkenal sebagai pemain Sandiwara Radio Saur Sepuh beradu akting. Saat itu seluruh penduduk Kampung Sumber Giang tumpah ruah mendatangi lokasi shooting hanya sekedar minta tanda tangan aktor-aktris pujaannya.



Saya masih ingat pengambilan gambar waktu itu berlangsung selama 25 hari. Kebetulan Sang Pemilik bangunan kuno tempat lokasi shooting dilakukan adalah seorang Saudagar Batik Lasem. Beliau memimpin perusahaan batik dan menjadikan tempat tinggalnya sebagai pabrik batik di mana pekerjanya berkarya di dalam benteng ini.Di samping memproduksi batik di gudang milik saudagar ini juga tersimpan guci-guci kuno Tiongkok yang masih tertata rapi.



Memang kota Lasem merupakan kota tua penuh peninggalan masa lalu. Peninggalan kotanya bukan terkait dengan keberadaan Etnis Cina saja yang sudah bermukim turun temurun di kota ini, melainkan terkait juga dengan keberadaan Sunan Bonang sebagai salah satu Wali Songo penyebar agama Islam di Jawa.Lasem memang unik. Di kota ini kerukunan antara etnis Cina dan Jawa hidup secara berdampingan selama ratusan tahun terus terbina dengan baik. Mereka bahkan pernah bersama-sama berjuang mengusir Penjajah Belanda dari Tanah Jawa.


Gambiran Lasem Arsitektur rumah Kota Lasem yang khas dengan bangunan besar dan pintu kayu jati, dengan atap rumah yang tinggi, tiang penyangga dari balok jati kuno, ukuran tanah yang luas membuat suasana rumah menjadi sejuk dan nyaman. Foto Kompas.


Keberadaan Lasem sebagai jalur masuknya pendatang Cina dan penyebaran Agama Islam di wilayah ini menjadikan Lasem kaya akan peninggalan religi yang bersejarah. Peninggalan yang terkait dengan religi di Lasem digolongkan menjadi dua kelompok. Pertama agama yang dianut etnis pendatang Cina dan keberadaan Sunan Bonang sebagai salah satu Wali Songo penyebar Agama Islam di daerah pantura ini.



Tatkala berkunjung ke Lasem di tahun 1981 dulu, pernah terbayang dalam ingatan saya ketika ingin menelepon ke Jakarta saja memerlukan waktu tunggu 3 jam mengingat SLJJ nya masih memakai pesawat engkol. Oleh operatornya saluran telepon disambungkan dulu ke operator di Semarang baru disambungkan ke Jakarta. "Oh pantesan waktu tunggunya lama sekali," begitu celetuk rekan-rekan kerja waktu itu tatkala antri ingin menelepon ke kerabat di Jakarta malam hari.



Tapi itu dulu Mas/Mbak? saat itu hanya ada satu tempat telepon umum milik Telkom. Kalau sekarang wartel ada, bahkan warnet juga ada. Bahkan di perempatan dekat Masjid Agung Lasem pengojek sepeda motor, abang becak, bakul pasar terlihat memakai HP sebagai alat komunikasi orang modern. Saat ini HP sudah menjadi kebutuhan setiap orang dari berbagai kalangan sebagai alat komunikasi tanpa kabel.

KELENTENG DAN KOPI.



Keunikan Kota Lasem bukan hanya bangunan Kuno khas Etnis China saja. Di kota ini juga ada Klenteng Bie Yong Gio yang didirikan tahun 1780. Klenteng ini didirikan untuk menghormati pahlawan-pahlawan Kota Lasem dalam perang melawan VOC pada tahun 1742 dan 1750. Perang ini dipimpin oleh tiga orang pahlawan yaitu Raden Ngabehi Widyaningrat (Oey Ing Kyat) yang merupakan Adipati Lasem (1727-1743) dan menjabat Mayor Lasem (1743-1750).



Sebelumnya Raden Panji Margono seorang Islam Jawa yang menjabat Adipati Lasem 1717-1727. Yang terakhir adalah Tan Kee Wie seorang Pendekar Kungfu dan pengusaha Lasem. Perlawanan tersebut berhasil dipatahkan Kompeni atas bantuan pasukan dari Madura. Penghormatan pahlawan Islam-Jawa menunjukkan kerukunan antar Jawa-Cina sekaligus menunjukkan toleransi antar umat beragama yang cukup baik.



Setelah melakukan napak tilas mengunjungi kelenteng ini kita bisa istirahat sejenak menikmati kopi khas Lasem yang disebut kopi lelet. Disebut kopi lelet karena endapan air kopi digunakan untuk membatik (nglelet) di batang rokok. Alat untuk membatik bukan dari canting tetapi batang korek yang ujungnya runcing. Caranya minuman kopi dituangkan di piring alas cangkir. Lalu airnya diminum menyisakan endapan kopi.



Agar endapan lebih kering digunakan digunakan kertas tissue untuk menyerap air. Endapan kopi kemudian dicampur dengan susu kental manis agar lengket baru digunakan untuk ngleleti batang rokok. Keberadaan kopi lelet di Lasem menunjukkan kuatnya budaya membatik penduduk Lasem yang tidak dimiliki penduduk lain. Apa dan bagaimana batik Lasem dibuat, Insya allah akan ditulis di postingan berikutnya.



Flash Back tulisan yang pernah terbit di blog lama 21/03/09.

Read More..

SOFTWARE PSR.

ARUMSEKAR ON FACE BOOK.

REIKI LIKE

KOTA DAN NEGARA

STATISTIK ALEXA

About Me

Foto saya
Saya adalah manusia biasa seperti Anda juga yang sama-sama mengarungi hidup ini dengan menjalin tali persahabatan.Masih ingin belajar untuk meningkatkan pengetahuan khususnya bidang kesehatan alami. Karena itu saya tertarik belajar REIKI dan dengan REIKI pula saya belajar menyembuhkan diri sendiri dari gangguan penyakit. Namun demikian saya juga berteman dengan kalangan medis yang berprofesi dokter, perawat sekaligus sebagai Praktisi Reiki. Dengan merekalah saya belajar untuk menjadi manusia sehat baik jasmani dan rukhani. Senang melakukan perjalanan dinas karena tuntutan pekerjaan.

Blog Archive

ARUM ON BLOG SPOT COM.